Anakku Menuntunku Ke Surga

Oleh : Ustadz Fatkhur Rozi, S.ThI Al Hafidz (Guru Al Qur'an SDIT Al Uswah}

Anak adalah anugerah dan amanah dari Allah SWT. Tidak semua pasangan merasakan anugerah berupa anak, berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan keturunan. Maka jika Allah sudah menghadirkan anak, Orang tua menyambut gembira lalu mengasuh dan mendidik dengan baik amanah dari Allah tersebut.

Anak lahir dalam keadaan beriman kepada Allah. Sebelum ditiupkan ke dalam rahim, ruh sudah disumpah oleh Allah yang diabadikan dalam Al Qur’an Surat Al A’raf ayat 172, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah/suci (Orang tuanya yang menjadikan Yahudi, Nasrani, Majusi).

Maka kita sebagai Orang tua perlu mempertahankan atau menjaga fitrah anak sebagaimana ia dilahirkan, suci dan beriman kepada Allah. Perlu diingat, anak dapat menjadi penolong bagi Orang tua atau sebaliknya dapat menjadi penghalang Orang tua masuk Surga. Di dalam Al Qur’an tentang bagaimana posisi anak di antaranya:

  1. Sebagai penyejuk mata (Qurrata A’yun) (QS. Al Furqan : 74)
  2. Sebagai perhiasan dunia (Ziinatu Hayat, QS. Al Kahfi : 46)
  3. Sebagai ujian dan fitnah (QS. At Taghabun : 15 dan Al Anfal : 28)
  4. Sebagai musuh (QS. Taghabun : 14)

Dalam hadits tentang amal yang akan terus mengalir pahalanya. Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau *anak sholeh yang mendoakan kepadanya.”* (HR. Muslim). Diantara tanda sholehnya seorang anak adalah mau mendoakan orang tuanya, dan berharap kedua orang tuanya mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan dunia juga akhirat.

Memprihatinkan (jika seperti dalam video yang diputarkan), ketika seorang anak berziarah ke makam ibunya dan ingin mendoakan, ternyata si anak memutarkan lantunan ayat suci Al Qur’an dari HP yang disandarkan di batu nisan dan meminta sang ibu untuk mendengarkan sampai selesai. Bukan si anak yang mengaji langsung dari lisannya sendiri. Tentunya kita tidak ingin hal ini terjadi pada anak kita akibat di waktu kecil tidak belajar mengaji.

Pendidikan anak yang penting di antaranya mengajarkan Al Qur’an baik tahfidz maupun tahsin.

Tidak hanya berlomba memperbanyak hafalan namun juga memperbaiki atau membaguskan bacaan Al Qur’an. Sebagai penyemangat kita untuk mempelajari Al Qur’an, membaca, dan menghafalkannya adalah

Kategori sebaik-baik dari kita: Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori)

Al Qur’an itu dimudahkan oleh Allah. Firman Allah swt: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qamar : 17, 22, 32, dan 40). Bahkan ayat ini diulang hingga 4 kali dalam surat tersebut.

Yang membaca Al Qur’an kelak mendapat syafaat. Nabi saw bersabda: “Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafaat pada pembacanya” (HR. Muslim)

Bukan hanya untuk pembacanya saja. Syafaat dari seorang Hafizh juga bagi keluarganya. Hadits Nabi saw: “Barangsiapa membaca Al Qur’an dan menghafalkannya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga serta akan memberi syafa’at kepada sepuluh dari keluarganya yang seharusnya masuk neraka.” (HR. Ibnu Majah). Karena itu wasilah atau sarana Al Qur’an ini perlu dikuatkan kepada anak kita agar kelak dapat menjadi penolong.

Menjadi keluarga Allah. Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari golongan manusia.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahlul Al Qur’an; mereka adalah keluarga Allah dan pilihan-Nya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim)

Sebagai penutup, Al Qur’an adalah Kalam Allah yang mulia, yang diturunkan pada Nabi yang berakhlaq mulia, dan apapun yang berkenaan dengan Al Qur’an insya Allah akan dimuliakan oleh Allah SWT.  Bulan Ramadhan menjadi mulia karena Al Qur’an diturunkan pada bulan tersebut, Lailatul Qadar menjadi malam istimewa karena pada malam itu diturunkan. Maka ketika kita mengajarkan kepada anak-anak kita Al Qur’an, memberikan pendidikan melalui sekolah yang banyak mengajarkan Al Qur’an, insya Allah kita dan anak-anak kita akan dimuliakan oleh Allah SWT.

Semoga kita semua dikuatkan oleh Allah SWT dalam mendidik dan mengarahkan anak-anak kita menuju kondisi yang lebih baik dari kita. Semoga anak-anak kita dijadikan oleh Allah sebagai Ahlul Qur’an, yang senantiasa berinteraksi dengan Al Qur’an. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin

*Disampaikan di acara Talkshow “Anakku Menuntunku Ke Surga”

Artikel Lainya