Catatan Studi Tiru, Pendidikan Karakter Melalui Pramuka
Oleh: Chairul Anwar (Guru/Ketua Gudep SMPIT Al Uswah Surabaya)
SMPIT Al Uswah merupakan salah satu sekolah Swasta di Surabaya yang terus berkomitmen untuk meningkatkan mutu Pendidikan bagi siswa-siswinya. Salah satu layanan Pendidikan yang akan ditingkatkan adalah Pendidikan karakter. Maka dari itu SMPIT Al Uswah menjadikan Pramuka sebagai salah satu wadah untuk mengoptimalkan Pendidikan karakter di sekolah.
Sekolah mulai merancang perbaikan sistem latihan kepramukaan. Salah satu hal yang sekolah lakukan pertama kali adalah dengan mengadakan Studi Tiru ke sekolah lain. Sekolah yang menjadi lokasi Studi Tiru kali ini adalah SMPIT Insal Kamil Sidoarjo.
Bersama beberapa guru Pramuka dari jenjang SDIT Al Uswah Surabaya kami berangkat menuju SMPIT Insan Kamil Sidoarjo. Studi tiru kali ini diikuti oleh Pinsakocab Sako SIT Surabaya Kak Nia, lalu Pembina Pramuka senior SDIT kak Ghofar, perwakilan managemen Al Uswah ustadz Dimas Iqbal, beberapa Pembina pramuka SDIT SMPIT serta 4 anak dari Dewan Penggalang SMPIT.
Kedatangan kami disambut dengan hangat oleh pihak Insan Kamil. Bahkan ketua Yayasan turut hadir memberikan sambutan kepada seluruh tamu rombongan. Bagi saya pribadi merupakan sebuah kehormatan yang luar biasa bisa bertemu dengan para ‘pejuang’ dari Insan Kamil. Begitulah ketua Yayasan mengistilahkan para pengajar Insan Kamil sebagai pejuang. Karena memang guru-guru di sana adalah para pejuang yang tak kenal lelah.
Ada indikator yang kami pakai untuk melihat apakah suatu Lembaga Pendidikan sudah baik atau belum dalam menerapkan Pendidikan Kepramukaan. Kami melihat dari capaiannya. Perlu diketahui bahwa capaian Pramuka yang paling tinggi adalah Pramuka Garuda. Dan Insan Kamil telah banyak sekali melahirkan Pramuka Garuda dari jenjang Siaga sampai Penggalang. Kabar terakhir yang saya dapat Insan Kamil baru saja melantik 40 Pramuka Garuda di jenjang Penggalang. Sungguh angka yang luar biasa tinggi jika dibandingkan dengan capaian sekolah kami.
Setelah menyampaikan maksud dan tujuan dari kunjungan kami, pertemuan kemudian dibagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok jenjang SD dan satu kelompok jenjang SMP. Saya bergabung dengan kelompok SMP. Saat itu jenjang SMP dipandu oleh Kak Syam. Beliau bukan orang yang asing bagi saya. Sudah kesekian kalinya kami bertemu. Karena beliau orang yang sangat aktif di kegiatan Pramuka. Bahkan beliau sebagai Panitia sekaligus pemateri, sedangkan saya hanya sebagai peserta.
Dengan ditemani oleh 4 siswi dari Dewan Penggalang, Kak Syam mulai menjelaskan kepada kami Pramuka di SMPIT Insan Kamil Sidoarjo. Mulai dari struktur kepengurusan sampai hal-hal teknis detail berkenaan dengan Pramuka Garuda beliau jelaskan dengan seksama.
Saya pun sebagai pihak yang menimba ilmu antusias sekali menyimak penjelasan-penjelasan dari kakak-kakak Dewan Penggalang dan juga dari Kak Syam. Saya ditugaskan untuk bisa menimba ilmu sebanya-banyaknya di Insan Kamil. Untuk itu saya benar=benar menyiapkan ‘gelas kosong’ untuk menampung semua yang akan disampaikan. Saya berekspektasi besar dari pertemuan ini. Dan ekspektasi itu terbayarkan dengan tuntas melalui pemaparan dari Kak Syam dan tim, bahkan lebih.
Saya akan fokuskan pada beberapa hal saja yang sangat menginspirasi supaya tulisan ini tidak terlalu Panjang. Pramuka di SMPIT Insan Kamil dibagi menjadi 3, Pramuka Reguler, Pramuka Pegasus (Penggalang Khusus), dan Pramuka Garuda. Pramuka Reguler ini wajib diikuti oleh semua siswa yang mana latihan dilakukan 1 pekan sekali di hari Rabu. Pegasus adalah regu Pramuka yang dikhususkan untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan Pramuka.
Untuk bisa masuk ke Pramuka Pegasus ini siswa diharuskan lolos seleksi, dan yang menyeleksi adalah kakak-kakak dari Dewan Penggalang kelas 9. Sedangkan Pramuka Garuda ini bersifat passion atau peminatan. Bagi siapapun yang ingin ke Garuda akan didampingi dengan kurikulum dan waktu khusus
dari Pembina.
Dari sini saya mendapat hal baru yaitu ternyata siswa-siswi kelas 9 masih bertugas. Selain itu peran Dewan Penggalang juga sangat terlihat di sini. Pembina dan Dewan Penggalang mengadakan rapat untuk menentukan materi apa yang akan disampaikan pada saat Latihan Pramuka nantinya.
Tidak hanya sebatas mengajak rapat, tapi Pembina juga memberikan kepercayaan kepada Dewan Penggalang untuk menyampaikan materi. Selain itu Dewan Penggalang juga turut mengawal kedisiplinan Peserta saat Latihan. Memeriksa kelengkapan atribut, menjaga keterlambatan, pemberian konsekuensi, menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan saat Latihan semua disiapkan oleh Dewan Penggalang.
Sehingga kegiatan Pramuka akan lebih variatif dan menyenangkan, karena yang menyiapkan materi adalah anak-anak yang seusia dengan peserta Latihan. Jadi tidak melulu dari Pembina yang memberikan materi. Kak Syam menuturkan bahwa antara Pembina dan peserta terpaut usia yang jauh. Sehingga dunia Pembina dengan peserta juga berbeda. Terkadang itulah yang menjadikan pramuka menjadi boring. Pembina tidak mengetahui apa yang disukai oleh peserta.
Di sini lah peran Dewan Penggalang yaitu menjembatani jurang pemisah tersebut agar Latihan berjalan lebih menyenangkan. Berikutnya sistem pengelompokan yang dicampur antara kelas 7, 8, dan 9 dalam satu regu merupakan hal yang baru juga bagi saya. Karena dari sini proses pendewasaan itu berlangsung.
Pendidikan karakter dibentuk melalui regu-regu kecil yang berjumlah 10 orang setiap regunya. Percampuran usia ini memunculkan percepatan pendewasaan serta karakter pada peserta didik. Kakak kelas dapat mengatur, memberikan contoh, dan juga mengajari adik-adik kelasnya. Sedangkan adik kelasnya mencontoh dan belajar patuh pada kakak kelasnya. Inilah yang selama ini saya cari.
Saya merasa ada missing link di sistem Pramuka yang diterapkan di SMPIT Al Uswah. Sejak diamanahi sebagai ketua Gugus Depan saya mencoba mencari formula yang pas untuk Dewan Penggalang saya. Tapi belum juga ketemu. Ada struktur, ada nama, dan ada proses pemilihan Dewan Penggalang di SMPTI Al Uswah. Namun ada yang kurang bagi saya. Saya merasa mereka tidak begitu terlihat perannya di sekolah. Berbeda sekali dengan anak-anak OSIS yang mana peran mereka begitu mencolok di sekolah.
Saya berterimakasih sekali kepada Kak Syam dan tim Dewan Penggalang yang sudah membagikan banyak hal. Dari situ saya punya Gambaran bagaimana Latihan Pramuka yang ideal. Dan yang tak kalah penting juga bahwa kak Syam selaku ketua Gudep SMPIT Insan Kamil Sidoarjo selalu menekankan ruh Pembina. Seorang Pembina harus selalu memberikan ruh perjuangannya kepada adik-adiknya. Karena itu lah yang mereka lihat dari Pembina.
Pembina yang memiliki ruh perjuanganlah yang akan mampu menularkan semangat perjuangan menggapai prestasi tertinggi dalam Pramuka. Yaitu Pramuka Garuda. Semoga kunjungan Studi Tiru ini bisa menjadi awal yang baik untuk Pramuka di Al Uswah. Serta menjadi ladang pahala yang mengalir tiada terputus bagi SMPIT Insan Kamil Sidoarjo. Bersama-sama kita ciptakan generasi emas berkarakter melalui Pramuka.SMPIT Al Uswah merupakan salah satu sekolah Swasta di Surabaya yang terus berkomitmen untuk meningkatkan mutu Pendidikan bagi siswa-siswinya. Salah satu layanan Pendidikan yang akan ditingkatkan adalah Pendidikan karakter. Maka dari itu SMPIT Al Uswah menjadikan Pramuka sebagai salah satu wadah untuk mengoptimalkan Pendidikan karakter di sekolah.
Sumber: https://smpit.aluswahsby.sch.id/pendidikan-karakter-melalui-pramuka/


