Orangtua Adalah Teladan Terbaik Bagi Anak-Anaknya

Oleh : Diana Agustin Tri Nugrahaeni, S.Pd (Guru SD Al Uswah 2 Surabaya)

Anak memang seorang peniru ulung. Setiap saat, mata anak selalu mengamati, telinganya menyimak, dan pikirannya mencerna apa pun yang dilakukan orang di sekitarnya. Itu sebabnya, jangan heran jika anak bisa tumbuh menjadi sosok yang sangat mirip dengan orang tua atau yang sering mendampingi tumbuh dan berkembangnya. Oang tua adalah role model untuk anak, maka orang tua jugalah yang memutuskan perilaku seperti apakah yang ingin anak tiru.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan perilaku meniru, karena pada dasarnya meniru adalah proses pembelajaran alami semua makhluk hidup. Anak mulai meniru sejak ia lahir, dimulai dari meniru ekspresi wajah orantua. Ketika tersenyum, anak ikut tersenyum. Ketika menjulurkan lidah, anak pun akan melakukan hal yang sama. Begitu juga ketika tertawa dan berbicara. Karena anak belajar lewat meniru, tak heran kalau anak yang terlahir tuli akan secara otomatis bisu. Bukan karena bermasalah pada pita suaranya, tapi karena bayi tuli tak bisa mendengar kata, sehingga tak bisa menirunya.

Saat usia anak bertambah, sifat meniru masih terus berlanjut. Apa yang dikatakan, sikap seperti apa yang ditunjukkan, tanpa disadari akan ditiru oleh anak. Anak belajar dari apa yang ia lihat dan dengar. Apa yang dilakukan orang lain, baik itu gerakan, kata-kata, atau emosi, semua menjadi sarana belajar bagi anak. Hingga usia 18 bulan, anak biasanya masih meniru gerakan. Barulah mulai usia tiga tahun, anak meniru perilaku, sopan-santun dan bahasa orang tua. Jika orang tua adalah orang yang toleran dan selalu berkata sopan pada setiap orang, maka sangat mungkin terjadi anak pun akan tumbuh menjadi orang yang seperti itu juga.

Saat ini, anak mungkin tidak paham mengapa orang tua berperilaku baik dan sopan pada orang lain, tetapi mereka akan tetap meniru. Sebaliknya, jika orang tua adalah orang yang berpikiran sempit dan penuh kebencian pada orang lain yang tidak sepaham, maka sikap negatif ini pun akan ditiru oleh anak, dan menjadi dasar bagaimana ia memperlakukan sesama saat dewasa nanti. Tiga hal yang akan ditiru seorang anak dari orang tuanya sangat berkaitan sekali atas jiwa anak yang dalam masa pencarian jati dirinya cenderung akan melihat dari sisi orang terdekat yang berinteraksi aktif dengan dirinya. Dan rasanya tidak salah, jika pribahasa “Apel jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.”

Belakangan, orang tua resah atas perkembangan teknologi yang membuat anak kecanduan dan menjadi malas untuk belajar dan mengulang pelajaran sekolah di rumahnya. Ternyata mendidik anak adalah pekerjaan 24 jam, 7 hari seminggu dari anak lahir hingga ia menjadi dewasa. Semuanya terjadi di dalam rumah ataupun di luar rumah. Dan pelajaran dari orang tua yang diserap anak adalah tidak selalu ketika seperti orang tua menjadi seorang mentor yang sedang menjelaskan suatu masalah pada muridnya di kelas, tapi pelajaran terpenting adalah ketika sedang melakukan hal-hal lain yang penting yang tidak ada sangkut pautnya ketika menjadi orang tua.

Beberapa hal yang penting untuk diingat oleh para orang tua dalam mengenali karakter anak sehingga bisa menunjukkan sikap yang baik saat mendidik anak, di antaranya yakni:

1. Anak akan meniru dengan detil dari orang tuanya tentang bagaimana menangani emosi diri. Anak akan melihat bagaimana orang tua mengekspresikan kemarahannya. Ketika orang tua marah, jika anda berteriak dan menjerit, anak-anak akan melihat ini, walaupun teriakan dan marahnya tidak ditujukan buat anak-anak. Tentu saja, anak akan belajar hal yang sama, ketika menekan emosi saat marah. Sangatlah penting untuk orang tua belajar mengekspresikan rasa marah, cemas dan frustasi dalam bentuk yang wajar dan tidak berlebihan.

2. Anak akan meniru dengan detil dari orang tuanya tentang bagaimana berinteraksi dan menjalin cinta kasih. Bagaimana kita sehari-hari berkomunikasi dengan pasangan, itulah yang kelak akan dijadikan master behavior atau kerangka utama perilaku anak. Adakah kita menghargai suami yang menjadi bapak mereka? atau bila menjadi suami, menghargai istri yang jelas adalah ibu mereka? Bagaimana cara orang tua mengambil sebuah keputusan keluarga? adakah yang otoriter? Apakah perbedaan pendapat selalu akan diakhiri dengan suasana tegang, suara teriakan yang keras dan air mata, seperti sinetron yang kurang bermutu dan tidak jelas arahnya? Apakah anak-anak melihat selalu sang ayah mencium kening ibunya setiap pagi ketika hendak pergi kerja? Pertanyaan-pertanyaan ini penting dalam rangka pembentukan karakter dan pola prinsip tentang gambaran pernikahan ideal yang kelak mereka dewasa akan dijalani juga. Anak-anak adalah pemirsa. Mereka menonton anda dan pasangan hidup setiap hari. Dan penetapan standar idealnya sebuah kehidupan rumah tangga terbentuk dari saat mereka masih hidup bersama orang tuanya.

3.  Anak akan meniru dengan detil dari orang tuanya tentang apa prioritas utama dalam hidup ini. Harus ada pembagian waktu yang adil bagi anak-anak. Karena waktu bekerja mencari nafkah sudah ditetapkan, maka juga harus menetapkan waktu luang untuk anak-anak. Mereka butuh perhatian dan kasih sayang dari ayahnya atau ibunya, yang mungkin sangat jarang untuk bisa ditemuinya setiap hari.

Curahan kata-kata, humor jenaka dan riang, mengaji bersama, menonton sebuah acara, hadir di sebuah kegiatan anak, adalah salah satu upaya orang tua untuk bisa mendekatkan diri pada anak-anaknya. Mereka juga melihat, dalam seminggu, berapa hari atau berapa jam, ayah dan ibunya bisa berkumpul bersama mereka. Ini akan terus dicatat anak hingga dewasa. Mereka akan belajar, mana yang lebih penting, keluarga atau pekerjaan atau bisa kedua-duanya seiring sejalan. Dari matanya yang kecil, mereka akan belajar copy paste dan menirukan persis apa yang orang tuanya lakukan. Dan kehidupan yang benar-benar terjadi buat anak-anak adalah ketika orang tua sedang melepaskan atributnya sebagai orang tua.

Sumber: website : www.sd2.aluswahsby.sch.id

Artikel Lainya