Catatan Perjalanan KEMNAS V Cibubur, Jalan Juang Yang Dipilih

Oleh: Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)

Cibubur… Perjalanan yang kalian pilih untuk menguji dan membuktikan banyak hal. Ketika kalian hampir putus asa, namun memilih untuk tidak menyerah dan terus lanjut sampai akhirnya bisa. Maka di situ kalian belajar untuk tangguh. Ketika ingin mendapatkan lebih, namun ternyata harus rela berbagi dengan sesama. Maka disitu empati dan sabar bersemi. Meninggalkan kasur empuk dan nyaman lalu berganti menjadi ruangan tenda beralas kasar dengan kaki saling bertautan. Di situ kita mengasah syukur.

Meniti jalanan panjang setapak demi setapak, lalu tersasar salah jalan sendirian,  mengajarkan pentingnya kebersamaan. Menerapkan prinsip: masak dulu baru makan lalu cuci piring, mendidik untuk mandiri dan cekatan. Jauh dari orang tua, sehingga tidak ada tempat untuk bermanja. Kalaupun orang tua ada di situ, ternyata jauh lebih galak dibandingkan para guru pendamping. He-he-he… Jelas mengajarkan untuk lebih dewasa dan independen.

Yess Kalian sudah belajar semua hal di atas secara nyata. Secara langsung. Kurikulum penderitaan minim fasilitas yang mengajarkan kalian untuk lebih matang secara akal telah ditunaikan. Kalian luar biasa dengan segenap keunikannya. Apakah lantas kalian menjadi sosok yang sempurna? Jelas tidak. Masih  ada PR. Banyak malahan. Namun setidaknya, level dewasa kalian naik setingkat dibandingkan sebelumnya. Teruslah “naik”, teruslah bertumbuh. Jadilah versi terbaik dari dirimu. Jadilah pemuda tangguh dengan karya yang melampaui zamanmu. Dan dedaunan Cibubur serta harum kecoklatan tanahnya akan memandang kita dari kejauhan dengan bangga. Selamat Kids

Cotatan Seputar KEMNAS V Cibubur, Asah Skill Kepramukaan

Masih seputar perhelatan perkemahan Pramuka KEMNAS ke V. Setelah upacara pembukaan, anak-anak mengikuti kegiatan Scouting Skill. Mereka belajar kembali tentang semaphore, sandi rumput dan pionering. Tiga skill dasar kepramukaan ini penting untuk dikuasai oleh setiap Pramuka. Semaphore digunakan sebagai alat komunikasi jarak jauh dengan media bendera persegi berwarna mencolok merah dan kuning. Harapannya bendera ini bisa terlihat dari jauh.

Tapi kan sekarang sudah ada alat komunikasi canggih macam ponsel ataupun Handy Talkie? Tentu saja. Tapi bukan berarti semaphore menjadi tergeser. Hm… Mungkin kita semua perlu melihat film-film bertema survival di mana sang tokoh utama harus mengirim pesan tanpa mempunyai perlengkapan apapun. Lalu tentang sandi rumput, ini yang seru. Kita bisa berkomunikasi secara rahasia tentunya ya.

Lalu pionering, nah ini krusial. Jenis-jenis ikatan dan simpul penting untuk dikuasai karena sering dibutuhkan dalam teknis pekerjaan sehari-hari misalnya membuat rak sepatu, menyambung dua tali dan sebagainya. Pada kesempatan ini, para Pramuka dibekali cara membuat tandu dari dua tali dan dua tongkat. Tandu, alat sederhana yang memudahkan kita untuk mengangkut seseorang atau sesuatu. Semua keterampilan taktis di atas menjadi bekal hidup dalam menyelesaikan masalah. Setidaknya ketika dalam situasi krisis, masih bisa mencari solusi praktis

Cotatan Seputar KEMNAS V Cibubur, Hujan Deras di Tengah Giat dan Kedatangan Tamu

Hari kedua kemah, siswa diajak bermain bergiliran. Setidaknya ada empat Giat Rotasi yang diikuti siswa. Pertama, bermain ketangkasan. Siswa diajak untuk merayap, melompat, berayun dalam serangkaian wahana layaknya ninja warrior. Kedua, permainan tradisional berupa engkle, gobaksodor, puzzle pahlawan, holahoop, ular tangga, bakiak, dan rangku alu. Siswa yang notabene adalah anak jaman now yang terbiasa ng-online, diajak untuk bermain bersama. Ketiga, mengenal makanan tradisional dari Jawa Barat. Ada awug/dongkal, jojorong, pasung, dan sekoteng.  Keempat ada pameran seni budaya yang terdiri dari handmade, games dan bahasa. Semuanya dilaksanakan mulai pukul 8 pagi sampai 5 sore dengan jeda istirahat 2 kali.

Menjelang sore, hujan turun sehingga anak-anak harus memakai jas hujan selama Giat berlangsung. Semakin sore semakin deras dan kita berteduh di tenda. Tak disangka, air merembes masuk dari atap tenda seiring dengan derasnya hujan. Ternyata, tendanya bocoh hiks… Baiklah Giat pun berubah menjadi kerja bakti di area tenda. Selain membersihkan dalam tenda, anak-anak juga membuat parit dengan cangkul portable. Hujan berhenti turun dan alhamdulilah kita kedatangan tamu. Para kepala sekolah dari SDIT, SMPIT, SMAIT bahkan SD 2 selaku Ketua JSIT Surabaya.

Pada kesempatan sore itu juga, kami menyempatkan untuk berfoto bersama. Keluarga besar Al Uswah Surabaya yang terdiri dari 2 regu Penggalang SDIT, 3 regu Penggalang SMPIT dan 11 Penegak SMAIT. Total 61 siswa Al Uswah Surabaya berperan aktif pada agenda Kemah Nasional V ini. Alhamdulillah semuanya sehat dan gembira. Bahkan beberapa sudah betah di sini. Betah menikmati kurikulum “penderitaan” yang ternyata menyenangkan ya. He-he-he Ganbatte Al Uswah Surabaya.

Insprirasi Guru Lainya