Hakekat Qurban, Wujud Rasa Syukur Seorang Hamba

Oleh: Mondzir Al Hasani, M.HI (Guru SMPIT Al Uswah Surabaya)

Sebagai seorang hamba kita benar-benar merasakan dan menyadari bahwa Allah sangat banyak memberikan nikmat dan karunianya kepada kita. Mulai dari kita lahir sampai saat ini. Mulai nikmat terkecil sampai yang terbesar. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam QS. Surat an-Nahl ayat 18 yang artinya: “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah maka kalian tidak akan mampu menghitungnya” Ayat ini menegaskan kepada kita, betapa Allah sangat banyak memberikan nikmatnya kepada kita sebagai seorang hamba.

Banyaknya nikmat Allah yang diberikan kepada kita menunjukkan bahwa Allah sebagai sang pencipta sudah memberikan apa yang seharusnya Allah berikan kepada kita. Bahkan apa yang Allah berikan kepada kita sudah melebihi apa yang seharusnya kita dapatkan. Ada di antara kita yang sebelumnya sakit kemudian sehat, ada yang sebelumnya hidup sendiri tapi sekarang hidup dengan istri, ada juga yang sebelumnya tidak memiliki rumah sekarang sudah memiliki rumah. Semuanya itu adalah karunia dan nikmat Allah.

Karunia dan nikmat Allah yang begitu banyak ini bagi seorang hamba yang bersyukur akan menjadi alasan baginya untuk memaksimalkan kewajibannya sebagai seorang hamba. Di antara yang menjadi jalan bagi seorang hamba yang ingin memaksimalkan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah adalah melaksanakan perintah yang tertulis di dalam QS. al-Kautsar ayat 1-3

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ (2) اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ (3)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.

Surat al-Kautsar ini sangat menakjubkan sekali secara susunannya. Dimana ayat yang pertama Allah menyampaikan fakta tentang nikmat yang begitu besar dan banyak yang diberikan kepada hambanya, di antaranya berupa telaga kautsar yang airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, siapapun yang meminumnya walaupun hanya seteguk maka tidak akan merasakan haus selamanya dan nikmat-nikmat Allah yang lainnya. Sedangkan ayat yang kedua setelah Allah menjelaskan fakta tentang banyaknya nikmat yang diberikan, Allah memerintahkan untuk melaksanakan sholat dengan Ikhlas dan berkurban sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang disebutkan ayat yang pertama. Sedangkan ayat ketiga Allah menutup dengan pernyataan bagi siapapun yang membenci Nabi dan syariatnya dia akan terputus dari nikmatnya.

Oleh karena itu syariat Qurban bukan sekedar menyembelih hewan qurban akan tetapi ada nilai pengabdian dan pengorbanan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas ni’mat dan karunia yang sudah didapatkan. Bahkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi disebutkan bahwa berqurban termasuk amalan yang paling dicintai Allah di hari Nahar

  عَنْ عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عمَلًا أحَبَّ إلى اللهِ – عزَّ وجلَّ – مِنْ هراقةِ دَمٍ، وإنَّهُ ليَأْتِي يَوْمَ القِيامَةِ بِقُرُونِها وأظْلافِها وأشْعارِها، وإنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِن اللهِ – عزَّ وجلَّ – بِمَكانٍ قَبْلَ أنْ يَقَعَ على الأرْضِ، فَطِيبُوا بِها نَفْسًا»؛ الترمذي وابن ماجه

“Tidak ada amalan yang dilakukan oleh manusia pada hari penyembelihan (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah selain daripada mengucurkan darah (hewan kurban) karena sesungguhnya, ia (hewan kurban) akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi. Maka, bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban!” (HR. At-Tirmidzi)

Termasuk juga keutamaan berqurban adalah tanda-tanda ketaqwaan. sebab berqurban bagian dari syiar agama sebagaimana yang dijelaskan di dalam al-Qur’an surat al-Hajj ayat 32.

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.

Imam Ibnu Katsir di dalam kitabnya tafsir Ibnu Katsir dan Imam as-Sa’di di dalam kitab tafsirnya tafsir as-Sa’di menyebutkan bahwa hewan Qurban termasuk dari salah satu Syi’ar Allah. Maka sebenarnya orang yang berqurban itu adalah orang yang mendapatkan buah dari ketaqwaannya kepada Allah karena kalau di dalam hatinya tidak ada taqwa maka dia akan mengatakan di dalam hatinya kenapa saya harus berqurban, memangnya kalau saya berqurban saya dapat apa, kalau saya berqurban uang saya habis dan setrusnya. Namun karena ada taqwa di dalam hatinya maka niat melaksanakan qurban mengalahkan keraguan-keraguan tersebut. Wa Allahu A’lamu….

Insprirasi Guru Lainya