Habis Gelap, Terbitlah Cahaya Fitrah
Oleh: Sulaikah Kurniawati, S.Si (Wakasis SDIT Al Uswah Surabaya,)
Setiap bulan April, pemandangan kita biasanya tak jauh dari deretan kebaya anggun dan konde yang tertata rapi. Namun, jujur saja, perjuangan Kartini yang sesungguhnya jauh melampaui urusan busana atau sekadar parade setahun sekali. Jika kita menyelami lebih dalam, esensi dari perjuangan beliau adalah tentang memerdekakan pikiran dari gelapnya kebodohan menuju terangnya cahaya ilmu dan iman.
Bagi seorang Muslimah, cerdas itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan kita bahwa, “ Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim ” (HR. Ibnu Majah). Kecerdasan ini bukan untuk gagah-gagahan di atas podium atau ajang kompetisi mencari validasi, melainkan bekal agar kita bisa menjadi madrasah yang tangguh bagi generasi masa depan. Kecerdasan ini pun harus dibungkus dengan ketaqwaan dan fisik yang bugar. Karena untuk menebar manfaat dan mendidik anak-anak tanpa rasa lelah yang berlebihan, kita butuh raga yang kuat dan hati yang terus terpaut pada Sang Pencipta.
Di tengah riuhnya arus feminisme yang seringkali menuntut kesamarataan mutlak, kita justru perlu kembali menengok ke dalam diri. Kita harus berani berkata bahwa menjadi perempuan yang berdaya bukan berarti harus menjadi “laki-laki kedua”. Allah subhanahu wata’ala sudah sangat indah mengatur porsi kita masing-masing dalam Surah An-Nisa ayat 32, yang mengingatkan agar kita tidak iri hati pada kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian orang di atas yang lain. Sebab, laki-laki dan perempuan memiliki bagiannya masing-masing dari apa yang mereka usahakan sesuai fitrahnya.
Ingatlah bahwa peradaban tidak dibangun oleh perempuan yang sibuk mencari persamaan, tapi oleh mereka yang sibuk memaksimalkan peran sesuai fitrahnya. Kita tidak sedang berlomba lari di lintasan yang sama dengan laki-laki, tapi kita sedang berbagi peran untuk menjaga agar rumah besar bernama peradaban ini tetap kokoh berdiri. Saat seorang Muslimah tahu posisinya sebagai pendidik pertama dan penjaga nilai di dalam rumahnya, di situlah ia sedang membangun batu bata kebaikan yang tak terhingga nilainya.
Pada akhirnya, kita berkarya bukan untuk mencari tepuk tangan dunia, melainkan untuk mengejar janji Allah swt dalam Surah An-Nahl ayat 97, yang artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.“
Jadi, mari menjadi Kartini masa kini yang bangga dengan identitasnya; yang cerdas berpikir, tangguh berkarya, namun tetap teguh memeluk kodratnya sebagai hamba Allah yang mulia.