Berkenalan dengan Love For Haura

Oleh : Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)

Saya memulai memikirkan menulis novel Love For Haura sejak November 2021. Ada sebuah keinginan kuat untuk membuat sebuah novel remaja yang lekat dengan dunia SIT. Yang dibenakku saat itu adalah keresahan ketika melihat fenomena siswa putri alumni SIT yang mulai tidak bisa menjaga diri di sekolah yang baru. Entah itu mereka melepas jilbab, mulai pacaran, sampai nyontek dan bahkan menjadi model. Rasanya setengah mati kami berusaha menjaga mereka selama enam tahun di SD. Ya tentunya, semua itu adalah pilihan mereka. Bagian dari sebuah episode hidup yang beraneka ragam. Tidak ada yang memaksa dan sah-sah saja.

Tetap saja, saya sebagai guru mereka, merasa tidak tenang. Sesuatu harus kulakukan. Tak mungkin langsung menegur mereka secara langsung karena itu akan melanggar banyak hal. Tidak etis.

Baiklah, perbaikan internal cara mendidik adalah sesuatu yang paling rasional untuk dilakukan. Setidaknya menjaga mereka yang masih belum lulus dengan cara-cara yang lebih baik. Cara-cara yang lebih humanis, tidak hanya berupa perintah itu benar itu salah kamu harus lakukan itu, kamu tidak boleh lakukan yang lain. Menguatkan tauhid menjadi hal pokok dan tentu saja menjadi imunitas keimanan.

Satu lagi yang bisa saya lakukan adalah dengan cara menulis. Menulis sesuatu dengan tema yang menarik. Novel remaja adalah pilihan. Mengingat sekarang banyak remaja kita yang suka membaca novel elektronik di beragam platform digital. Duh, jangan tanya bagaimana konten novel di platform digital itu. Sebagian besar isinya perselingkuhan, dunia bergetah dan pacaran tentunya. Sedikit sekali yang memberikan konten positif yang membangun jiwa.

Remaja kita juga suka nonton film bioskop bertema remaja. Tuh, lihat saja Dylan, Teman Tapi Menikah, Dear Nathan, dan lain-lain. Film Dylan 1991 berhasil menembus 6,3 juta penonton. Film Teman Tapi Menikah berhasil menghimpun 1,6 juta penonton. Film Dear Nathan juga menembus 15 besar film favorit tahun 2018.  Semuanya bergenre romance teenlit. Film romantis untuk remaja,

Maka kesimpulannya adalah, saya harus menulis novel untuk remaja bergenre romance. So, what bext?

Saya mulai menciptakan tokoh-tokohnya. Bersama si Nduk, saya memberi nama tokoh utama novel dengan nama Haura. Wanita berkulit putih dan bermata bulat. Kurang lebih itu artinya. Kemudian saya menentukan karakteristik tokoh Haura yang lekat dengan dunia SIT. Siswa SIT umumnya hafal Al Qur’an, agak tertutup, dan jago beladiri. Baik, karakter kunci sudah dapat. Kembangkan lagi lebih dalam.

Selanjutnya saya menambahkan karakter lainnya untuk melengkapinya. Ada Ray si pemuda agnostik dari kalangan menengah atas dengan banyak pergulatan emosinya. Ada pula karakter kunci berupa Umi Rima yang menjadi sosok orang tua idaman.

November 2021, saya memulai riset dan merancang outline. Baca buku sana sini, searching web site dan mengamati sekitar dunia remaha. Dalam sebulan saya menghabiskan tiga judul novel, dua buku serta beberapa artikel.  Ketika membaca novel, saya menganalisis pola kalimat dan alur. Saya bukan lagi reading as a reader, tapi reading as a writer. Tentu saja, novelnya Kang Abik yang menjadi panutan utama. Secara beliau penulis favoritku. Selanjutnya novel karya Bunda Sinta Yudisia yang juga saya lahap.

Desember 2021 saya memulai menulis. Sengaja saya ikut tantangan menulis 30 hari sebagai trigger untuk rutin menulis. Supaya tidak malas dan mengasah jiwa kompetitif juga. Setiap malam setelah Isya saya mulai menulis di depan laptop. Alhamdulillah, novel 34 bab itu selesai di awal Januari 2022.

Apakah selesai begitu saja? Oh tidak! Sebulan penuh saya mulai self editing. Sunting paragraf sana sunting paragraf sini. Saya juga memperbaiki alur, menambahkan cerita penguat, mengurangi kalimat-kalimat tidak efektif serta editing teknis  PUEBI, sampai akhirnya saya serahkan kepad first reader saya, yakni guru menulis saya, Bu Umi dari Jombang. Dari beliau saya mendapatkan banyak sekali masukan. Sunting lagi, deh aktivitas saya. But it’s ok. Konon katanya novel Harry Potter mengalami banyak sekali penyuntingan sebelum launching. Bahkan penolakan 15 kali. Hm…

Melelahkan memang. Setiap malam melekan selama dua bulan. Tapi saya senang melaksanakannya. Berkejaran dengan tugas mengajar di sekolah yang juga tak habis-habis. Selalu ada saja yang hal yang menantang untuk ditunaikan.

Pada episode berikutnya, saya pusing menentukan penerbitan yang sesuai dengan budget. Belum percaya diri menyerahkan ke penerbit mayor, saya memilih penerbitan indie. Cari sana sini, sampailah bertemu dengan penerbitan yang namanya sama dengan nama tokoh utama novel. Haura Publishing. Secara harga, ramah di kantong. Saya bertanya ke teman yang pernah menerbitkan buku di sana juga katanya bagus. Baiklah bungkus.

Demikian proses panjang pembuatan novel Love For Haura. Semoga buku karya kedua saya mendapatkan banyak sambutan positif dan tentu saja bermanfaat dengan target pembaca yang seluas mungkin. Sekarang, saya sedang menyiapkan sekuel kedua dari Love For Haura. Lebih dalam intriknya, lebih kuat karakter tokohnya. Bismillah. (Neea Sweet)

Insprirasi Guru Lainya