Tiga Alasan Mengapa Menulis
Oleh : Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)
Jika ada pertanyaan, mengapa menulis, maka mungkin jawaban saya adalah, saya lebih nyaman berkomunikasi tulis daripada komunikasi lisan. Entahlah, sejak dulu itu yang saya rasakan. Saya menemukan banyak kosakata terbaik ketika menulis dibandingkan ketika berbicara langsung. Mungkin karena saya pemalu. Ups!
Baik, semakin dewasa, maka motivasi menulis saya sedikit bergeser. Tak mungkin saya menghindari berbicara dan terus menulis saja. Menulis bagi saya sebagai katarsis; melepaskan emosi atau keluh kesah di dalam hati. Lega rasanya jika bisa menuangkan rasa dalam bentuk tulisan singkat. Menuliskan protes tanpa perlu bersitegang dengan yang diprotes, namun bisa menjadi renungan bersama.
Yang kedua, ingin mencontoh para ulama terdahulu dalam hal tradisi baca tulis. Tidak ada peradaban yang bangkit tanpa didahului kebangkitan tradisi ilmu. Alasan peradaban Islam pernah jaya di masa lalu adalah karena tradisi membaca dan menulis para ulamanya. Boleh sebut nama, Ibnu Khaldun dengan Muqoddimah-nya, Ibnu Sina dengan Al Qanun fith Thibb nya atau Sayyid Quthb dengan tafsir monumentalnya, Fii Zhilalil Quran. Peradaban Islam harus bangkit lagi, dan saya ingin berkontribusi dalam hal tulis menulis.
Yang ketiga, last but not least, memenuhi perintah Allah untuk membaca dan menulis yang tersirat dalam surat Al Alaq ayat 1 dan Al Qolam ayat 1. Mari kita simak surat Al Alaq ayat 1 : “Bacalah apa yang Allah wahyukan kepadamu dengan terlebih dahulu menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan segala sesuatu dengan keesaan-Nya’ kemudian surat Al Qolam ayat 1 : “Demi pena dan apa yang mereka tuliskan”. Ajaran suci untuk membaca dan menulis telah menorehkan kejayaan pada bangsa Arab yang semula ber-tradisi tutur lisan.


