Mendidik Remaja Ala Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam
Oleh: Mondzir Al Hasani, M.HI (Guru SMPIT Al Uswah Surabaya)
Salah satu karakteristik remaja secara umum adalah munculnya ketertarikan terhadap diri sendiri dan ketertarikannya dengan orang lain. Mereka sangat menyukai apabila mereka dihargai dan menjadi pusat perhatian orang lain. Sebaliknya mereka sangat tidak senang ketika mereka merasa disepelekan ataupun keberadaanya kurang dihargai.
Beberapa kasus kejahatan yang remaja lakukan seringkali dipengaruhi karena kurangnya perhatian orang lain. Baik orang tua, guru, dan teman-temannya. Seperti yang dikabarkan detik Jatim, Sabtu (4/5/2024) bahwa ada tiga remaja perempuan yang mabuk di Tengah sawah. Ketika dikonfirmasi kekeluarganya ternyata 3 remaja perempuan ini dipengaruhi kurangnya perhatian dari orang tua di rumah. Di samping itu juga banyak remaja melakukan hal yang menyimpang seperti judi online. Padahal mereka mendapatkan perhatian dan didikan yang cukup dari orang tuan dan guru-gurunya. Sebagaimana Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melaporkan bahwa 4.514 anak usia 11-16 tahun diduga melakukan judi online. Padahal tidak semua dari mereka termasuk remaja yang kurang perhatian dan didikan dari orang tua dan guru-gurunya. Bisa jadi Pendidikan dari orang tua dan gurunya tidak memberikan dampak yang efektif kepada remaja sekarang karena ada metode yang kurang tepat saat mendidik mereka saat ini.
Lalu bagaimana cara yang tepat dan efektif untuk mendidik remaja saat ini. Sekitar 14 abad yang lalu Rasulullah mencontohkan bagaimana mendidik remaja dengan baik sebagaimana yang tertulis di dalam Musnad Imam Ahmad Nomor Hadis 22265
“إن فتًى شابًّا أتى النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله، ائذنْ لي بالزنا، فأقبل القومُ عليه فزجروه، قالوا: مه مه، فقال – صلى الله عليه وسلم -: ((ادنُهْ))، فدنا منه قريبًا، قال: فجلس، قال: ((أتحبه لأمِّك؟)) قال: لا والله، جعلني اللهُ فداءك، قال: ((ولا الناسُ يحبونه لأمهاتهم))، قال: ((أفتحبُّه لابنتك؟))، قال: لا والله يا رسول الله، جعلني الله فداءك، قال: ((ولا الناس يحبونه لبناتِهم))، قال: ((أفتحبُّه لأختك؟)) قال: لا والله، جعلني الله فداءك، قال: ((ولا الناس يحبُّونه لأخواتهم))، قال: ((أفتحبُّه لعمَّتك؟)) قال: لا والله، جعلني اللهُ فداءك، قال: ((ولا الناس يحبونه لعمَّاتهم))، قال: ((أفتحبه لخالتك؟))، قال: لا والله، جعلني الله فداءك، قال: ((ولا الناس يحبونه لخالاتهم))، قال: فوضع يدَه عليه وقال: ((اللهم اغفر ذنبَه، وطهِّر قلبَه، وحصِّنْ فرجَه))، فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء”؛
Suatu hari seorang pemuda datang menghadap Nabi. Di hadapan Nabi, pemuda itu berkata “Ya Rasulullah izinkan saya berzina”. Mendengar permintaan pemuda itu, para sahabat mengusirnya dari hadapan Nabi, pergi-pergi, gertak sahabat. Melihat sahabat mengusirnya, Nabi berkata kepada pemuda itu mendekatlah. Maka pemuda itu lebih mendekat kepada Nabi. Setelah pemuda itu duduk di dekat Nabi, Nabi Membisikkan kata kata: Apakah engkau senang jika zina itu terjadi pada Ibumu? Pemuda itu menjawab, demi tuhan saya tidak rela. Kemudian Rasulullah bersabda ” bukan hanya kamu, seluruh manusia tidak rela jika itu terjadi pada ibunya”.
Nabi kembali bertanya: Bagaimana kalau itu terjadi pada putrimu? Pemuda itu menjawab, “Demi Tuhan saya tidak rela”. Maka Nabi bersabda, Semua manusia juga tidak rela jika itu terjadi pada putri-putrinya”. Nabi kembali bertanya, bagaimana jika itu terjadi pada saudari-saudarimu, bibi mu? ketika pemuda itu menjawab, Demi tuhan saya tidak rela, Nabi pun bersabda “Semua manusia juga tidak rela jika itu terjadi pada saudari dan bibi mereka.
Mendengar jawaban-jawaban pemuda itu, Nabi meletakkan tangannya di tubuh pemuda itu, seraya berdoa “Ya Allah ampunilah dosanya, sucikan hatinya, jagalah kemaluannya”. Berkat, perlakuan nabi yang lemah lembut dan doanya, dikisahkan pemuda itu tidak lagi “tolah-toleh ” kepada siapapun.
Dari hadis ini kita bisa mencatat beberapa hal penting yang harus kita perhatikan di dalam mendidik remaja saat ini. Pertama, gunakanlah pendekatan emosional sehingga merasa sangat dekat dengan kita. Berikan kenyamanan, sehingga remaja itu merasa tidak ada jarak dengan kita. Kedua, tidak memvonis kesalahannya dengan kecaman yang membuat remaja tidak nyaman. Namun gunakanlah Bahasa yang santun dan tidak langsung menyudutkan mereka. Ketiga, mengajak tanpa mengejek, meminta tanpa memaksa, menasehati tanpa menggurui. Keempat, tidak menjauhi dan mengusir mereka karena kesalahannya apalagi membencinya namun mengajak diskusi dan berfikir tentang apa dampak buruk yang akan diterima dari perbuatannya. Kelima, Rasulullah menutup dengan doa baik yang indah. Itu artinya memberikan motivasi dan mendukung untuk lebih baik adalah cara terakhir untuk mendidik remaja saat ini.
Bukankah banyak sekali kisah nyata beberapa remaja itu berubah drastis lebih baik setelah orang tuanya atau gurunya mengangkat tangan mendoakannya di sepertiga malam. Semoga kita sebagai orang tua dan guru diberikan kesabaran dan kemampuan untuk mendidik remaja-remaja Islam dengan cara yang dicontohkan Rasulullah. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin…..