Di SDIT Al Uswah Surabaya Baru Kelas 5, Sudah Jualan Jasa, Kok Bisa?
Oleh: Emma Febryanti, S.E., S.Pd. (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)
Alhamdulillah, acara proyek 1 kelas 5 SDIT Al Uswah Surabaya berjalan dengan lancar. Acara service point yaitu berjualan jasa dengan tema Innovation (Inspirasi omset variasi jasa kreatif on fire). Proyek ini diawali dengan survey jasa yang diinginkan oleh para warga sekolah pada pekan ke-3 Agustus 2026. Kemudian dilanjutkan mengklasifikasikan jasa mana yang paling diminati. Selanjutnya tiap kelompok menentukan harga jual dan membuat poster melalui canva untuk promosi.
Pembuatan poster dilakukan saat jam pelajaran komputer sedangkan materi proyek saat jam tematik. Pada pekan ke-1 September 2026 setiap kelompok berlomba untuk mencari calon pelanggan mulai dari siswa kelas 3, 4, 5 dan 6 sampai para guru maupun karyawan. Baru kemudian, di kelas setiap kelompok belajar membuat poster dari karton untuk meja dan hiasan kepala. Setiap kelompok belajar menentukan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan. Acara besarnya pada Selasa, 8 September 2026. Dimana acara service point dimulai. Setiap kelompok berkumpul di lokasi yang ditetapkan kemudian mulai berjualan jasa.
Jasa apa saja yang ada di service point kelas 5? Ada 7 jasa seperti cuci motor, cuci sepatu, cuci helm,cuci botol, pijat, DIY gelang dan fotobooth. Total kelompok ada 15 kelompok dengan ketentuan 3 cuci motor, sisanya tiap jasa ada 2 kelompok.
Acara berjalan dengan meriah tepat pukul 08.30 diawali dengan pemotongan pita oleh Ustadzah Merryta selaku kepala sekolah. Kemudian barulah semua siswa bekerja sesuai dengan jobdesk masing-masing. Dari setiap kelompok, ada satu anak dijadikan kasir.
Banyak sekali pengunjungnya. Mereka ada yang mengabadikan momen dengan fotobooth melalui polaroid yang langsung jadi. Ada yang ingin memiliki gelang dan cincin dari manik-manik. Ada yang ingin sepatunya bersih? Maka sepatunya dibawa ke kelompok cuci sepatu. Ada yang badannya capek dan pegal? Maka jasa pijat solusinya.
Acara berakhir pukul 11 siang. Semua kembali ke kelas masing-masing. Kemudian dilanjutkan menghitung laba dan rugi dengan bantuan guru. Alhamdulillah hampir tidak ada yang rugi. Semua murid belajar untuk berjualan jasa, belajar mengenal banyak karakter, belajar kecewa jika tidak jadi pesan, belajar pantang menyerah saat menyelesaikan pesanan pelanggan dan selalu kompak dengan kelompok.
Seperti Rasulullah saw yang sejak dini sudah belajar berdagang. Beliau menghadapi beragam ujian selama berdagang. Begitu pula anak-anak, jadi anak-anak harus mengambil hikmahnya.
Belajar berjualan jasa dari Rasulullah saw mengajarkan bahwa kunci utama bisnis jasa terletak pada kepercayaan dan kredibilitas (Al-Amin), mengingat produk yang ditawarkan tidak berwujud. Melalui sifat kejujuran (Siddiq), komitmen pada janji (Amanah), komunikasi yang transparan (Tabligh), dan profesionalisme (Fathanah), seorang penyedia jasa dibentuk untuk tidak sekadar mengejar keuntungan materi, melainkan berfokus memberikan solusi terbaik yang mendatangkan manfaat serta keridaan bagi kedua belah pihak. Sampai jumpa di proyek berikutnya dari kelas lima.
Sumber: https://sdit.aluswahsby.sch.id/