Rasa
Oleh : Nur Dyta Qomariyah, S.Pd.
Guru : SDIT Al Uswah Surabaya
Tanggal : 11 Oktober 2021
Tak terasa hampir enam tahun sudah amanah mengajar
yang tak pernah menjadi cita-cita saya sejak kecil. Pilihan menjadi guru jatuh
menjadi penggugur kewajiban atas permintaan Ibu agar anak semata wayangnya ini mewujudkan
impian kecilnya yaitu mendidik.
Yah nama Dyta dipilih untuk anaknya
ini juga sebagai doa beliau yang mengidolakan guru bahasa indonesia kala beliau
SMA, berharap kelak anaknya mewarisi bakat bersyair, dan tahun-tahun panjang
dikulum dalam doa hingga kini anaknya disebut Bu Guru.
Pagi itu awal tahun 2015 dibonceng
Ibu dengan sepeda supraF** menyusuri jalan menuju tempat melamar menjadi Guru.
“Bu, aku akan jadi Guru amanah
ini berat terasa dipundakku Ibu!” Seruku saat itu.
“Rasa-rasanya aku tak mampu menjalani
jadi guru. Aku tak suka jadi guru. Aku hanya suka seni dan aku ingin jadi pemain teater saja,” tambahku
menyeruak mengalahkan suara knalpot motor yang sudah mulai berkarat.
Tapi Ibu terus memaksaku masuk
melawan takut untuk wawancara dan proses tes mengajar. Sepekan kemudian kabar
itu berdesir dan sampai pada Ibuku.
Nasi kotak segera dibuat berbagi pada
tetangga.”Alhamdulillah anakku jadi Bu Guru” kata Ibuku sambil menyunggingkan senyum.
Aku tersipu malu sambil menatap layar
pintu, heran dengan apa yang dilakukan Ibu, apa begitu juga Ibu kalian
berbangga atas profesi anaknya yang menjadi Guru.
Entahlah...
*kriiing…kriiing….
Bel berbunyi menyita perhatian, semua
siswa dan guru bergegas masuk ke kelas masing-masing. Aku yang kala itu masih
genap satu bulan di SDIT Al Uswah mengajar kelas enam belum terlalu mahir
membaca pikiran satu persatu siswa, masih kagok harus bagaimana menghadapi
mereka.
“Ustadzah…Assalamualaikum.”
Sambil senyum siswa manis itu menyapaku di depan kelas 6C diikuti gerombolan
tiga siswa putri yang tak kalah manis wajahnya.
Aku yang tersontak kaget dan tak
percaya ada yang menyapaku, lama ku tahan tak menoleh karena aku tak mau terlalu Ge er takut mereka
bukan menyapaku, kupastikan suara itu dekat di telingaku lalu ku menoleh.
“Waalaikumussalam warohmah, iya
ada yang bisa ustadzah bantu mbak?”
Mereka membalas kompak menggeleng
seakan ada yang mengomandoi.
“Loh.. kok
geleng-geleng?”jawabku sambil tersenyum heran.
Lalu mereka mengulurkan tangan
bersalaman dan mencium tanganku. Padahal sebelumnya ku bertemumereka selalu
dengan muka yang masam, mungkin perasaanku saja sebagai guru baru susah bisa
diterima, sejenak lalu mereka pergi. Kuhela nafas panjang, bertanya-tanya ada apa
ya dengan mereka? Sudahlah.
Keesokan hari saat jam istirahat
mereka kembali menyapaku, kali ini agak lama mereka mengajakku berbicara, jika
kemarin mereka mengaku masih malu-malu, hari ini mereka tanya siapa nama
panjangku, lalu hobi, dan makanan favoritku, sempat mereka catat di buku diary
lucu lalu pergi lagi dariku. Baiklah.
Esok hari dia datang kembali; menanyakan
alamat rumahku, tanggal lahirku, lalu keempat siswa manis itu mulai perkenalkan
diri satu persatu.
Tepat hari keempat mereka banyak
bercerita tentang kisah mereka di kelas, hobi mereka, sambil tertawa lepas
memintaku mengajar di kelasnya,
“kenapa mengajar di kelas B sih ga di kelas C ustazah”
Sebelum aku naik ke jok motor Ibuku
sore ini, ada satu diantara siswa manis memanggilku. Kuurungkan niat naik motor
digoncengan Ibuku, ku hampiri dia, “Ada apa mbak?”
“Oh, Maaf ya Us. Cuma mau ngasih ini, tadi nyari ustadzah ke kelas tidak ada.”
Lalu secepat itu dia berbalik
diakhiri senyum manis. Sepasang gantungan sandal pink bertulis huruf Jepang yang aku tak tahu maknanya apa. Tersirat
pesan oleh-oleh khas Jepang. Ya warna pink, aku pernah memberitahu warna
favoritku pada mereka.
Hari demi hari sudah berlalu, aku
setiap jam istirahat menghabiskan waktu bersama
keempat siswaku yang lucu-lucu, aku sering mengajaknya menulis sajak,
kata demi kata kuajarkan, kuperhatikan mereka mengeja puisi indah dengan tema
bebas.
Tanpa terasa bait-bait yang mereka
tulis sudah menjadi kumpulan indah, saat menjelang mereka acara perpisahan. Sajak-sajak
yang kami tulis di gazebo itu genap 10 halaman yang mereka tulis.
Dan sajak yang indah menurutku adalah
sajak yang mereka buat dengan ketulusan tanpa beban dan paksaan. Waktu bergulir
begitu cepat tiba-tiba mereka sudah melewati Ujian Nasional, hari bahagia
pentas seni dan perpisahan tiba, senyum menugging sedari pagi di wajah mereka.
Aku ikut bergembira tapi aku tahu secepatnya pula aku kehilangan mereka, tapi
mereka punya jalan demi kesuksesaan, jadi tak sepantasnya ku menghadang.
“Ustadzah, kami akan merindukan
Ustadzah, Ustadzah yang sudah sabar mendengar cerita kita semua, hingga
akhirnya menjadi cerita lewat puisi inda, kami sungguh tak akan lupa,”
ucap Shofi.
Aku tak mampu lepas dalam pelukan
hangat mereka, deras gerimis mata sudah mulai perlahan tak terbendung sampai di
pipi.
“Ustadzah, kami ingin belajar
darimu, ustdzah selalu bercerita soal juara dan kemenangan lomba ustdzah semua
dipersembahkan untuk ibu ustdzah agar bahagia, kami ingin juga memberi hadiah
buat orangtua,” ucap Izzah.
Lagi. Airmata ini deras sudah tak
bisa kututupi. Aku siapa? Hanya guru baru yang ternyata kisahku bisa membuat
mereka tersentuh. Desir gemuruh kata dalam dada.
“Ustadzah kalau aku sukses
nanti, aku ingin tetap rendah hati seperti yang Ustazah pesankan, karena semua
milih Illahi bukan milik pribadi, dan terima kasih buat semua nasihat Ustazah
yang jadi pelecut” seru Qisthi
“Ustazah… Ustazah aku yang
seperti pendiam bukan berarti tak memperhatikan, Ustazah sangat perhatian,
sekecil apapun yang nyangkut di gigi
kita ustdzah selalu mengingatkan.”celetuk Nisrina.
“Please…kita udah haru-haru
kamu malah melucu.” Shofi yang berkata keras pada temannya karena jengkel.
Akhirnya mereka semua tertawa, tangis sendu itu berubah jadi senyuman merdu.
Kita berpelukan mendoakan satu sama
lain. Yah…begitulah kisah dalam hidup kita
Rasa yang tak pernah terduga Rasa yang begitu cepat
berubah
Rasa yang siapa saja boleh menerima Hari ini benci
Esok suka Lusa mencinta.
Hingga berakhir di sudut rindu atas perpisahan.
Sajak-sajak itu terkenang sebagai rasa terindah.
Terimakasih telah membuat rasa dalam hidup ustadzah
lebih berwarna dengan keikhlasan dan ketulusan kalian membagi kasih sayang.


