Buku Dan Tantangan Membaca
Oleh: Sulaikah Kurniawati, S.Si (Wakasis SDIT Al Uswah Surabaya)
Buku bukanlah barang yang kalau ketinggalan, kita akan rela balik untuk mengambil. Membaca buku (atau e-book) juga bukan aktivitas se-asyik scrolling beranda medsos, yang baru berhenti kalo baterai HP tinggal sekian persen. Gak usah jauh-jauh bicara literasi. Tapi memang hanya sedikit orang yang belanja buku rutin setiap bulan. Belanja aja ya. Belum membacanya. Baca. Read. Iqro’, sudah sejelas itu perintah untuk membaca dalam kitab suci Al Qur’an.
Saking jelasnya (atau saking bebalnya diri) sampai harus membiasakan lagi untuk membaca buku. Membaca buku ibarat memberikan makanan akal kita. Dan memang butuh memaksa diri untuk mau lebih banyak berduaan dengan si buku.
Memilih kelas menulis 200H adalah salah satu solusinya. Seperti pada kelas menulis 60HMB, kelas ini “memaksa” kita untuk membaca buku setiap hari. Menggunakan WAG dan aplikasi Luna Reading Tracker sebagai media kontrol. Ada report pencapaian jumlah halaman setiap pekan. Dan akan malu kalo ternyata jumlah halaman yang sudah kita baca jauh dari rata² kelas. Berasa kena sanksi sosial. Ada banyak tantangan diberikan setiap pekan. Dan setiap tantangan deadline-nya pendek banget.
Yang menarik ketika ada tantangan membaca buku bertema filsafat. Bagi pencinta fiksi, panas otak ini mencerna setiap kalimat. Ngapain sih bahas hal-hal abstrak begitu. Wkwkwkw tapi disitulah sensasinya. Bonusnya otak kiri jadi terasah. Yang paling disuka adalah tantangan membaca buku bertema sejarah. Ada gemes-gemesnya. Tapi seru banget. Tetiba aja udah 60 halaman Api Sejarah 2 sekali duduk. Ntar deh lengkapnya saya ulas pada postingan berikutnya.
Kelas mau berakhir. Dan saya masih punya PR sekian halaman untuk dituntaskan. Semangat ya untuk teman2 seperjuangan. Kalau butuh bacaan fiksi romance, cek slide 2, novel Tak Seperti Bidadari Surga siap dipinang. Eeaaa ujung-ujungnya jualan juga


