Jebakan Family Time
Oleh: Sulaikah Kurniawati, S.Si (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)
Judulnya serem banget ya. Mau bahas family time tapi kok pakai kata jebakan. Literally, family time means waktu keluarga. Secara khusus bisa diartikan sebagai waktu bersama keluarga yang membantu kita untuk memahami satu sama lain. Ada banyak sekali manfaat yang diperoleh dengan adanya family time. Selain mempererat ikatan emosional keluarga, family time juga ampuh untuk menanamkan nilai-nilai pada keluarga, tempat mengungkapkan perasaan, serta meningkatkan kesehatan mental anggota keluarga.
Anak-anak yang menghabiskan waktu bersama keluarga, menunjukkan resiko lebih kecil terhadap masalah perilaku dan sosial. Lalu, apa hubungannya family time dengan jebakan? Lazim orang menitikberatkan family time dengan liburan bersama keluarga. Tidak salah sih, toh liburan bersama keluarga juga termasuk family time. Namun, yang menjadi masalah ketika kita menjadikan family time sebagai alasan menolak aktivitas kebaikan yang bisa dilakukan di hari-hari libur.
Hari Minggu, kan family time, jadi saya tidak mau mengerjakan tugas apapun itu. Ini kan waktu-waktu liburan sekolah, jadi saya mau family time dengan keluarga. Sering banget ya mendengar alasan-alasan di atas. Tentunya itu dalam konteks normal ya. Bukan situasi penting mendesak seperti anak sakit, sehingga memilih menolak tugas mulia. Padahal, sebenarnya, family time itu tidak berbingkai hari libur atau tidak libur. Family time bisa dilakukan di hari apa saja. Bahkan di hari kerja. Family time juga tidak melulu liburan ke luar kota, tapi bisa berupa makan bersama, mengaji bersama, masak bersama, yang semuanya bisa dilakukan di hari kerja. Dan, kalaupun ada pekerjaan atau tugas mulia di hari libur, toh kan gak selalu ada. Sifatnya insidental.
Saya teringat sebuah ayat yang cukup menampar, bagi yang merasa tentunya. Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. Mari berkaca kepada para Nabi. Jika Nabi Ibrahim a.s memilih family time, maka beliau pasti menolak melaksanakan perintah Allah, meninggalkan Hajar dan bayi Ismail di lembah Mekkah yang tandus. Jika Nabi Nuh a.s memilih family time, maka beliau tidak akan naik bahtera bersama kaumnya yang taat dan meninggalkan anak istrinya yang durhaka. Ah itu kan Nabi.
Baiklah, kita tengok para sahabat. Sahabat nabi, bukan orang-orang sembarangan. mereka didikan langsung Rasulullah. Namun mereka bukan malaikat. Mereka cinta dan peduli keluarga, mereka juga berdagang mencari nafkah keluarga. Namun ketika panggilan hayya ala’jihad, mereka langsung menyambut. Jika Mush’ab bin Umair, memilih family time-bersenang-senang dengan keluarga, pasti ia akan menolak hijrah ke Madinah dalam keadaan faqir. Jika Abu Bakar dan Umar lebih memilih hartanya supaya bisa ber-family time, maka beliau berdua tidak akan menyedekahkan separuh harta kekayaannya di jalan Allah. Menjadi orang terkaya dengan gemerlap harta di bumi Mekkah sampai akhir hayat. (Neea Sweet)
Jika Khansa memilih family time, maka ia tidak akan membiarkan keempat putranya syahid di medan perang. Ia mungkin hanya akan memeluk mereka di dalam rumah, tanpa meraih keutamaan syahid. Jadi kuncinya adalah mindset yang harus diperbaiki. Skala prioritas dalam menerapkan aktivitas sehari-hari. Family time penting, agendakan secara rutin. Maksimalkan bonding dengan keluarga. Namun jangan dijadikan tameng untuk mager, malas gerak, dalam melaksanakan tugas mulia di luar. Family time penting. Tapi ketika sudah ada hayya ala jihad, seruan berdakwah, seruan kebaikan. Maka sikap terbaik kita adalah bersegera menyambutnya (sur’atul istijabah). Wallahu alam bish showab. (Tulisan ini diambil dari isi buku solo saya yang ke-delapan I am (Not) SuperMom, yang akan launching dalam waktu dekat-mohon doanya). (Neea Sweet)


