Jejak Pembina Pramuka Sekolah Islam Terpadu: Menemukan Kembali Ruh Perjuangan di Cibubur
Oleh: Sulaikah Kurniawati (Sekretaris Pinsakoda JSIT Jawa Timur/Guru SDIT Al Uswah Surabaya,)
Maha Suci Allah subhanahu wata’ala yang memperjalankan hamba-Nya yang dhaif ini ke Cibubur. Sebuah perjalanan yang terasa berat di awal, namun justru meringankan pikiran di akhir. Mark Twain pernah berkata, “Seseorang harus bepergian untuk belajar.” Bahkan secara istimewa, Allah SWT menitipkan perintah untuk berjalan di bumi dalam surat Al-Ankabut ayat 20.
*Menjemput Amanah di Buperta Cibubur*
Selasa, 30 Juni 2026, saya bersama 12 pembina dari Malang, Lumajang, Jombang, Madiun, dan Magetan bertolak menuju Buperta Cibubur untuk mengikuti Mudzakarah Pelatih dan Pembina Pramuka Nasional (MP3N). Meninggalkan kenyamanan rumah dan pekerjaan di sekolah Al Uswah Surabaya untuk tugas sebagai sekretaris Pinsakoda SIT Jawa Timur sempat membuat kepala pening dan overthinking. Namun, zikrullah menjadi penenang ajaib. Dengan menyerahkan semuanya kepada Sang Pemilik Takdir, saya belajar berdamai dengan “huru-hara” amanah ini. Kami tiba dengan selamat pada Rabu, 1 Juli 2026, pukul 3 pagi.
*Tenda Pleton 5: Kebersamaan dari Sabang sampai Merauke*
Saya ditempatkan di Tenda Pleton 5, yang anggotanya benar-benar datang dari Sabang sampai Merauke. Tanpa sekat, kami langsung mengakrabkan diri. Tidak ada istilah piket yang kaku; semuanya saling menawarkan bantuan dan berbagi perbekalan. Sungguh pengalaman yang sangat exciting!
*Pramuka sebagai Laboratorium Karakter*
Di sela keakraban tersebut, saya mendapatkan banyak wawasan fundamental dari para pemateri hebat, seperti Kak Fikri, Kak Layyin, Kak Sukro, Ustadz Abdul Aziz Abdul Rouf, dan lainnya. Berikut adalah 13 poin refleksi penting yang berhasil saya rangkum:
- *Pentingnya Karakter:* Membangun karakter membutuhkan waktu yang lebih lama dan keterlibatan banyak orang dibandingkan menuntaskan akademik yang bisa dibantu guru les atau bimbel.
- *Framework 3-5-7-9-11:* Mengingat kembali visi besar Sekolah Islam Terpadu (SIT) sebagai tanmiyatul kafaah, nasrul fikroh, dan kasbul maisyah.
- *Pilar Pembinaan Karakter:* Empat pilar Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia yakni Bina Pribadi Islam, Kepemimpinan, Prestasi, dan Sako Pramuka SIT, dengan harapan siswa mencapai status Garuda dan Pelopor Kebaikan.
- *Tiga Pembinaan Utama:* Tiga hal yang tidak boleh gagal di SIT adalah pembinaan Al Quran, BPI, dan Pramuka sebagai bagian dari pembentukan karakter.
- *Sejarah Sako SIT:* Sako SIT didirikan pada 25 November 2010 setelah sebelumnya bernama Pandu SIT yang sempat terkendala aturan legalitas perkemahan pada tahun 2008.
- *Esensi Dakwah:* Esensi dakwah adalah titik kulminasi kebaikan untuk mengharapkan perjumpaan dengan Allah, sehingga jangan berharap istirahat kecuali istirahat yang sempurna.
- *Fokus dalam Dakwah:* Tidak ada sesuatu yang dihasilkan jika kita tidak fokus.
- *Alam sebagai Laboratorium:* Pemanfaatan alam terbuka sangat disarankan untuk internalisasi nilai-nilai keislaman karena alam adalah laboratorium karakter.
- *Formal vs Non-Formal:* Adanya kerancuan saat ini di mana Pramuka yang bersifat non-formal justru mendapatkan ulangan dan nilai angka, padahal seharusnya lebih berfokus pada kompetensi dengan metode kepramukaan.
- *Sejarah Pangkalan:* Gugus depan Pramuka yang awalnya berbasis instansi negara, sejak tahun 1960-an mulai berpangkalan di sekolah-sekolah.
- *Tantangan Pramuka:* Menghadapi digital dinamis yang menuntut interaktif, kebebasan berekspresi, serta ekspektasi orang tua akan output nyata.
- *Adaptasi Pramuka:* Harus adaptif dan tidak terjebak pada Pramuka 1961 agar generasi Z dan Alpha tetap tertarik, serta memastikan Dasa Dharma direalisasikan dengan cara baru yang relevan dan berdampak.
- *Sako sebagai Sarana Dakwah:* Pembina SIT harus aktif di kwartir namun tetap mempertahankan kekhasan nilai keislaman, salah satunya melalui pendekatan tematik SKU seperti sirah Nabi, sahabat, pahlawan muslim, penakluk muslim, dan negara pejuang.
*Menemukan Kembali Ruh Perjuangan*
Acara ditutup dengan konser perjuangan yang sangat menyentuh. Melalui nasyid-nasyid heroik yang dibawakan munsyid legendaris Ar Ruhul Jadid, semangat kami seolah tersulut kembali.
Setelah lelah dalam pusaran duniawi yang tak habisnya, Allah seakan lembut berbisik, “Kamu ke mana saja? Kembalilah berjuang dengan berharap ridho-Ku. Kamu belum selesai di dunia ini.”
Ya Allah, hamba malu. Semoga semangat perjuangan ini dapat kami bawa kembali ke ruang-ruang kelas di Al Uswah Surabaya, demi melahirkan generasi pembawa kebaikan