Berjuta Rasa Membaca Sejarah
Oleh: Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)
Seru! Satu kata yang muncul ketika membaca Api Sejarah 2 karya Ahmad Mansur Suryanegara. Buku ini tebal banget, 600 halaman, sudah termasuk daftar pustaka. Bagi yang tidak suka membaca, maka akan mules duluan begitu melihatnya. Tapi bagi pecinta buku, buku ini bisa dianalogikan ibarat pizza ukuran large dengan topping paprika, peperoni, sosis dan full mozarella. Lezat dan berkalori tinggi.
Membacanya pun seperti makan pizza. Sepotong demi sepotong. Kalau kenyang, besok lagi makannya. Maka membaca buku tebal bersampul merah ini pun sedikit demi sedikit; sambil menikmati setiap potongan paragraf nya. Saya baru menikmati aktivitas membaca sejarah ya baru-baru ini. Ketika sudah dewasa dan beranak dua. Dulu-dulu, tidak terlalu tertarik. Mungkin mindset di kepala saya saat itu buku sejarah itu banyak hafalan tanggal tahun dan nama-nama orangnya, sehingga membosankan.
Ya gimana, dulu ketika ujian pelajaran sejarah, maka pertanyaan yang harus kita jawab ketika ujian adalah ; kapan Perang Diponegoro terjadi? ; Siapa nama kecil Tuanku Imam Bonjol? ; Atau pertempuran 10 November terjadi di kota mana ?. Pertanyaan yang sifatnya recall, dan kita harus hafal tanpa tahu maknanya. Ya sudahlah, tak perlu menyalahkan para guru di masa lalu. Namun kita, guru di masa sekarang, harus lebih baik lagi mengajarkan sejarah kepada siswa. Tidak terjebak hafalan pengetahuan saja. Tapi bagaimana mereka mampu belajar mengambil hikmah dari sejarah masa lalu.
Kembali lagi dengan buku Api Sejarah. Ekspresi saya berbeda ketika membaca buku ini. Jika membaca buku lain, maka saya cukup menikmati emosi buku dalam diri saya sendiri. Tapi tidak dengan buku ini. Saya beberapa kali bergumam dan berbicara sendiri. Seperti apa? Misalnya begini. Ketika, membaca buku ini pada sub bab tentang organisasi zaman pergerakan nasional, saya terkejut dengan salah satu tokoh yang dielu-elukan sebagai tokoh kebangkitan nasional. Ternyata si tokoh ini dulu pernah melukai hati umat Islam.
Saya pernah merasa gemas dan kesal ketika membaca pengkhianatan terhadap para ulama setelah proklamasi kemerdekaan. Judul sub bab-nya Kudeta Tak Berdarah. Para sosialis itu mengambil alih kementerian yang baru dibentuk, dengan tidak melibatkan para ulama yang termasuk founding father negeri ini sebagai menteri.
Namun lagi-lagi saya mengacungkan banyak jempol kepada para ulama terdahulu. Walaupun mereka dipinggirkan pasca proklamasi, mereka tetap menyerukan Perang Sabil ketika tentara Sekutu dan Inggris mengacak-acak Indonesia lagi. Mereka tetap berjihad bersama para santri; mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat jihad dan pekikan takbir lah yang membuat tentara Sekutu kocar-kacir. Allahu Akbar!
Diatas semuanya, banyak rasa yang berkecamuk ketika membaca buku ini. Indonesia sepenggal firdaus yang sejak dulu diperebutkan oleh para penjajah, dengan jumlah umat Islam yang mayoritas. Maka itu menjadi ancaman bagi penjajah, apabila Indonesia menjadi negara dan bangsa yang besar. Hegemoni kapitalis para penjajah itu akan berantakan ketika umat Islam bangkit. Semoga Allah selalu menjaga Indonesia-ku


