Belajar IPS Asyik dengan TERPADU

Oleh: Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)

Menjadi guru IPS, adalah pengalaman pertama penulis selama dua belas tahun mengajar di jenjang Sekolah Dasar. Tahun sebelumnya, penulis mengajar PAI dan PPKn, dua tahun sebelumnya penulis mengajar Bahasa Jawa dan Bahasa Inggris, bahkan tiga tahun sebelumnya  penulis mengajar matematika selama tiga tahun. Pada tahun ini, penulis diberi amanah mengajar mata pelajaran IPS dan Bahasa Indonesia. Tentunya ini adalah hal yang baru dan menantang buat penulis.

Hal pertama yang penulis lakukan adalah melakukan pemetaan materi. Sejauh mana dan sedalam apa materi IPS yang akan penulis ajarkan pada siswa kelas 6 sekolah dasar. Penulis membaca setidaknya dua sampai tiga buku paket pelajaran. Kemudian penulis komparasikan dengan sumber belajar lain seperti  Api Sejarah-nya Ahmad Mansyur Suryanegara serta website resmi materi terkait. Last but not least, penulis menyesuaikan dengan arah kebijakan dan idealisme sekolah. Kebijakan sekolah menitikberatkan pada budaya literasi dan materi esensial yang berdampak langsung bagi siswa.

Hal berikutnya yang juga penting penulis lakukan adalah menggabungkan mata pelajaran yang penulis ampu menjadi sebuah pembelajaran tematik. Mata pelajaran Bahasa Indonesia dan mata pelajaran IPS melebur menjadi beberapa tema pembelajaran. Alhamdulillah, setelah bedah materi dua mata pelajaran, penulis membagi menjadi tiga tema pembelajaran. Tema pertama berjudul “Merdeka!” merupakan peleburan materi pokok kalimat tanya dan makna proklamasi. Tema kedua berjudul Globalisasi yang merupakan peleburan materi ide pokok dan kalimat utama (Bahasa Indonesia) dengan Globalisasi (IPS). Tema ketiga berjudul ASEAN yang merupakan peleburan materi teks eksplanasi Bahasa Indonesia dan materi IPS ASEAN.

Di sisi lain, penulis harus mempertimbangkan kondisi belajar yang masih 75% daring atau dalam jaringan. Situasi pandemi selama dua tahun terakhir, sangat mengubah pola dan tingkah laku belajar siswa. Sudah mafhum dijumpai di banyak sekolah,  kasus dimana siswa tidak bersungguh-sungguh ketika belajar daring. Contoh nyata saja, siswa bangun siang dan tidak mandi ketika belajar daring via video conferrence kemudian menutup kamera. Entah mereka masih menyimak atau kembali tidur bahkan ditinggal main. 

Dengan banyak pertimbangan di atas, akhirnya penulis menyusun prinsip pembelajaran tematik Bahasa Indonesia – IPS yang mengasah siswa untuk banyak membaca, tidak banyak hafalan serta mengutamakan student wellfare.  Kemudian, penulis juga memadukan rancangan pembelajaran berdasarkan tahapan pembelajaran khas Sekolah Islam Terpadu yang dikenal dengan prinsip TERPADU.

TERPADU memiliki kepanjangan Telaah, Eksplorasi, Rumuskan, Presentasikan, Duniawi dan Ukhrowi. Setiap tahapan pembelajaran TERPADU sesuai dengan prinsip pembelajaran scientific yang digagas pemerintah melalui Kurikulum 2016.  Bahkan menurut sumber resmi JSIT, TERPADU merupakan pendekatan scientific yang disempurnakan dengan tahap penerapan pemahaman yang diperoleh di kelas ke dalam kehidupan keseharian siswa, baik dari aspek duniawi maupun ukhrowinya.

Tema Merdeka membutuhkan waktu sekitar tiga pekan dengan 1 kali pertemuan setiap pekan. Setiap pertemuan satu kali skenario pembelajaran TERPADU yang tertuang pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP di sekolah penulis, bentuknya amat sederhana namun tepat sasaran. Memudahkan guru dalam menyusun dan benar-benar dipakai, tidak copy paste, begitu prinsipnya.

Pada pertemuan perdana tema “Merdeka!”, penulis membuka pembelajaran dengan menyimak video bertema perjuangan kemerdekaan. Tahapan ini bernama telaah. Kemudian masing-masing siswa penulis minta membuat satu kalimat tanya yang bersumber dari video tersebut. Tahapa ini bernama Eksplorasi. Dari kalimat tanya yang terkumpul kami analisa bersama, apakah penulisan kalimat tanya tersebut sudah benar atau belum. Hingga kemudian penulis mengajak siswa merumuskan ciri khas kalimat tanya yang benar. Tahapan ini bernama Rumuskan. Setelah menyusun kalimat tanya dengan benar, kami membahas tentang adab bertanya yang baik. Tahapan ini bernama Duniawi dan Ukhrawi.

Pada pertemuan kedua,  penulis masih dengan pendekatan TERPADU dalam mengajar. Pemulis memulai dengan menonton video dan membaca bersama buku IPS kemudian siswa diminta berdiskusi dalam kelompok kecil melalui fitur breakout room tentang makna kemerdekan dan upaya pemuda dalam mengisi kemerdekaan. Setelah berdiskusi, siswa presentasi dalam forum besar. Setiap kelompok menilai penampilan kelompok lain.  Aktivitas diskusi ini terekam dan di-share kepada siswa melalui grup kelas.

Prinsip yang sama juga diterapkan pada pembelajaran berikut-berikutnya bahkan pada tema yang lain. Pada intinya, penulis tidak ingin pembelajaran IPS hanya sekadar ceramah dan hafalan. Sangat membosankan dan menyulitkan tentunya. Ceramah ansih apalagi secara daring hanya akan membuat siswa “lari” dengan off camera. Hafalan materi secara tekstual juga membuat siswa melakukan kecurangan selama penilaian. Stress juga karena harus menghafal tanggal, tahun peristiwa tertentu.

Satu lagi, pada saat penilaian atau formatif IPS, penulis menerapkan prinsip open book. Siswa diperbolehkan membaca buku paket IPS selama formatif. Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan yang diberikan penulis bukan pertanyaan bertipe C1 atau C2 yang menitiberatkan pada recall memory. Pertanyaan yang diberikan berupa studi kasus dan uraian tertulis baik dalam bentuk form online maupun tulisan tangan. Harapan penulis cuma satu, siswa jadi lebih banyak membaca. Karena mengharap siswa membaca buku di rumah itu sangat sulit. Selain gadget yang menjadi saingan, juga pola asuh yang minim literasi di rumah.

Demikian pola pembelajaran IPS yang penulis terapkan. Tentunya masih banyak kekurangan, namun demikianlah sebuah proses itu berlangsung. Penulis masih terus berbenah supaya, pembelajaran IPS yang semula dianggap sulit dan membosankan, menjadi pembelajaran yang sarat eksplorasi diri. 

Bravo IPS!

Insprirasi Guru Lainya