Manusia-Manusia Kuat Itu Nyata, Sebuah Catatan Perjalanan KMD

Oleh: Sulaikah Kurniawati, S.Si (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)

Masih belum move on dari pendadaran Kursus Mahir Dasar (KMD) Pramuka di Malang Jawa Timur. Tidak mudah untuk bisa ke sini. Akan selalu ada saja alasan kita untuk menolak ditugaskan belajar di KMD. Mulai dari alasan keluarga yang tidak bisa ditinggal, alasan finansial, yang usianya muda saja yang berangkat, sampai alasan “malas” karena merasa bukan berjiwa Pramuka. Tidak mudah pula untuk bisa lulus di sini. Fisik ditempa dengan padatnya kegiatan. upacara jam 7 pagi, lanjut materi sampai jam 10 malam. Jeda hanya untuk salat dan makan. Lalu naik turun tangga juga melelahkan.  Mental juga ditempa karena harus berani menghadapi kritik dari pelatih, harus siap melaksanakan tugas mendadak di luar dugaan.

Ala kulli hal, semua yang terjadi adalah takdir terbaik dari Allah. Takdir luar biasa untuk bertemu dan belajar di sini. Ada banyak sekali hal-hal keren yang patut menjadi teladan untuk kita semua. Pertama dari sisi pelatih. Haji Tukiyar, pelatih paling sepuh dan senior, Waka Bina Wasa Kwarcab Kabupaten Malang. Usia beliau 73 tahun, tapi tidak sedikitpun menunjukkan sikap lembek dan lemah. Sikap sempurna dengan seragam rapi dan disiplin waktu. Semalam baru tahu kalo beliau berkendara motor sendiri dari rumah ke tempat pendadaran.

Kak Ana, srikandi yang tak kenal menyerah. Dua tahun lalu divonis stroke dengan sebagian anggota tubuh lumpuh. Kaki nyeret jika harus berjalan. Namun karena mental kegigihan tak mau kalah dengan penyakit, beliau memaksakan diri untuk berjalan tegak. Sakit? Tentu saja. Tapi terus dilawan dan ingin sehat. Alhamdulillah beliau tampak baik-baik saja selama melatih kami, seolah fisiknya normal seperti kami. Kak Hajjah Mamik, selaku ketua Pusdiklatcab Indrakila Malam. Sudah sepuh, bahkan lebih tepat saya panggil Mbah. Di usia yang sudah tak mudah dilalui secara fisik, beliau kuat memimpin lembaga pusdiklatcab dan membekali kami.

Apakah semua pelatih sepuh-sepuh? Tidak. Kak Dian, pelatih Siaga. Usianya kepala empat. Mungkin beda sedikit dengan saya. Putra putrinya masih kecil. Namun tidak menjadi alasan untuk tetap melatih kami. Kak Winarko, ketua Pinsakoda Jawa Timur tidak muda, sudah bercucu, tapi tetap tegak tapi mengomandani KMD. Kak Syamsul, Kak Ghofar. Halah kayak mereka nggak punya masalah saja ya, mau-maunya mengawal full pelatihan 6 hari di sini.

Kedua dari sisi peserta. Ada banyak peserta yang ber-status emak-emak. Mulai dari yang putranya kecil-kecil sampai yang sudah sekolah menengah. Mereka bersedia ikut tanpa banyak alasan, menempa diri sambil terus menguatkan keluarga yang ditinggalkan selama pendadaran. Dari sisi bapak-bapak pun begitu. Mereka juga punya istri dan anak yang harus dikuatkan di rumah. Ada Kak Syarif, yang baru saja menyelesaikan pelatihan ADLX selama 3 hari lalu lanjut KMD. Istri beliau sudah hamil tua dan bersiap persalinan, namun ditinggal sementara untuk belajar. Keren.

Ada juga beberapa guru yang selama ini tidak pernah mengajar Pramuka, namun diikutkan sekolah menggantikan guru yang berhalangan hadir. Tentunya ini alasan kuat sebenarnya untuk menolak. Tapi dasar sang guru hebat ini, tetap menguatkan diri untuk ikut dan lulus. Ada satu guru yang sakit sepekan sebelum hari-hari KMD dimulai. Biaya pendaftaran sudah ditunaikan, namun sakit belum juga hilang. Sampai akhirnya, si guru ini sehat dan masuk di hari kedua pendadaran. Berangkat bersama sang Ayah, dan harus menghadapi wawancara dari pelatih. Ia juga harus mengerjakan tugas-tugas yang tertinggal dengan terus dikejar tugas-tugas baru.

Ada lagi, satu guru perempuan yang baru ditugasi untuk ikut KMD, hanya berselang 1-3 hari saja sebelum hari pendadaran. Alasan klasik ‘wow kok mendadak, maaf ga bisa’ bisa dimainkan. Namun sang guru ini tidak memilih opsi itu. Bersama sang Ibunda, ibu guru ini keliling pasar dan toko untuk mempersiapkan diri. Ada juga para peserta yang harus naik kereta api sambil membawa carrier segede gaban dan perlengkapan lainnya. Alasannya simpel, lebih hemat dibandingkan naik mobil.  Tentunya masih banyak lagi cerita hebat yang terlewat dari pantauan si faqir ilmu ini.

Duh! Duh! Apa coba makanan mereka, kok bisa sekuat itu? Manusia-manusia kuat yang berusaha memperbaiki dan menempa diri, lalu memberi solusi bagi negeri. Mereka tak sempurna, mereka juga punya segudang masalah yang jelas tak perlu dipublikasikan kemana-mana. Sangat bisa kita membuat alasan untuk menolak tugas dengan alasan-alasan manusiawi itu. Namun mereka memilih untuk tidak menjadi manusia egois. Semoga Istiqomah.  (Neea Sweet)

Insprirasi Guru Lainya