Apakah Dunia Pendidikan Kita Baik-Baik Saja?
Oleh: Diana Agustin Tri Nugrahaeni, S.KM, S.Pd, Gr (Waka SD Al Uswah 2 Surabaya)
Setiap tanggal 2 Mei, masyarakat Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hari ini merupakan salah satu hari penting dimana merupakan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara merupakan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional setiap tahunnya untuk menghormati jasa tokoh pendidikan nasional Indonesia, Ki Hadjar Dewantara.
Model pendidikan yang dibawa oleh Ki Hadjar Dewantara, jika memang bisa diaplikasikan sebenar-benarnya bisa membawa mental pendidikan ke arah yang lebih baik. Namun, seiring berjalannya waktu benarkah pendidikan di negeri kita ini makin berkembang ke arah yang lebih baik? Atau pertanyaan yang lebih relevan, apakah pendidikan saat ini baik-baik saja?
Dunia pendidikan sebagai pilar utama dalam pembangunan sebuah bangsa kini sedang menghadapi masalah yang sangat mengkhawatirkan. meskipun dunia pendidikan dikenal sebagai sarana untuk membangun pribadi yang cerdas, berkarakter, dan bermoral, namun realitas di lapangan menunjukkan hal yang seballiknya. Berbagai kasus yang tidak bermoral banyak terjadi, mulai dari tindakan kekerasan, praktik kecurangan, hingga kekerasan seksual yang marak terjadi, baik yang dilakukan oleh pendidik maupun peserta didik. Ini sebagai bukti bahwa dunia pendidikan sedang tidak baik baik saja.
Kasus kasus seperti ini tidak hanya merusak citra lembaga pendidikan, tetapi juga menggambarkan bahwa adanya krisis nilai dan moral di kalangan insan pendidikan. Padahal seperti yang kita ketahui pendidikan bukan hanya sekedar proses penyaluran ilmu pengetahuan, melainkan sarana untuk membangun karakter dan kepribadian anak bangsa. Ketika para tokoh-tokoh pendidikan gagal mencerminkan nilai-nilai tersebut, maka dampaknya akan meluas pada masyarakat hingga generasi masa depan.
Fenomena bukan hanya mencerminkan persoalan individu, tetapi juga kegagalan sistematik yang melunturkan nilai esensi pendidikan sebagai sarana pembentukan kepribadian. Artikel ini akan membahas persoalan yang melanda dunia pendidikan, mencari akar permasalahan, dan menawarkan solusi agar pendidikan kembali pada fungsinya sebagai agen perubahan.
Akar masalah dalam permasalahan ini dapat ditelusuri dari berbagai aspek, mulai dari individu, sistem, hingga lingkungan sosial. Krisis moral menjadi salah satu akar utama, dimana peserta didik dan pendidik sering kali kurang memiliki pemahaman mendalam serta internalisasi nilai-nilai etika dan karakter.
Fokus pendidikan yang lebih mengutamakan nilai akademik mengabaikan pembentukan nilai nilai etika. Di sisi lain ketimpangan pendidikan di berbagai daerah menyebabkan pendidikan karakter tidak menjadi prioritas. lingkungan sosial, termasuk keluarga dan media, juga memberikan pengaruh negatif ketika tidak mendukung nilai-nilai moral.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan reformasi pendidikan yang menyeimbangkan pencapain akademik dengan pembentukan karakter, penguatan peran pendidik sebagai teladan anak bangsa, serta dukungan dari keluarga dan lingkungan seperti, masyarakat, dan pemerintah. Dengan langkah ini, pendidikan dapat kembali menjalankan perannya sebagai fondasi pembentukan generasi yang cerdas dan bermoral.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan tema khusus untuk memperingati Hardiknas setiap tahunnya. Pada tahun 2025, tema Hardiknas yaitu “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Melalui tema ini, pemerintah mengajak semua pihak untuk berkontribusi dalam menciptakan sistem pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas, demi masa depan yang lebih maju dan inklusif. Semoga pendidikan Indonesia makin merangkak naik dan merata untuk semuanya.
Penulis adalah Wakil Kepala Sekolah Al Uswah 2 Surabaya
Bidang Kurikulum dan Kesiswaan