Implementasi Bahagia Menyambut Bulan Ramadhan
Oleh: Mondzir Al Hasani, M.HI (Guru SMPIT Al Uswah Surabaya)
Kebanyakan orang mengaku bahwa kedatangan bulan Ramadhan sangat dirindukan dan beribadah di dalamnya termasuk sesuatu yang ditunggu-tunggu untuk dimaksimalkan. Salah satu alasannya karena memang bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat Istimewa. Setiap amal baik di bulan Ramadhan dilipatgandakan dan di dalamnya juga ada malam Istimewa yang disebut dengan malam lailatul qadar (malam kemuliaan).
Jadi sangat wajar apabila banyak orang yang berharap ingin bertemu dengan bulan Ramadhan dan berniat untuk memperbanyak sholat sunnahnya, shodaqahnya, bacaan al-Qur’annya, dan ingin menikmati puasanya dengan sebaik-baiknya. Namun hal itu ternyata hanya sebatas keinginan di awal saja setelah masuk di bulan Ramadhan niat itu tidak sesuai dengan kenyataan yang dilakukan. Semangat ibadahnya, puasanya, shodaqahnya, bacaan al-Qur’annya hanya membara di awal-awal bulan Ramadhan saja.
Padahal bulan Ramadhan itu adalah bulan yang tidak hanya utama di awal-awal saja namun bulan Ramadhan Istimewa dari wal sampai akhir. Bahkan akhir bulan Ramadhan adalah ukuran kesuksesan dalam memaksimalkan amal baik.
Semangat itu hilang setelah merasa bahwa ibadah yang dilakukan terasa berat dan belum terbiasa untuk melakukan amal-amal baik secara rutin setiap harinya sehingga pelan-pelan mulai mengurangi bahkan meninggalkannya walaupun masih di bulan Ramadhan.
Hilangnya semangat dan terasa beratnya Ibadah saat bulan Ramadhan karena tidak adanya kesiapan untuk menghadapi bulan Ramadhan. Jadi seharusnya ada persiapan dua bulan untuk membiasakan diri beramal baik seperti rutin membaca al-Qur’an, sholat sunnah, bersedekah, dan puasa agar ketika berada pada bulan Ramadhan tidak akan merasakan berat karena sudah membiasakan diri di dua bulan sebelumnya.
Bukankah Rasulullah saw sudah mencontohkan kepada kita bagaimana Rasulullah berpuasa di bulan rajab dan sya’ban. Rasulullah paling senang berpuasa sunnah adalah di bulan sya’ban walaupun Rasulullah tidak berpuasa sampai satu bulan penuh. Sebagian sahabat ada yang mengira bahwa Rasulullah berpuasa separuh bulan di bulan Sya’ban dan separuh bulannya Rasulullah tidak berpuasa untuk menyiapkan diri bertemu dengan bulan Ramadhan. Sehingga ulama fiqh tidak membolehkan berpuasa dimulai tanggal 16 bulan sya’ban kecuali di tanggal sebelumnya sudah berpuasa. Oleh karena itu menyiapkan diri untuk beribadah itu adalah sesuatu yang sangat penting. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam al-Qur’an Surah al-Hasyr ayat 18:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Ayat ini secara jelas memerintahkan untuk menyiapkan diri terhadap apa yang akan dilakukan kedepan. Setelah semuanya sudah siap atau hati sudah siap melakukannya maka saat itulah ibadah itu akan bisa dilakukan secara maksimal dan berkualitas.
Menyiapkan diri untuk bertemu dengan bulan Ramadhan juga tersirat di dalam doa yang diajarkan nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.”
Sama halnya dengan tim sepak bola yang akan mengikuti piala dunia maka tim itu akan melakukan persiapan berupa latihan untuk menghadapi pertandingan resmi sehingga tim itu akan menjalani pertandingan dengan hasil kemenangan atau paling tidak tim itu menjalankan pertandingan dengan cara terbaik dan maksimal.
Seandainya tim itu tidak melakukan persiapan latihan dengan maksimal tetapi langsung mengikuti pertandingan maka tim itu kemungkinan menangnya sangatlah kecil, namun apabila tim itu menyiapkan latihan untuk menghadapi lawan dengan persiapan dan Latihan yang bagus maka kemungkinan tim itu menang sangatlah besar.
Oleh karena itu seseorang disebut bahagia menyambut bulan Ramadhan bukanlah orang yang senyum-senyum atau tertawa saat datangnya bulan Ramadhan namun seseorang yang dikatakan bahagia menyambut datangnya bulan Ramadhan adalah dengan cara menyiapkan dan membiasakan diri dengan amal-amal ibadah di bulan Rajab dan bulan Sya’ban.


