Final Olimpiade Guru Sains 2024 Di Bogor, Menyala Otakku
Oleh: Sulaikah Kurniawati, S.Si (Wakasis SDIT Al Uswah Surabaya)
Trip keempat bulan Oktober ini adalah Bogor. Lolos babak penyisihan Olimpiade Guru Sains adalah tiketnya. Ahad tanggal 29 September 2024 adalah rangkaian awal pre-trip. Ditugaskan oleh Wakil kepala sekolah bidang kurikulum SDIT Al Uswah Surabaya untuk ikut lomba bersama para guru sains di sekolah. Agak males sih, karena selain hari libur, malam harinya sudah harus bertolak ke Magetan. Pengennya pagi itu menyalakan saving energy mode gitu. Tapi karena tugas, ya wes manut, bismillah aja. Sret sret sret. Kerjakan soal lalu feel free. Pulang. Finishing touch trip to Magetan.
Sibuk sibuk KML di Magetan. Lanjut pendampingan siswa Super Camp di Mojokerto. Dan kabar itu muncul. Lolos penyisihan dan maju final di Bogor. Weh Bogor Mojokerto belum selesai, Lumajang di depan mata eh Bogor muncul. Okeh baik, siap budhalkeun, mboh piye carane. Sampai lah pada hari keberangkatan. Jumat 18 Oktober. Bersama rombongan KPM Surabaya, pukul 9 malam, 3 bus melaju di gemerlap malam menuju Jawa Barat.
Dengan beberapa kali berhenti di rest area, kami tiba di Bogor pukul 11 siang. Pengalaman pertama perjalanan panjang menggunakan moda bus. Long trip sebelum-sebelumnya menggunakan moda kereta api dan pesawat. Masuk hotel jam 14.00 sambil melanjutkan rapat online bersama teman-temen Pramuka sampai pukul 16.00. Mencoba untuk belajar sedikit-sedikit di malam hari supaya gak nol-nol banget ketika mengerjakan soal.
The Day pun tiba. Kami berangkat dari hotel jam 7 lebih dan sampai di lokasi pukul 08.40. mepet dengan jam pengerjaan, pukul 09.00. Alhamdulillah 20 soal pilihan ganda 10 isian singkat dan 2 uraian habis dikerjakan dalam waktu 90 menit. Gak ada waktu untuk mengoreksi jawaban. But so far so good. Banyak yang bisa. Banyak pula yang tidak tahu bener apa tidak. Begitulah. Yang penting udah berusaha maksimal dan jujur.
First impression, senang menjadi bagian dari para finalis se Indonesia. Bertemu para guru dari Kebumen, Pekanbaru, Semarang dan Jawa Barat sendiri. Semangat mereka bikin nyali ciut. Gue kagak ada apa-apanya. And then, mengerjakan soal-soal MIPA berasa kembali ke masa SMA dan kuliah sekian tahun silam. Merapal kembali bagian-bagian Monera Protista, sampai menghitung Energi Kinetik dan Massa Jenis benda. Otakku berasa menyala dengan soal-soal MIPA yang sebenarnya. Berasa awet muda juga nggak sih.
Sarjana sains yang kemudian bermetamorfosis menjadi penulis novel, mengajar mapel humaniora apapun seperti Bahasa Inggris Jawa dan PKN IPS. Lalu menjadi pembina Pramuka. Banyak hikmah, banyak insight dan inspirasi. Ya walaupun sedih juga akhirnya karena belum bisa menggondol medali di akhir sesi. Bagi orang kolerik, kekalahan itu menyedihkan. Berasa jadi The Looser. But life must go on. Hidup gak sekadar menang kalah.
Banyak hal baik yang bisa direngkuh. Maka memupuk rasa penasaran dan terus men-challange diri untuk melakukan lompatan-lompatan besar ke depan adalah hal terpenting. Never enough to be better me. Kalau kata seorang Ustad senior “Setiap orang sudah ditempatkan di bidangnya masing-masing”. Oke baik. Sendiko dawuh. Bismillah, Semangat berjuang di event-event selanjutnya.
Subang 20 Oktober 2024. Ditulis di dalam Bus 2 yang sedang berjalan menembus jalanan malam
(Neea Sweet)


