Takdir Allah Tidak Pernah Salah
Oleh : Istiana, S.Pd
Tanggal : 22 September 2021
Sejak awal menentukan pilihan jurusan pendidikan kuliah, saya sudah menentukan memilih bidang yang tidak mungkin diajarkan di SD. Kenapa? Karena saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru SD. Sehingga, waktu itu saya memilih jurusan pendidikan kimia yang merupakan mata pelajaran di SMA. Saya cukup menyukai mata pelajaran tersebut dan tentunya untuk memperkecil kemungkinan saya mengajar di SD.
Setelah lulus kuliah, saya masih berusaha sekuat tenaga mempertahankan cita-cita saya yaitu tidak menjadi guru SD. Peluang menjadi guru SD yang ada tidak pernah saya indahkan. Sampai akhirnya ada tawaran untuk menjadi guru SMP. Saya pun mengambil kesempatan itu, meskipun mata pelajaran yang akan saya ampu tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya.
Saat itu, saya diamanahi mengajar mata pelajaran matematika. Baiklah, tidak masalah karena saya pun cukup menyukai mata pelajaran ini. Dan sekali lagi yang terpenting, tidak menjadi guru SD hihiii…
Saya cukup menikmati menjadi guru matematika sekaligus walas di SMP tersebut. Sampai akhirnya, karena suatu hal saya harus resign dari sekolah tersebut.
Setahun kemudian, Allah takdirkan saya
bergabung di sekolah ini. Jenjang pendidikan yang paling dasar, yang sejak awal saya hindari yaitu sekolah dasar. Tepatnya di SDIT Al Uswah Surabaya.
Awal mengajar saya diamanahi menjadi pengajar kelas 1. Sungguh ujian yang luar biasa bagi saya. Saya terbiasa dengan anak remaja kemudian harus membersamai anak-anak kelas 1 SD. Benar-benar beban tersendiri waktu itu. Saya harus belajar menata komunikasi saya, menyesuaikan anak-anak usia 6-7 tahun. Saya harus belajar sabar dengan kepolosan mereka.
Selama 3 tahun lebih menjadi guru kelas 1, saya jadi banyak belajar tentang perkembangan dan karakter anak usia dini. Masya Allah sangat bermanfaat sekali ketika saya kemudian harus membersamai anak saya sendiri di usia tersebut.
Hingga saat ini, saya sudah pernah mendapat amanah mengajar di beberapa jenjang. Saya belajar banyak sekali karakter perkembangan anak-anak di masing-masing jenjangnya. Seperti misalnya di kelas 3, saya menjumpai anak-anak sudah mulai bernegosiasi untuk tugas-tugas yang diterima. Di kelas 5 dan 6, saya menjumpai anak-anak yang sudah masuk masa baligh. Mereka mulai mengenal ketertarikan dengan lawan jenis.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, saya jadi teringat akan pesan Sayyidina Ali r.a tentang pembagian masa pendidkan anak. Menurut beliau, usai 7-12 tahun adalah masa tawanan bagi anak-anak. Dimana anak-anak harus dikenalkan tanggung jawab dan konsekuensi jika tidak menjalankan tanggung jawab tersebut. Selama 7 tahun mendapatkan amanah menjadi guru SD, saya semakin bersyukur kepada Allah. Karena di jenjang SD ini, semakin besar peluang amal jariyah yang bisa saya dapatkan. Saya mulai menikmati peran yang Allah berikan kepada saya yaitu sebagai guru SD.
Saya mulai menyadari bahwa pondasi dasar pendidikan terletak di jenjang SD. Dan satu hal penting yang semakin saya yakini saat ini adalah bahwa Allah tidak pernah salah dalam memberikan amanah. Sebagai apa pun kita, Allah yang paling tahu amanah yang pas untuk
kita. Melalui amanah tersebut, sesungguhnya itulah cara Allah untuk mendidik kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Ikhlas atas setiap takdir Allah…
Karena takdir Allah tidak pernah salah


