Ketika Si Kecil Tak Lagi Ingusan
Oleh: Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)
Banyak yang berpikiran kalau masa dimana anak sudah besar itu enak. Mungkin iya, tapi tidak sepenuhnya benar. Jadi ingat perkataan sesama ibu tujuh tahun lalu. Saat itu aku sedang ada acara sambil menggendong si Nduk bayi. Beliau berkata, kalau anak masih kecil, masalahnya paling ya sakit, rewel, nangis. Kalau anak sudah besar, beda lagi. Jauh lebih sulit. Aku sempat tidak sepakat, namun diam saja. Sampai akhirnya ketika duo krucilku beranjak dewasa, aku baru menyadarinya.
Memang, untuk masalah kemandirian, mereka sudah tuntas. Tidak lagi disuapin, memakai diapers, bahkan sudah bisa menata kamar sendiri. Secara fisik, saya tidak banyak membantu kegiatan bantu diri mereka. Banyak waktu yang bisa aku manfaatkan untuk menulis misalnya. Namun jangan salah. Di situlah jebakannya. Kita mengira everything is done. Padahal tidak. Tantangan ketika anak sudah besar bukan lagi kegiatan bantu diri. Tapi pemikiran, pergaulan, bahkan emosi yang belum stabil.
Si emak bapak ini harus tetap cool ketika si anak mempertanyakan hal-hal yang sudah dipahamkan sejak kecil. Hal-hal abstrak seperti keberadaan Tuhan, kebenaran agama bahkan demokrasi, serta sosialisme menjadi bahasan setiap hari. Bukan karena mereka tidak beriman, tapi fikiran kritis mereka sedang berkembang pesat. Dan kita sebagai orang tua harus bisa menyediakan hati dan telinga.
Si emak bapak ini harus tetap kalem ketika si anak cerita tentang cowok cewek yang ditaksir. Sambil terus bersyukur, bahwa anak kita normal, menyukai lawan jenis. Si emak bapak ini harus tetap obyektif ketika si anak mulai memprotes kebijakan atau sikap guru yang menurutnya kurang pas. Si emak bapak ini juga harus tegas sekaligus berlapang dada ketika si anak melakukan dosa dan kesalahan yang disengaja.
Si emak dan bapak ini harus bisa menahan diri ketika si anak sedang emosional. Harus bisa dialogis dengan kepala dingin. Tanpa terbawa arus emosinya. Rapalan doa tak berhenti ketika si anak berkegiatan di luar bersama teman-temannya. Mereka tak lagi banyak bersama kita. Tak lagi bisa kita peluk dan gendong seperti dulu. Bahkan secara perlahan mereka akan berpisah dengan kita. Tantangan mereka menjadi pemuda di akhir zaman ini memang tidak mudah. Godaannya besar. Dan banyak. Tak seperti kita di masa lalu. Ketika si kecil sudah tak lagi ingusan, maka si emak dan bapak ini harus tetap berbenah. Wahai emak dan bapak. Sudahkah tirakat untuk anak-anakmu…?? (Neea Sweet)


