Nasehat Rasulullah Kepada Fathimah Yang Sedang Galau
Oleh: Bagus Subuh Hadi (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)
Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA: Suatu ketika, Rasulullah SAW datang kepada puterinya, Fathimah Az-Zahra. Beliau melihat Fathimah sedang menangis sambil menumbuk gandum di atas lumping (batu/kayu penggiling). Rasulullah SAW bertanya kepadanya: “Apakah yang membuatmu menangis wahai Fathimah? Allah SWT tiada membuat matamu menangis,” Fathimah lalu menjawab: “Wahai ayahanda, aku menangis karena batu penggiling ini dan kesibukanku dalam rumah”.
Akhirnya Nabi duduk di sampingnya. Sedangkan Fathimah berkata lagi: “Wahai ayahanda, atas keutamaan engkau, mintalah kepada Ali agar dia membelikan bujang untukku supaya dapat membantuku menumbuk gandum dan menyelesaikan urusan rumah,” Rasulullah menjawab: “Jika Allah menghendaki wahai Fathimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan serta hendak mengangkat derajatmu, Wahai Fathimah. Barang siapa orang perempuan yang menumbukkan (gandum) untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskan untuknya setiap satu biji, satu kebaikan serta menghapuskan darinya pada setiap satu biji satu keburukan. Dan Allah akan segera mengangkat derajatnya,”
“Wahai Fathimah, barang siapa orang perempuan berkeringat pada saat menumbuk (gandum) untuk suamiya. Tentu Allah akan menjadikan antara dia dan neraka tujuh khonadiq (lubang yang panjang). Wahai Fathimah, ketika seorang perempuan mau meminyaki kemudian menyisir rambut anak-anaknya serta memandikan mereka, maka Allah akan menuliskan pahala untuknya dari memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
Wahai Fathimah, ketika seorang perempuan tidak mau membantu hajat tetangganya, maka Allah akan menghalanginya minum dari telaga “Kautsar” kelak di hari Kiamat. Wahai Fathimah, yang lebih utama dari itu adalah kerelaan suami terhadap istrinya. Kalau saja suamimu tidak rela terhadap engkau, maka aku tidak mau berdo’a untukmu. Apakah engkau belum mengerti wahai Fathimah? Sesungguhnya kerelaan seorang suami adalah melambangkan kerelaan Allah, sedangkan kemarahannya pertanda kemurkaan-Nya.
Wahai Fathimah, ketika seorang perempuan mengandung janin dalam perutnya, maka sesungguhnya malaikat-malaikat telah memohonkan ampun untuknya, dan Allah menuliskan untuknya setiap hari seribu kebaikan serta menghapuskan darinya seribu keburukan. Ketika dia menyambutnya dengan senyuman, maka Allah akan menuliskan untuknya pahala seperti para pejuang. Dan ketika dia telah melahirkan kandungannya, berarti dia telah keluar dari dosanya seperti pada hari dia lahir dari perut ibunya.
Wahai Fathimah, ketika seorang perempuan berbakti kepada suaminya dengan niat yang tulus dan murni, maka dia telah keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari dia lahir dari perut ibunya. Tidak akan keluar dari dunia dengan membawa dosa, serta dia akan mendapatkan kuburnya sebagai taman diantara taman-taman surga. Bahkan dia akan diberi pahala seribu orang haji, seribu orang umrah dan seribu malaikat memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat.
Dan barang siapa perempuan yang berbakti kepada suaminya sehari semalam dengan hati yang lega penuh ikhlas serta niat yang lurus, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan kepadanya pakaian hijau dari surga kelak di hari Kiamat, serta menuliskan untuknya pada setiap helai rambut badannya dengan seribu kebaikan, serta Allah akan memberinya pahala seratus haji dan umrah.
Wahai Fathimah, ketika seorang perempuan bermuka manis di depan suaminya, tentu Allah akan memandanginya dengan pandangan yang penuh rahmat. Wahai Fathimah, ketika seorang perempuan menyelimuti suaminya dengan hati yang lega, maka ada panggilan dari langit memanggilnya ‘mohonlah agar diterima amalmu’. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang belum lewat.
Wahai Fathimah, setiap perempuan yang mau meminyaki rambut dan jenggot suaminya, mencukur kumis dan memotongi kukunya, maka Allah akan meminuminya dari ‘rahiqil makhtum dan sungai surga, dan memudahkannya ketika mengalami sakaratil maut, dan dia akan mendapat kuburnya sebuah taman dari surga, serta Allah menulisnya bebas dari neraka serta lulus melewati shirat”. (Sumber: Fb Bagus Subuh Hadi)


