Meraih Pahala Berlimpah di Bulan yang Penuh Berkah

Oleh: Mondzir Al Hasani, M.HI (Guru SMPIT Al Uswah Surabaya)

Ada 4 tipe sikap seseorang ketika berada di bulan ramadan. Pertama, bersungguh-sungguh beramal kebaikan, menetapkan target dan serius menuntaskan tergetnya. Kedua, bersungguh-sungguh menetapkan target tapi tidak mampu menuntaskan targetntya. Ketiga bersikap biasa saja dengan ramadan. Tidak menargetkan ibadah dan hidup mengalir sebagaimana biasanya. Keempat bersikap biasa saja dan semakin bertambah kemaksiatannya. Hal ini digambarkan di dalam sebuah hadits.

Rasulullah shlallahu alaihi wasallam bersabda:

إذا كان أولُ ليلةٍ من شهرِ رمضانَ صُفِّدَتِ الشياطينُ ومَرَدةُ الجنِّ ، وغُلِّقتْ أبوابُ النارِ فلم يُفتحْ منها بابٌ ، وفُتِّحَتْ أبوابُ الجنةِ فلم يُغلقْ منها بابٌ ، ويُنادي منادٍ كلَّ ليلةٍ : يا باغيَ الخيرِ أقبلْ ، ويا باغيَ الشرِّ أقْصرْ ، وللهِ عتقاءُ من النارِ ، وذلك كلَّ ليلةٍ

“Jika telah datang awal malam bulan Ramadan, diikatlah para setan dan jin-jin yang jahat, ditutup pintu -pintu neraka, tidak ada satu pintupun yang dibuka, dan dibukalah pintu-pintu surga, tidak ada satu pintupun yang tertutup, berseru seorang penyeru: wahai orang yang ingin kebaikan lakukanlah, wahai orang yang ingin kejelekan kurangilah. Dan bagi Allah membebaskan sejumlah orang dari neraka. Hal itu terjadi pada setiap malam.” (HR. Tirmidzi No.682)

Panggilan bagi orang yang mengnginkan kebaikan ini merupakan motivasi bagi kita untuk menjadi golongan yang pertama, yaitu orang yang menargetkan amal kebaikan dan bersungguh-sungguh untuk menuntaskannya.

Adapun kebaikan yang paling Istimewa di bulan Ramadan dan penting kita memprioritaskan dari target kita adalah amalan puasa. Puasa di bulan Ramadan merupakan amal kebaikan yang tidak ada bandingannya karena memang bulan Ramadan itu adalah bulan puasa. Di dalam hadis disebutkan

عن أبي أُمامةَ قال: أتَيتُ رسولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فقُلتُ: مُرْني بعملٍ يُدخِلُني الجنَّةَ، قال: عليك بالصَّومِ؛ فإنَّه لا عِدلَ له، ثُمَّ أتَيتُه الثَّانيةَ، فقال لي: عليك بالصِّيامِ

Dari Abi Umamah Ia berkata, saya datang kepada Rasulullah dan bertanya. Perintahkan saya dengan sebuah perbuatan yang membuat saya masuk surga. Rasulullah bersabda lakukanlah puasa karena sesungguhnya puasa tidak ada padanannya. Kemudian saya datang kepada Rasulullah untuk kedua kalinya dan Rasulullah bersabda kepada saya lakukanlah puasa (HR. Imam Ahmad No. 22149)

Di dalam hadis Qudsi juga dijelaskan keistimewaan puasa dengan diserahkan kepada Allah besaran pahalanya.

يقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ كلُّ عمَلِ ابنِ آدمَ له إلا الصيامَ فهو لِي وأنا أجزِي بِهِ إنَّمَا يتْرُكُ طعامَهَ وشَرَابَهُ مِن أجْلِي فصيامُهُ لَه وأنا أجزِي بِه كلُّ حسنةٍ بعشرِ أمثالِهَا إلى سبعمائِةِ ضعفٍ إلا الصيامَ فهو لِي وأنا أجزِي بِهِ

Rasulullah bersabda, Allah berfirma setiap perbuatan manusia kembali untuknya kecuali puasa. Puasa itu untukku dan aku yang membalasnya. Ia tinggalkan makanannya dan minumnya hanya karena aku maka puasanya untuuku dan aku sendiri yang akan membalasnya. Setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali kebaikan kecuali puasa. Puasa untuuku dan aku sendiri yang membalasnya (HR. Bukhori No. 1894)

Hadis ini menjadi dalil dilipatgandakan kebaikan di bulan Ramadan. Luar biasanya puasa bukan hanya dilipat gandakan. Lebih dari itu pahalanya tidak terbatas besarnya. Ini lah mengapa pahala orang yang berpuasa di bulan ramadan sangat melimpah. Selain puasa juga ada yang perlu juga kita bisa mendapatkan pahala yang berlimpah, yaitu memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa. Pahala orang yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa mendapatkan pahala yang sama tanpa dikurangi sedikitpun. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadis

من فطَّر صائمًا كان له مثلُ أجره، غير أنه لا ينقصُ من أجر الصائمِ شيئًا

Barangsiapa yang memberi buka puasa kepada orang berpuasa maka baginya pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa (HR. Tirmidzi No. 807)

Selain itu juga membaca al-Quran perlu kita menargetkan dan bersungguh-sungguh untuk menuntaskannya. Selain bulan Ramadan sebagai bulan puasa bulan Ramadan juga sebagai bulannya al-Quran. Jadi wajar kalau kita lihat ulama-ulama salaf dulu sangat memberikan perhatian penting kepada target membaca al-Quran di bulan Ramadan. Imam Syafii misalnya. Beliau menargetkan dan menyelesaikan target membacanya 60 kali dalam satu bulan. Begitu juga Imam Bukhori 60 kali khatam dalam bulan Ramadan.

Besarnya perhatian mereka terhadap membaca al-Quran selain bulan Ramadan adalah bulannya al-Quran pahala dari membaca al-Quran perhurufnya juga melimpah. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadis

من قرأ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ، والحسنةُ بعشرِ أمثالِها لا أقولُ (الـم) حرفٌ ولكنْ (ألفٌ) حرفٌ و(لامٌ) حرفٌ و(ميمٌ) حرفٌ

‘Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan alif lām mīm itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lām satu huruf dan mīm satu huruf’. (HR. Tirmidzi No. 2910)

Selain membaca al-Quran yang perlu juga kita targetkan dan sungguh-sungguh untuk melakukannya adalah qiyamul lail. Walaupun Sebagian ulama berpendapat shalat tarawih termasuk qiyamul lail berdasarkan hadis juga perlu kita menargetkan pendapat Sebagian ulama yang menyatakan qiyamul lail itu adalah sholat tahjjud.

Ada dua hadis yang spesifik menyandarkan ibadah Istimewa dengan bulan Ramadan. Yang pertama adalah puasa dan yang kedua adalah shalat malam. Sebagaimana di dalam hadis

مَن قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ

Barang siapa yang melaksanakan shalat malam di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala, maka Allah ampuni dosanya yang terlah berlalu (HR. Bukhori No. 2009)

Maka penting bagi kita menargetkan dan bersungguh-sungguh untuk memaksimalkan puasa, memberi makan orang yang berpuasa, membaca al-Qur’an dan mendirikan shalat malam di bulan ramadan ini. Walaupun masih banyak kebaikan yang lain yang perlu juga kita tingkatkan. Seperti shlat-sholat sunnah, infaq, sedekah dalam bentuk apapun dan kebaikan-kebaikan yang lain. Kareana tidak ada kebaikan yang sia-sia apabila itu dilakukan berasaskan Ikhlas kepada Allah.

Insprirasi Guru Lainya