SDIT Al Uswah Surabaya Njowo: Penyambutan Siswa Bernuansa Jawa

Oleh: Sulaikah Kurniawati, S.Si (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)

Selalu saja ada yang unik di setiap penyambutan siswa awal semester SDIT Al Uswah Surabaya. Jika semester 1 kemarin mengusung tema mendunia, setiap guru mengenakan pakaian dari mancanegara, maka semester 2 ini tema bergeser ke budaya lokal. Budaya Jawa. Mengapa Jawa? First thing first, Jawa adalah salah satu suku terbesar di Indonesia. Sebagian besar siswa dan guru berasal dari suku Jawa. Dengan tidak mengesampingkan suku bangsa lain, Jawa diusung sebagai tema supaya siswa tidak kehilangan jati diri sebagai orang Jawa.

Ing Ngarso Sung Tuladha. Ing madya Mangun Karsa. Tut Wuri Handayani. Adalah 3 slogan Jawa yang menjadi spirit karakter kepemimpinan ditumbuhkan kepada siswa. Wayang sebagai media dakwah para mubaligh di tanah Jawa juga divisualisasikan dalam bentuk afirmasi. Dan makanan polo pendem juga coba dikenalkan kepada siswa. Makanan sehat mengenyangkan yang tidak kalah dengan ttepokki, sushi maupun pizza. Tentunya budaya Jawa yang diusung tidak berkaitan dengan klenik, mistis maupun kejawen. Lebih ke makna filosofi.

Jika ditelisik lebih jauh, Jawa yang asli itu berada pada masa sebelum Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830). Saat itu, tarian Jawa dibawakan oleh laki-laki dan bernuansa gagah. Budaya kraton juga tidak lepas dari literasi kita berbahasa Arab. Hubungan dengan Turki Utsmaniyah saat itu juga amat baik. Bahkan bagian dari kekhilafahan Utsmani. Dan semua budaya baik itu porak poranda ketika Belanda menang secara licik atas Diponegoro. Kitab-kitiab dibakar bahkan sebagian dibawa ke negaranya. Penguasa kraton dijejali dengan paham materialisme sehingga mental-mental mereka tunduk pada penjajah.

Ala kuli hal. Sejarah memang his story. Siapa yang menang dia yang menulis sejarah versinya. Maka kita bisa selalu ambil hikmahnya. Al Uswah Njowo adalah salah satu bentuk upaya untuk membumikan kecintaan kepada ibu Pertiwi. Supaya ke bumi manapun siswa bertualang kelak, mereka tidak lupa akan asal usulnya. Salam Indonesia, By Neea Sweet

Insprirasi Guru Lainya