Parenting Sinergi Orang Tua dan Sekolah Dalam Pendampingan di Masa Aqil Baligh
Oleh: Chairul Anwar (Guru SMPIT Al Uswah Surabaya)
Masa akil baligh adalah fase seseorang telah mencapai kedewasaan. Pada masa ini, anak Adam mulai mendapat beban taklif syariat. Umumnya fase ini berada di jenjang kelas 8 SMP. Oleh karena itu penting bagi orang tua maupun sekolah untuk mengawal anak-anak sebaik mungkin agar mereka memahami hak dan kewajibannya, serta mampu memikul tanggung jawab baik duniawi maupun ukhrawi.
Berdasarkan realitas tersebut, tema parenting kelas 8 SMP Islam Terpadu Al Uswah difokuskan pada masa akil balig. Ofrang tua dan sekolah perlu bersinergi mendampingi siswa di fase ini. Menurut pengakuan beberapa orang tua anak-anak lebih cepat balig secara fisik daripada akil. Dalam artian meskipun fisik menunjukkan kedewasaan namun sikap, tanggung jawab, dan pola pikir masih kekanak-kanakan.
Permasalahan ini perlu disikapi dengan serius. Karena perkembangan anak diperngaruhi oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal seperti emosi yang labil, kematangan berfikir yang masih kurang, serta kurangnya kesadaran akan tanggung jawab. Sementara itu faktor eksternal seperti pertemanan, keluarga, dan gadget turut membentuk perilaku anak. Jika dibiarkan maka tumbuh kembang anak akan semakin tidak ideal.
Parenting kali ini menekankan pada bagaimana menyikapi remaja masa kini, yaitu generasi Alpha. Meski belum ada konsesus dari ahli Psikologi perkembangan, namun pada umumnya sepakat generasi yang lahir tahun 2010 ke atas memiliki karakteristik akrab dengan gawai. Kondisi ini menuntut orang tua dan pendidik mampu mengarahkan gen Alpha memanfaatkan teknologi pada hal yang positif.
Salah satu kiat dari ustadzah Andham Asih Widyastuti, S.Psi. seorang konselor keluarga dan aktivis parenting adalah pentingnya komunikasi. Menghadapi para digital native, komunikasi merupakan senjata yang ampuh. Melalui komunikasi yang baik, orang tua maupun pendidik dapat melakukan pendekatan secara personal.
Saat kedekatan terbangun, orang tua maupun pendidik dapat memberikan arahan tanpa menggurui. Mengajak anak berfikir tanpa menyalahkan pendapat mereka. Sikap ini membuat anak merasa dihargai dan lebih terbuka. Sehingga permasalahan yang mereka hadapi dapat segera terselesaikan.
Komunikasi yang baik merupakan pondasi utama dalam menanamkan prinsip dalam hidup. Seperti keimanan, kesopanan, etika, sampai tanggung jawab pribadi. Jika anak usia remaja tidak mendapatkan ‘teman’ baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah, mereka akan mencari teman di luar. Tak jarang kita mendengar kabar seorang anak ditipu teman onlinenya, atau terjerumus ke dalam hal negative. Maka penting bagi orang tua maupun pendidik di sekolah waspada dengan berbagai pengaruh buruk yang mungkin menimpa anak.
Kembali pada permasalahan akil. Sekolah dan guru adalah mitra dalam mendidik buah hati. Komunikasi intensif dalam rangka sinergi antara sekolah dan orang tua sangat penting. Pendewasaan pemikiran sekaligus sikap bukanlah hal yang mudah. Butuh kerja ekstra dan berkelanjutan. Berbeda dengan perkembangan kognisi anak, yang dapat terlihat dengan beberapa kali stimulus.
Kemampuan memberi masukan, arahan, ajakan, nasihat, mengetahui kapan memberi reward dan punishment perlu selalu dilatih. Karena semua ini adalah seni dalam mendidik anak, perlu tarik ulur secara lembut dan indah. Melalui forum seperti inilah orang tua dan pendidik di sekolah belajar serta sharing pengalaman. Sehingga harapan akan kondisi akil yang ideal bagi anak-anak usia SMP dapat tercapai.