Berbagi Cara Melatih Kemandirian Anak

Oleh: Sulaikah Kurniawati, S.Si (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)

Anak-anak memang unik dengan segala pertanyaan dan rasa ingin tahunya. Seringkali penulis dibuat kelabakan dengan kejutan kalimat tanya yang dilontarkan. Kali ini pertanyaan datang dari anak perempuanku yang berusia 9 tahun saat itu. Si Nduk bertanya, “Umi, nanti misalnya lho ya, Umi Abi cerai rencananya gimana? Siapa yang ikut Umi siapa yang ikut Abi? Glek! Aku hanya menelan ludah, Heran, anak ini kok bisa tanya kayak begini ya, padahal di rumah kagak ada agenda nonton Ikatan Cinta atau sebangsanya. Sempat bingung mau jawab apa, tapi bukan Umi cantik jika tidak mampu menjawab dengan tepat.

Aku pun menjawab, “Hm… Umi dan Abi tidak pernah punya rencana untuk itu sih Dek. Yang umi Abi rencanakan adalah bagaimana menyiapkan kalian ketika Umi dan Abi meninggal kelak. Ya bagaimana kalian mandiri kalian dan bagaimana ibadah kalian itu tentunya.” Tiba-tiba kakaknya, si Azzam, protes dan nimbrung. “Lha umi mesti gitu ngomongnya. Aku lho mau Umi Abi hidup terus,” katanya. Aku pun menjawab, “Ya gak bisa lah. Suatu saat entah Umi atau Abi dulu yang akan meninggal kan kalian di dunia.” Dan mereka pun bengong mendengar jawabanku. Obrolan keluarga saat itu mengingatkanku tugas utama kita dalam mendidik anak. Kita mendidik anak supaya mereka memiliki mental mandiri dan siap berjuang tatkala kita sudah tiada membersamai mereka.

Mendidik anak di zaman serba canggih seperti ini, susah-susah gampang. Anak-anak tumbuh di zaman digital yang notabene berbeda jauh dengan zaman kita dulu yang serba konvensional. Semua serba canggih. Tak mengherankan, hal ini juga berpengaruh pada pola pikir anak jamannow yang menjadi praktis dan pragmatis. Perbedaan ini seringkali menimbulkan konflik orang tua versus anak. Alih-alih memaksakan segala sesuatunya yang harus sesuai dengan versi kita hanya akan membuat konflik berkepanjangan.

Di sisi lain, sebagian orang tua memilih berkompromi dengan cara memenuhi segala keinginan anak secara cepat. Semua serba dilayani, semua serba mudah. Pola pengasuhan yang full service yang seperti ini semakin membuat anak jaman digital menjadi semakin tidak cukup dewasa dalam menghadapi tahapan perkembangannya.

Situasi ini tidak bisa didiamkan. Sebagai orang tua, kita perlu terus berbenah, memperbaiki pola pengasuhan di rumah, supaya anak tetap bisa tumbuh dan matang sesuai usianya. Setidaknya ada lima tips yang akan disampaikan sebagai panduan bagi orang tua.

Pertama, beri contoh yang baik. Teladan perilaku orang tua, menjadi yang utama dibandingkan segala nasehat lisan. Tidak ada orang tua yang sempurna, namun sebagai orang tua, perlu memberikan contoh yang baik sesuai yang kita inginkan pada anak. Misalnya, jika ingin anak pantang menyerah, maka orang tua memberikan contoh supaya tidak menyerah dalam menghadapi masalah kecil di rumah.

Kedua, latih tanggung jawab dengan memberikan tugas kerumahtanggaan rutin. Orang tua dan anak bisa bersepakat untuk memilih tugas kerumahtanggaan mana yang harus ditunaikan si anak. Misalnya mencuci piring setelah makan, menyapu setiap sore. Detil dan spesifik tugas juga disampaikan ke anak supaya jelas. Bila perlu, beri contoh cara melakukan tugas tersebut dengan benar.

Ketiga, buat aturan dan kesepakatan di rumah bersama. Apa yang boleh dan tidak boleh serta konsekuensi jika dilanggar perlu disepakati dalam sebuah rapat keluarga. Pastikan anak-anak ikut berpendapat dan tentu saja didengar pendapatnya. Sampaikan alasan-alasan yang logis jika kita menolak pendapatnya. Jangan lupa memberikan apresiasi dan pujian jika anak-anak telah melaksanakan kesepakatan dengan baik.

 Keempat, jadilah sahabat anak. Kenali apa yang disukai dan tidak disukai oleh anak. Kenali pula apa yang sedang hype pada anak. Jika kesukaan anak berbeda jauh dengan orang tua, maka tidak perlu paranoid. Tenang. Misalnya, anak-anak suka sekali dengan artis K-Pop dengan segala pernak-perniknya. Yang harus dilakukan oleh para orang tua adalah berlapang dada dan mendekat. Dekati anak dan biarkan mereka bercerita tentang kesukaannya. Jika mereka sudah terbuka bersama kita, maka kita bisa memberikan nilai-nilai penyeimbang.

Demikianlah sedikit tips dalam mendidik kemandirian anak. Tidak mudah namun yang penting dilakukan sedikit demi sedikit. Konsistensi dan kekompakan orang tua menjadi kunci sukses yang tak kalah pentingnya.

Insprirasi Guru Lainya