Memaknai Hari Raya Idul Fitri

Di hari raya Idul Fitri, kita kembali mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid. Sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Ramadhan dengan ibadah utamanya „puasa“ telah kita lewati. Meskipun belum optimal apa yang kita lakukan, harapan kita adalah dapat memperoleh apa yang dijanjikan Allah swt dan Rasulnya, kepada siapa saja yang berpuasa Ramadhan, yakni peningkatan ketaqwaan kepada Allah SWT dan memperoleh ampunan dosa. Oleh karenanya, kita bertakbir Allah yang Maha Besar, dan kita merasa, bahwa harta, jabatan, posisi dan lainnya semua terasa kecil di hadapan Allah.

Kita juga bertahlil Lailahaillallah, kita tunjukkan rasa cinta, takut, roja‘ (harapan) kepada Allah.Disaat yang be rsamaan kita juga memuji Allah (walillahil hamd). Kita merasa tidak pantas dipuji, sebab ilmu, harta, dan apapun yang kita miliki adalah karunia Allah. Terasa sekali betapa kerdilnya kita di hadapan Allah.

Sungguh ibadah puasa, shalat malam, tilawah, dan bahkan pengkhataman Al Quran serta infaq, shadaqah dan zakat yang kita keluarkan itu semua atas taufiq, hidayah dan inayah dari Allah. Segala puji bagiMu Ya Allah.

Kemarin Ramadhan kita nanti, hari ini pergi meninggalkan kita, begitu cepatnya waktu berlalu. Tak perlu kita tangisi kepergian Ramadhan, justru menangislah jika Ramadhan pergi:  Semangat ibadah ikut pergi. Ketaatan kita ikut permisi. Kehati-hatian kita ikut undur diri.

Ramadhan boleh pergi tetapi Tuhannya Ramadhan selalu hidup dan terjaga, melihat dan mengetahui dimana saja kita berada. Ada pepatah mengatakan : jadilah saudara hamba-hamba Rabbani dan jangan menjadi hamba-hamba Ramadhani (hanya kenal Allah di bulan Ramadgan). Patut kita renungkan jika ada sebagian dari kita pulang kampung di moment ini.

Selalu yang diperhatikan adalah apa yang kita bawa sebagai oleh-oleh. Maka, sudahkah kita memperhatikan apa yang akan kita bawa bila saatnya kita pulang kampung akhirat.

Jika kita sangat bahagia ketika dapat berkumpul di tengah keluarga pada lebaran dan Idul Fitri ini, sudahkah kita berusaha agar perkumpulan ini terus berlanjut sampai di surga, dengan nikmat yang tiada terkira? Ini yang menjadi perenungan bagi kita semua.

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita ambil dari madrasah Ramadhan yang sudah kita lalui ini :

Ketika kita sedang berbuka puasa, yang kemudian sering disebut “takjil” dan artinya „bersegera“. Maka apa maknanya? Maknanya adalah karena sudah tiba waktu berbuka, bersegeralah melakukannya, jangan ditunda-tunda. Jika tidak, akan mengakibatkan :

Pertama, membuat motivasi kita menurun, bahkan kehilangan motivasi. Kedua, kehilangan momentum. Ketiga, tidak mendapatkan nilai yang paling utama. Keempat, ini yang paling merugikan, adalah kehilangan kesempatan sehingga kitapun tidak memungkinkan lagi melakukannya. Dalam konteks yang lebih luas, takjil punya makna :

Pertama, Segera dalam amal sosial. Maknanya, segala kebaikan yang kita niatkan, maka dituntut untuk segera melakukannya. Tetapi, yang amat disayangkan adalah banyak orang menunda kebaikan yang akan dilakukannya, padahal salah satu karakter orang beriman adalah bersegera dalam kebaikan. Sebagaimana Allah berfirman (Q.S Al Imran 114).

Kedua, Segera dalam bertaubat. Bertaubat kembali kepada Allah, karena dosa menyebabkan orang menjauhi Allah swt dengan segala ketentuannya. Ingat, kita tidak tahu kapan kematian akan datang, maka taubat harus kita lakukan sesegera mungkin dan jangan ditunda-tunda. (QS. Al Imran 133). Dan kalau kita sudah bertaubat maka akan menjadi manusia yang akan dicintai Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah „Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa tetapi bertaubat“ (H.R Ahmad).

Ketiga, Segera dalam beribadah. Misalnya, shalat diawal waktu jauh lebih utama dari pada ditunda-tunda hingga menjelang waktu berikutnya.

Keempat, Segera dalam membayar hutang. Bagi seorang muslim, hutang merupakan kewajiban yang harus segera dibayar.

Tidak boleh menyepelekan hutang meskipun nilai atau jumlahnya kecil.

Nilai keikhlasan

Ikhlas ini adalah modal utama dalam seluruh amal kita, baik itu amal ibadah (wajib dan sunnah), atau amal-amal dalam muamalah kita, bahkan yang mubahpun kika diniati ketulusan dan ikhlas, bisa berubah menjadi ibadah kepada Allah.

Sadarilah ikhlas merupakan syarat diterimanya amal kita. (lihat Q.S Al Bayyinah 5). Ikhlas adalah kerja hati, tak seorangpun yang tahu akan keikhlasan kecuali hanya kita pribadi dan Allah swt saja. Bahkan malaikatpun tidak mengetahui kerja hati. Oleh karenanya, keikhlasan perlu dijaga dan dirawat walaupun sebenarnya madrasah Ramadhan mengajari kita untuk ikhlas dalm segala hal.

Tidak ada satu amalan yang paling aplikatif untuk melatih keikhlasan ini daripada puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan. Kemarin, kita tidak makan karena Allah, tidak minum karena Allah, tidak bermaksiat karena Allah, walaupun peluang-peluang itu sangat terbuka lebar bagi kita.

Mengendalikan hawa nafsu.

Subhanallah. Maha Suci Allah, yang membuat kita berhasil selama satu bulan penuh mengendalikan hawa nafsu ini. Sesuatu yang halal diharamkan oleh Allah disiang hari ramadan (seperti makan, minum dan bersenang-senang dengan istri). Kita kekang hawa nafsu untuk tidak berbicara kecuali pembicaraan yang diridhoi oleh Allah swt: dzikir, istighfar dan baca Qur’an, dan alin-lain.

Kita kendalikan (nafsu memandang, untuk tidak melihat apa yang diharamkan oleh Allah, dan itu kita bisa kendalikan). Nafsu mendengar (gosip, omongan kotor dan jorok, fitnah, semuanya juga bisa kita kendalikan). Inilah yang kita rasakan selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, sehingga terasa sampai saat ini, disaat kita berkumpul dalam suasana kemenangan ini, betapa bersihnya jiwa dan pikiran kita. Sekali lagi, ini semua karena kita sukses mengendalikan hawa nafsu.

Nafsu ini jangan dibuang, jangan dimatikan, tetapi Allah meminta kita untuk mengendalikannya dan mengarahkannya sesuai dengan perintahNya dan sunnah RasulNya. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW : “Tiga perkara yang mencelakakan; pertama, kekikiran yang ditaati, kedua, hawa nafsu yang diikuti, ketiga, bangga akan pendapat dan kecerdasannya“. Semoga kita dijauhkan dari semua ini.

Tiga hal tersebut, kalau kita bisa menjaganya sebagai buah dari madrasah Ramadhan, saya yakin kita semua akan selalu ada dalam lindungan, keberkahan dan ridlo Allah swt. Kalau kita mau jujur apa yang terjadi pada bangsa dan negeri ini, dari berbagai macam permasalahan fitnah, ujian dan musibah yang sepertinya terus menerus terjadi pada kehidupan berbangsa, itu disebabkan kita kurang perhatian pada paling tidak tiga nilai pembelajaran di atas.

Akhirnya kita berdoa pada Allah Swt, mudah-mudahan puasa yang kita kerjakan diterima oleh Allah Swt, shalat malam (tarawih dan tahajjud), tilawah dan tadabbur Al Qur’an, infaq, shadaqah dan zakat serta doa dan munajat kita, semuanya diijabahi dan diterima oleh Allah Swt.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepadaMu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat. Berikan ketaatan kepadaMu yang mengantarkan kami ke surgaMu. Anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami menghadapi segala musibah di dunia.

YA Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat dan Maha Mengabulkan semua doa. Ya Allah, Ya Rahman, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di bumi, kehidupan yang baik di akhirat, serta hindarkanlah kami dari adzab neraka. Amin. (Msd)

Artikel Lainya