Lebih Baik Terpaksa Membaca Daripada Tidak Membaca

Oleh: Sulaikah Kurniawati, S.Si (Wakasis SDIT Al Uswah Surabaya)

Lebih baik kita dipaksa untuk membaca daripada ikhlas menghabiskan waktu leyeh-leyeh scrolling beranda medsos. Tugas kelima dari kelas membaca 200H ini adalah membaca e-book judulnya Urat Tunggang Pantjasila yang ditulis oleh Buya Hamka. Gegar budaya, di otakku pada awal membaca. Ejaan lama semua. Istilah-istilah lama termasuk penggunaan kalimat jaman lampau. Tapi gegar budaya itu berangsur-angsur berubah menjadi asyik dan seseru itu.

Tahun 1951, seorang pemuda bisa menulis gagasan se-cemerlang itu. Cerdas banget Beudh… Istilah Urat Tunggang merujuk pada inti yang paling pokok, dasar asasi. Hal ini merujuk kepada sila pertama. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai sila pertama yang menjiwai keempat sila lainnya, maka bangsa Indonesia meletakkan pondasi tauhid dalam berbangsa dan bernegara. Sila pertama ini menjadi dasar perjuangan para pahlawan dan pejuang Indonesia  untuk merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Tanpa sikap bertuhan yang baik, seseorang tidak akan bisa menjalankan sila-sila berikutnya. Kalaupun ada ,itu akan bias dan tidak kuat.

“Orang yang percaya kepada Tuhan pasti berperikemanusiaan. Orang yang percaya kepada Tuhan pasti mempertahankan persatuan Indonesia, pasti melakukan keadilan sosial, karena dia beriman kepada Tuhan. Sebab, persatuan itu adalah janji kita sebagai bangsa yang sadar,” kata Hamka dalam pertemuan bersama Wanhankammas, pada 25 Agustus 1976.

Insprirasi Guru Lainya