Memperbanyak Ibadah Di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Oleh: Admin (Al Uswah Surabaya)

Kita telah memasuki puasa yang kedua puluh. Malam nanti, tepatnya semenjak adzan magrib berkumandang, kita akan memasuki tanggal baru: dua puluh satu Ramadhan. Malam nanti adalah malam dua puluh satu, awal dari sebuah babak baru yang disebut sebagai sepuluh hari terakhir (al-‘asyr al-awakhir). Lalu, apa yang istimewa? Sebuah riwayat menyebutkan bahwa pada sepuluh hari yang terakhir Rasulullah mengencangkan ikat pinggang beliau dan menjauhi istri-istri beliau untuk meningkatkan intensitas ibadah kepada Allah.

Selama sepuluh hari yang terakhir tersebut, Rasulullah tenggelam dalam kesibukan beribadah di masjid, yang sering disebut sebagai i’tikaf. Pada sepuluh hari yang terakhir pulalah besar kemungkinan Lailatul Qadar akan datang, sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah. Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik nilainya daripada seribu bulan. Pada malam itu, segenap malaikat yang mulia turun ke bumi mulai dari awal malam sampai dengan terbitnya fajar. Itulah malam yang diberkati.

Karena keutamaannya yang sedemikian besar itulah, semua orang sangat bersemangat dalam memburunya. Ada yang memburunya pada satu malam saja, biasanya malam dua puluh tujuh, dengan keyakinan atau setidak-tidaknya harapan besar bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam tersebut. Ada juga yang memburunya pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari yang terakhir. Sementara yang lainnya lagi memburunya pada keseluruhan malam-malam sepuluh hari yang terakhir, baik yang ganjil ataupun yang genap.

Rasulullah dahulu seringkali ditanya oleh para sahabat tentang kapan jatuhnya Lailatul Qadar. Akan tetapi Rasulullah tidak pernah memberikan kepastian kapan Lailatul Qadar akan datang. Beliau hanya memberikan kemungkinan-kemungkinan. Dari sini kita bisa menangkap sebuah hikmah yang agung, yakni beliau menginginkan agar kita benar-benar memaksimalkan setiap malam bulan Ramadhan, tidak hanya malam-malam tertentu. Andai saja beliau memastikan tanggal berapa Lailatul Qadar akan datang, pastilah umat beliau hanya akan beribadah dengan giat pada malam itu saja. Mereka pasti berpikir kalau sudah mendapatkan malam itu pastilah sudah setara dengan giat beribadah pada keseluruhan malam bulan Ramadhan, bahkan lebih alias susuk. Kan satu dibayar dengan seribu?

Yang pasti, sekarang kita tinggal memiliki sepuluh malam bulan Ramadhan. Biarkanlah tanggal satu sampai dua puluh Ramadhan lewat meninggalkan kita. Sekarang mari kita tatap yang ada di depan kita: sepuluh hari yang terakhir. Mari kita optimalkan sepuluh yang tersisa ini. Kita harus benar-benar fight. Kencangkan ikat pinggang. Dekatkan diri kepada Allah, bermesraan dengan-Nya, pada sepuluh hari yang penuh dengan curahan rahmat dan ampunan-Nya.

Insprirasi Guru Lainya