Orangtua Siswa Bercerita: Keluarga Pembelajar

Oleh: Lina Riskiyanti Kisworo (Penulis Terbaik 2 Nulis Bareng Bunda Hebat SDIT Al Uswah Surabaya)

Duapuluh tahun berlalu. Ketika pertama kali saya berada di bangunan ini untuk mengikuti berbagai materi ke-Islam-an, seperti aqidah, hadits, tafsir Al Qur’an dan bahasa Arab. Saat itu saya masih berstatus mahasiswa semester 2 duduk sebagai murid dari Ma’had Ukhuwah Islamiyah. Ma’had ini berada di dalam gedung yang cukup luas, yaitu gedung sekolah SDIT Al Uswah Surabaya. Kedua lembaga ini berada dalam satu yayasan. Ma’had Ukhuwah Islamiyah (Ma’had UI) untuk para mahasiswa sedangkan SDIT Al Uswah untuk siswa jenjang sekolah dasar. Setiap kali berada di sekolah ini, saya bertekad dalam hati kelak anak-anak saya akan bersekolah di sini.

Waktu pun berjalan, hingga beberapa tahun kemudian saya menikah. Laki-laki yang telah menjadi suami saat itu menyampaikan, bahwa beliau senang belajar. Saya pun demikian, membaca buku, menggali informasi baru, mengikuti seminar demi seminar adalah kegemaran saya saat kuliah. Kami berdua ingin, suatu saat tak hanya saya dan suami, namun anak-anak kami kelak juga senang belajar. Belajar tak selalu di sekolah formal, bisa dimana dan dengan siapa saja. Kemudian saat itu, kami jadikan “Keluarga Pembelajar” sebagai tagline keluarga kecil kami.

Mengutip tulisan Ustadz Cahyadi Takariawan dalam buku beliau ‘Wonderful Family’, ada beberapa pendidikan yang harus ditanamkan dalam keluarga, yaitu pendidikan iman (pondasi utama penanaman aqidah dalam keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa), pendidikan moral (warisan ajaran atau nilai-nilai yang digunakan dalam kehidupan bermasyarakat), pendidikan  emosi (karakter positif kejiwaan seperti keberanian, kejujuran, kemandirian, dan sebagainya), pendidikan fisik (ketrampilan dalam mengembangkan dan memelihara kebugaran jasmani), pendidikan intelektual (seorang intelektual mampu melahirkan gagasan-gagasan baru dan dapat menerima kritikan orang lain), pendidikan sosial (memunculkan solidaritas sosial sehingga mampu mengoptimalkan peran sosial seluruh anggota keluarga), pendidikan seksual (informasi yang jelas dan benar tentang reproduksi manusia, hubungan seksual dan aspek-aspek kesehatan), dan pendidikan politik (pengenalan dasar politik melalui tokoh-tokoh sejarah sentral/pahlawan, nilai-nilai patriotisme, membentuk karakter pemimpin dalam keluarga dan masyarakat).

Tak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan Ustadz Harry Santosa (Allahu yarham) beliau menggagas pendidikan berbasis fitrah yang tertuang dalam buku beliau  ‘Fitrah Based Education’. Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, sehingga kami pun berkeyakinan bahwa semua potensi, baik itu bakat dan minatnya sudah Allah install di setiap diri seseorang sejak ruh ditiupkan ke dalam janin.  Fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar dan bernalar, fitrah perkembangan, fitrah seksualitas dan cinta, fitrah individualitas dan sosialitas, fitrah estetika dan bahasa, dan fitrah fisik dan indera.

Kedua tokoh keluarga yang kami kagumi tersebut menempatkan pendidikan dan fitrah keimanan sebagai dasar utama dan pertama yang harus dimiliki setiap manusia. Melalui keluarga, ditanamkan nilai-nilai tauhid kepada anak sejak dini. Seorang anak akan menjadikan figur orang tua sebagai teladan dan contoh yang akan ditiru dan di-copy di alam bawah sadarnya.

Saat anak-anak memasuki usia sekolah, salah satu pertimbangan kami dalam memilih sekolah adalah penerapan iman, ibadah dan akhlak yang menjadi tolak ukur yang utama. Kami sadar sebagai orang tua yang jauh dari sempurna membutuhkan partner untuk membentuk anak-anak menjadi generasi muslim yang unggul, tak hanya sholih-sholihah untuk dirinya sendiri namun juga muslih-muslihah (mengajak dan menggandeng orang lain menjadi baik). Sehingga filter awal jatuh pada Sekolah berbasis Islam.

Sempat selama 4 tahun kami sekeluarga meninggalkan Surabaya karena mengikuti pekerjaan suami yang mengharuskan berpindah-pindah kota. Sehingga anak kami pun harus merasakan bersekolah di tiga SD yang berbeda. Lalu, puzzle kehidupan kami terangkai kembali di Surabaya.

Tak mudah mencari sekolah baru untuk anak-anak saat itu, karena masa penerimaan siswa baru sudah berakhir. Awalnya kami sempat mendaftarkan sekolah di SDIT Sidoarjo, namun karena pertimbangan jarak antara rumah dan sekolah, kami memutuskan untuk mencari sekolah di Surabaya. Ternyata kuota siswa baru di SDIT Al Uswah Surabaya sudah full. Anak-anak masuk dalam kuota siswa cadangan.

Seminggu masa penantian kami terjawab. Qodarullah, ada siswa yang mengundurkan diri karena orang tuanya pindah ke luar kota. Sehingga, pagu tersebut menjadi rezeki anak-anak.  MasyaAllah tabarokallah

Alhamdulillah, Allah ijabah doa saya dua puluh tahun lalu. Allah berikan kesempatan ketiga anak kami bersekolah di sekolah keren ini. Penanaman karakter Islami, ilmu-ilmu pengetahuan dan program tahfidzul Qur’an menjadi patokan utama dalam mendidik siswa-siswinya. “Sekolah Ramah Anak’, “Adab Sebelum Ilmu”, “Akhlaknya Oke, Ibadah Oke, Prestasi Oke”, itulah beberapa tagline/slogan yang ditanamkan pada diri anak-anak di SDIT Al Uswah Surabaya. InsyaAllah, tahun ajaran baru nanti (2024-2025), kami percayakan pendidikan anak kami yang keempat di sekolah ini juga.

Semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan dalam mendidik anak-anak sesuai dengan fitrahnya hingga menjadikan mereka generasi muslim yang ahlul Qur’an, unggul dalam ilmu pengetahuan,dan pelopor dalam kebaikan. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Bionarasi Penulis: Bunda Lina Riskiyanti Kisworo. Ibu dari empat anak, yaitu Akmal Fahmi Faruqi, Raza Arya Faruqi, Faqih Ziyad Faruqi, Farah Abidah Amanina. Saat ini aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan melalui program pemberantasan buta huruf Al Qur’an bagi para Ibu yang bekerjasama dengan lembaga sosial MATAKKA dan UMMI Foundation. Menjadi guru Qur’an adalah motivasi terbesarnya. Sebagaimana hadits Rasulullah, “Sebaik-baik orang adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).

Insprirasi Guru Lainya