Besarnya Harapan Para Orangtua Kepada Anak-Anaknya

Oleh: Sulaikah Kurniawati, S.Si (Waka Kesiswaan SDIT Al Uswah Surabaya)

Saya barusan membaca bukan buku baru. Tapi buku lama yang baru sempat dibaca. Alhamdulillah rampung dibaca disela-sela agenda rumah. Buku novel Kak Sinta Yudisia sarat dengan pesan-pesan bernuansa psikologis yang ringan mengalir. Ga yang perlu mikir berat. Namun membuat diri banyak merenung. Berkisah tentang seorang Lemon yang demen banget manga anime dan dunia desain. Namun dilanda inferiority complex karena tidak cantik, tidak pinter, tidak kaya. Situasinya sulit, harus manut pada orangtua menjadi pegawai atau menggapai mimpi-mimpinya yang mengkristal, menjadi komikus

Saya jadi berkaca. Adakah diri ini seperti orangtua si Lemon yang menitipkan harapan tinggi kepada anak-anaknya. Lalu memaksakan pilihan hidupnya. Keinget si sulung pernah nyeletuk, umi ini berharap ke aku banyak sekali. Ya harus begini, kudu begitu. Pias mendengarnya.  Padahal ya harapan diri ini sederhana, dia sibuk dengan banyak hal kebaikan, sampai lupa atau bahkan tidak sempat memikirkan hal-hal receh ataupun maksiat. Oke baik. Tarik nafas. Sabar.

Buku ini juga memberi pesan penting parenting, untuk orangrua agar tidak membanding-bandingkan anaknya dengan yang lainnya. Betapa tokoh Lemon sering kesal ketika si ibu membandingkan dirinya dengan Anona ataupun sepupu-sepupunya. Dari sini saya berkaca lagi. Alhamdulillah, dulu sempat begitu. Tapi sekarang sudah tobat. Memang hati sempat nyesek, ketika mendengar curhatan siswa di sekolah, yang mana orangtua mereka seringkali membandingkan dengan teman-temannya. Si anu lho sudah bisa hafal 3 juz. Kamu kok 1 juz saja kok belum hafal. Si itu lho bisa bagus-bagus nilainya. Masak kamu remedial terus. Kembali hati ini merasa deg. Tarik nafas dan Sedih.

Aku coba menguatkan mereka. Sabar yaa. Mungkin itu cara orangtua kalian menyemangati supaya kalian lebih rajin. Hanya itu. Sambil berdoa semoga Allah subhanahu wata’ala karuniakan hikmah untuk kami, para orangtua. Mari kita belajar lagi. Mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Kegiatan Parenting di sekolah memang harusnya ilmu sepanjang hayat. Tidak sebatas satu jam dua jam seminar lalu beres semua perkara. Kita berhadapan dengan manusia. Amat dinamis. Maka perlu melihat dari berbagai sudut yang berbeda. Perlu perbaikan di sana sini.  Perlu refleksi. Perlu pertolongan Allah. Maka teringat nasihat Aa Gym: “Kemampuan orang tua mendidik anak ada batasnya. Sedangkan pintu pertolongan Allah tiada terbatas. Maka iringi proses mendidik anak dengan doa.”

Insprirasi Guru Lainya