Dibalik Kesuksesan Hafidzah Pertama SMPIT Al Uswah Surabaya
Oleh: Chairul Anwar (Guru SMPIT Al Uswah Surabaya)
Perkenalkan namanya adalah Aura Cita Rohmani. Saat ini berusia 16 tahun. Sebagaimana anak remaja pada umumnya, dia ceria, aktif, serta suka hal-hal yang bersifat outdoor learning. Tapi ada satu hal yang tidak banyak dicapai oleh remaja lain seusianya. Dialah Hafidzah pertama di sekolahnya, SMPIT Al Uswah Surabaya. Bersama dengan 2 siswa lainnya Aura mampu menyelesaikan hafalan 30 juz pada saat kelas 9 SMP.
Kisahnya dimulai saat dia di bangku kelas 4 SD. Saat itu Aura melihat kakaknya mengikuti program khusus menghafal Quran di sekolah. Aura pun tertarik mengikuti jejak sang kakak. Akhirnya dia mulai inten menghafal serta memantapkan diri untuk menuntaskan hafalan.
Motivasi terbesarnya adalah “Ingin memberikan mahkota kepada orang tua di akhirat”. Saya berkaca-kaca ketika menulis kalimat ini, teringat betapa lemahnya diri saya. Dengan dukungan dari keluarga, teman, serta guru yang juga seorang Hafidz Aura mulai meniti jalan para shalihin. Ayat demi ayat, surat demi surat, perlahan tapi pasti. Sampai akhirnya Aura lulus SD mampu menghafal 12 juz.
Saat kelas 7 Aura sempat bimbang, mampu khatam atau tidak. Karena Aura aktif di OSIS sejak kelas 7, lalu menjabat sebagai wakil ketua OSIS pada saat kelas 8. Belum lagi ditambah kegiatan sekolah yang begitu padat. Sehingga tidak banyak waktu untuk menghafal dan murajaah.
Sampai pada akhirnya sekolah meluncurkan program baru, yaitu Program Takhasus. Program intensif untuk hafalan Qur’an sampai tuntas. Melalui program ini lah Aura fokus menghafal di jam sekolah. Dari jam 07.00 sampai jam 10.00 pagi setiap hari.
Apakah semua berjalan dengan mudah begitu saja? Tentu tidak! Semua ini butuh perjuangan, pengorbanan, keuletan, manajemen waktu, dan masih banyak lagi. Tidak hanya keringat bahkan air mata pun bercucuran. Dalam beberapa kesempatan saya melihat dia begitu tenang menghafal dan murajaah. Lalu di kesempatan lain Aura terlihat panik.
“Haduh gimana ini tugasku belum selesai yaa Allah!”, sambil tangan bergerak ke sana kemari dengan raut wajah panik. Menandakan ada hal mendesak yang harus segera dia selesaikan. Bayangkan anak seusia Aura harus bisa mengatur kapan belajar, kapan menghafal lalu murajaah, organisasi, bersosialisasi, dan waktu untuk istirahat.
Namun demikian banyak berkah yang Aura rasakan. Seperti mudah memahami pelajaran, kegiatan berjalan lancar, serta yang sangat membahagiakan adalah mendapatkan ketenangan hati yang luar biasa.
Semua capaian ini tidak akan berhasil jika tanpa adanya pembimbing. Nasihat dari pembimbing selalu memberikan kekuatan tambahan untuk terus maju. Ustadz Anang Hidayanto, M.Pd., Al Hafizh. selaku pembimbing selalu mengingatkan untuk istiqomah dalam memurajaah hafalan sampai mutqin, sampai mampu memurajaah tanpa melihat Mushaf.
Sebagai bentuk komitmen dalam menjaga hafalan, Aura diharuskan setoran murajaah kepada pembimbing, bahkan meski sedang libur sekolah. Karena memang tugas berikutnya dari Aura adalah menjaga hafalannya sampai akhir hayat.
Aura berpesan, “Teman-teman tetap semangat dan istiqamah yaa, karena tidak ada yang sia sia. Semua rasa lelah insyaallah Allah akan menggantinya dengan kemulyaan.”
Sungguh kita saksikan Aura telah membuktikan firman Allah dalam Quran surat Al Qamar ayat 17, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”, semoga kisah ini memberikan inspirasi untuk kita agar senantiasa berjuang meraih impian. Barakallah Aura.
Sumber: https://smpit.aluswahsby.sch.id/al-quran-maukah-engkau-selalu-bersamaku/


