Isra' Mi'raj dan Solusi Langit
“Isra’ Mi’raj merupakan salah satu terminal paling penting dalam sirah Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan bahkan dalam perjalanan dakwah Islam sepanjang masa seluruhnya. Karena tak berselang lama ba’da peristiwa isra’ mi’raj itulah terbentang lebar jalan kemenangan dakwah Islam, dengan terjadinya bai’atul aqabah I dan II dengan para pioner Islam dari generasi pertama sahabat Anshar, yang akhirnya berbuah hijrah Islam secara total dan menyeluruh dari Mekkah ke Madinah”.
“Isra’ Mi’raj terjadi pada saat beban tekanan perjuangan dakwah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga para sahabat, telah benar-benar sampai dan mencapai puncaknya pada periode Mekkah. Khususnya denga gugurnya dua sosok terpenting dan terdekat bagi Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang sekaligus merupakan dua orang penyangga utama dakwah, yakni istri tercinta Beliau Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha dan pamanda Beliau Abu Thalib. Sampai-sampai tahun 10 Kenabian disaat mana Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib wafat secara hampir berbarengan, dikenal sebagai ‘amul huzn, yakni tahun kesedihan khususnya bagi Sang Rasul mulia shallallahu ‘alaihi wasallam dan umumnya bagi Sahabat setia radhiyallahu ‘anhum”.
“Maka waktu dinaikkan ke langit tujuh dan Sidratil Muntaha itu, ibaratnya Nabi tercinta kita shallallahu ‘alaihi wasallam membawa akumulasi dan tumpukan seluruh beban persoalan hidup dan ujian perjuangan dakwah dari muka bumi. Dan begitu Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam diturunkan kembali dari langit tertinggi ke bumi, langsung di malam berkah itu pula, dengan antara lain membawa syariah shalat fardhu lima waktu, semua beban masalah itupun lepaslah sudah. Jadi hikmahnya, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam di-isra’ mi’raj-kan, dengan kehendak agung Allah langsung bukan oleh keinginan dan rencara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, adalah untuk “dihibur” dan sekaligus diberi solusi tuntas atas beragam beban persoalan hidup dan problematika dakwah di bumi”.
“Oleh karena itu, saat ada masalah, persoalan dan problem apapun dalam hidup ini, janganlah pernah sekali-kali berfikir untuk mencari dan menemukan solusinya dari bumi pula. Melainkan adukanlah semua beban masalah, persoalan dan problem hidup itu kepada Dzat Yang diatas. Dan temukanlah solusi pada tatanan yang diturunkan dari langit. Sedangkan langkah mencari solusi masalah bumi dari bumi pula, tak akan pernah menyelesaikannya, melainkan justru hanya akan menambah banyak masalah dan semakin merunyamkannya. Soalnya, bumi ini memang dicipta, diadakan dan dikehendaki sebagai tempat masalah. Sedangkan solusi bagi semua, adanya justru di langit dan pada apa yang bersumber dari langit. Bahkan termasuk rezeki kitapun ada di langit. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di langitlah terdapat rezekimu, dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang itu adalah benar seperti perkataan yang kamu ucapkan” (QS. Adz-Dzaariyat [51]: 22-23)”. (AMJ)


