Berkurban di Hari Raya Idul Adha: Momentum Mendidik Karakter Anak dengan Keteladanan
Oleh: Ilma Arrafi Nafi’a (Guru SD Al Uswah 2 Surabaya)
Anak-anak barangkali memandang kurban sebagai hari ketika makanan olahan daging favorit mereka tersaji di meja. Mungkin juga, saat mereka dapat menonton berbagai macam jenis binatang ternak di masjid-masjid sekitar rumah. Mereka menganggap kurban tidak sekadar salah satu hari raya yang dinantikan. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar dan alamiah. Sebagaimana Jean Piaget menyebut tahap ini sebagai concrete operational stage. Anak-anak telah mampu berpikir secara konkret tapi terbatas pada yang dialami dan dirasakannya oleh panca indera.
Padahal, kurban dapat menjadi sebuah momentum berharga untuk menyalurkan berbagai pembelajaran karakter dan pengalaman bagi anak-anak. Kurban sendiri adalah peristiwa legendaris yang dikekalkan oleh Allah dalam Al Quran. Sebuah kisah yang tidak hanya mengandung kebaikan ayah dan anak saja tetapi juga keteladanan.
Surat Yusuf ayat 111 menyebutkan bahwa, ‘sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat.’ Penggalan ayat ini menegaskan bahwa tidak ada kisah-kisah dalam Al Quran yang hanya dihadirkan untuk sebuah narasi saja, tetapi agar manusia mampu mengambil hikmah dan pembelajaran. Apalagi pada kisah yang telah jelas kita ditetapkan untuk meneladaninya lewat perbuatan yang sama. Maka tentu tidak hanya sebagai percontohan saja tetapi untuk digali, dimaknai, dan diterapkan nilai-nilainya.
Kurban menjadi wujud ketaatan seorang hamba. Pada kesempatan inilah, baik sebagai orang tua maupun pendidik, dapat menjadikan kurban sebagai peristiwa perwujudan karakter yang diridhai Allah sebagai Tuhan kita. Kurban tidak hanya sekadar memotong hewan kurban, tetapi dapat dimaknai sebagai pertukaran nikmat duniawi pada ukhrowi.
Anak-anak belum tentu menangkap makna ini melalui penceritaan semata. Namun, anak-anak mungkin mampu mengeksplorasi nilai ini saat diajak untuk turut berbuat, misalnya menyisihkan tabungan untuk kurban. Masih dengan konsep pemikiran kognitif milik Piaget, anak-anak berada pada tahap berpikir operasional konkret yakni mereka memahami operasi (logis) dengan bantuan benda-benda konkret. Menurut Alhaddad (2012) operasi dengan bantuan benda-benda konkret adalah tindakan atau perbuatan mental mengenai kenyataan dalam kehidupan nyata.
Mengajak anak-anak menyisihkan uang saku untuk kurban mendorong mereka merasakan pengalaman dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail itu sendiri. Ketika uang saku yang biasanya mereka peruntukkan untuk mengenyangkan diri dengan kue-kue kesukaan atau mainan yang menyenangkan hati akhirnya ditukar dengan perjuangan mengumpulkan uang untuk sebuah hewan kurban. Hal ini akan membuka pemikiran mereka bahwa ketaatan kepada perintah Tuhan memang tidak mudah dilakukan, tetapi mereka akan menyadari bahwa mereka mampu melakukannya saat berhasil melihat hasil nyata uang yang mereka sisihkan. Pada saat inilah, tahap pemikiran concrete operational stage terjadi. Anak-anak tidak hanya berhenti pada bayangan ketaatan yang dilakukan oleh nabi mereka, tetapi juga pengalaman bahwa mereka melakukan hal yang serupa.
Kurban juga menjadi wujud karakter ikhlas yang dapat dicontohkan kepada anak-anak. Ketika mulai menyisihkan tabungan untuk wujud hewan-hewan yang akan dipotong, mereka akan mengetahui bahwa nominalnya tidaklah kecil. Dibutuhkan uang jajan berminggu-minggu untuk dapat mewujud hewan kurban. Dari sinilah, anak-anak diajak secara langsung untuk menumbuhkan karakter ikhlas. Uang saku yang menjadi hak mereka untuk digunakan sebebas mungkin akhirnya terpotong untuk menjadi hewan kurban. Mereka juga akan menyadari bahwa berkurban bukan hanya tentang seberapa besar hewannya, tetapi keinginan menyisihkan uang mereka dengan tulus.
Anak-anak tidak perlu terpaksa menyisihkan uangnya setiap waktu. Dengan menyerahkan tanggung jawab mengisi kaleng kurban mereka sendiri, anak-anak akan mungkin untuk berkesadaran dan menyisihkan sesuai keinginan mereka. Hal ini didorong juga oleh pemikiran kognitif tahap ini, anak-anak telah berkurang egoismenya. Ia telah mampu berbagi dan menyisihkan kesenangannya untuk orang lain. Tabungan kurban menjadi salah media untuk memfasilitasi pertumbuhan karakter ini.
Apalagi jika ditambahkan keteladanan dari orang-orang di sekitar mereka seperti orang tua maupun pendidik. Sebab anak-anak senang sekali melihat dan mencontoh langsung apa yang ada pada lingkungan mereka. Orang tua dan pendidik yang senang memberi akan membentuk anak-anak yang peka pada lingkungan dan mau berbagi. Mereka seringkali menganggap orang dewasa di sekitar mereka sebagai orang-orang keren karena itulah anak-anak senang berperilaku serupa.
Kurban tentunya tidak berhenti pada kisah masa lalu saja dan perintah Pencipta. Namun, juga menjadi wadah sekaligus momentum yang dapat menumbuhkan karakter positif sebagaimana yang tertera dalam Al Quran. Maka, menggunakan kesempatan berkurban sebagai pembelajaran adalah rahmat bagi setiap orang. Tergantung manusianya, akan dilaksanakan atau hanya menjadi bacaan semata? (il)
Sumber: https://sd2.aluswahsby.sch.id/