Memaknai Parenting Dalam Idul Adha
Oleh: Diana Agustin Tri Nugrahaeni, SKM, S.Pd (Guru SD Al Uswah 2 Surabaya)
Alhamdullillah masih bisa merayakan Idul Adha di tahun ini. Ini merupakan Idul Adha pertama kami di lingkungan yang baru. Setelah beberapa kali berpindah tempat tinggal, Alhamdulillah Allah berikan baity jannaty untuk menetap. Salat Ied Bersama para warga tetangga perumahan, melihat prosesi pemotongan hewan kurban di belakang masjid, jajan di sepanjang perumahan, mengabadikannya dalam beberapa jepretan foto, lalu memasak daging kurban menjadi rendang atau sate. Melihat riuhnya anak-anak kecil yang senang melihat kambing atau sapi yang akan dikurbankan. Jika Allah menginginkan kami meneladani kesabaran Ibrahim dalam menanti Ismail, semoga Allah berikan kebaikan untuk keluarga kecil kami.
Berbicara tentang Idul Adha apa yang langsung terbesit di fikiran ayah bunda? Potong hewan? Shalat id? Sate? Pembagian daging? Itu semua memang bagian dari Idul Adha. Tapi ada esensi lain dari lebaran ini yang hendaknya meniadi renungan bagi keluarga setiap kali merayakan Idul Adha.
Apa itu? Yaitu tentang parenting keluarganya nabi Ibrahim yang berlandaskan cinta kepada Allah. Tentang betapa jelasnya keluarga nabi Ibrahim meletakkan posisi cinta kepada sang pencipta di antara cinta kepada sesama anggota keluarganya. Bahasa cinta yang takkan bisa dicerna oleh akal dan nalar manusia. Karena cinta kepada Allah memang tidak harus selalu di logikakan, sebab apa?. Sebab nalar kita tidak akan mampu menafsirkannya menjadi sebuah teori atau alasan klasik dalam pembuktian cinta kepada sang pencipta ini.
Tentang kesalihan seorang ayah yang sangat percaya bahwa segala ketentuan Allah adalah yang terbaik. Tentang ketegasan sosok kepemimpinannya dalam keluarga, hingga keputusannya untuk taat pada sang pencipta dapat merangkul dengan lembut istri dan anaknya saat itu. Tentang ia yang rela mengorbankan buah hatinya demi patuh pada aturan tuhannya. Bukankah itu derajat cinta yang palinh tinggi? Ketika cinta kita kepada Allah bisa mendapatkan posisi pertama dibandingkan cinta kepada makhluk.
Walau saya belum diberikan kesempatan oleh Allah menjadi orang tua, kita paham betul bagaimana besarnya rasa cinta dan kasih kita kepada buah hati. Bahkan kita rela mengorbankan nyawa agar buah hati kita selamat dan hidup dalam keadaan baik.
Tapi saat itu mimpi Ibrahim jelas bahwa ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Ismail QS. As-Saffat ayat 102 :
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu……
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Sikap nabi Ibrahim saat itupun menggambarkan bagaimana gaya pola asuhnya yang sangat bagus untuk diteladani. Bagaimana ia tidak bersikap orotiter walau seorang kepala keluarga. Bagaimana ia menghargai anggota keluarganya terutama anak. Saat itu sebenarnya bisa saja ia memerintahkan langsung ismail untuk mau disembelih. Tapi sikap nabi Ibrahim saat itu justru sebaliknya. Alih-alih menuntut anaknya untuk patuh pada perintahnya, ia justru bertanya pendapat anaknya tentang hal tersebut, QS. As-Saffat ayat 102 :
“Maka fikirkanlah apa pendapatmu….
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Makna Idul adha bagi keluarga kami juga tentang meneladani sikap nabi ismail sebagai seorang anak. Bagaimana ia patuh kepada ayahnya, walau itu berarti ia harus mengorbankan nyawanya. Cinta kepada tuhannya sempurna mengalahkan cinta kepada dirinya sendiri.
Patuh yang dicontohkan oleh nabi ismail saat itu bukanlah buah dari ketakutannya pada sang ayah. Akan tetapi buah dari taatnya ia pada tuhannnya. Ia tau bahwa yang hendak dilakukan ayahnya itu adalah perintah dari tuhannya, maka tanpa perlu banyak pertimbangan lagi ia langsung mengiayakan, karena nabi ismail sudah yakin bahwa apapun yang Allah kehendaki pasti adalah yang terbaik untuknya.
Mengajarkan kita untuk tidak banyak menuntut dengan harus adanya alasan logis atau rasional dari perintah Allah. Mencontohkan kepada kita bahwa kebaikan Allah tidak bisa dianalisis dengan matematika manusia. Bahwa apapun itu, tugas kita adalah tunduk dan patuh. Masyaallah, tingkatan taat yang sudah ada pada nabi ismail sejak ia masih menjadi seorang anak.
Bahkan Nabi ismail menjawab pertanyaan ayahnya saat itu dengan sangat yakin tanpa ada keraguan, QS As-Saffat ayat 102 :
“Wahai ayahkuu, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar…”
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Idul adha juga mengajarkan kami tentang ketaatan seorang istri kepada perintah suami dan tuhannya, serta betapa besarnya peran seorang Ibu dalam mendidik karakter anaknya.
Siti Hajar mengajarkan kita bahwa akidah dan tauhid seorang anak itu dibentuk oleh orang tua. Bagaimana nabi ismail tumbuh menjadi remaja yang sudah kokoh tauhidnya adalah buah dari tarbiyah sang Ibunda.
Sifat ikhlas yang tertancap kuat dalam diri nabi ismail adalah hasil dari pola asuh Siti Hajar sehingga anaknya tumbuhnya dengan akhlak dan akidah yang kokoh. Walau saat itu mereka berdua harus ditinggal nabi Ibrahim di gurun sahara yang tandus.
Siti Hajar juga mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan berkarakter itu memang dibentuk dari dalam rumah. Dari orang tua terutama Ibu sebagai madrasatul ula. Jadi ,apapun peran atau amanah lain yang kita emban saat ini, jangan pernah lupa tugas mulia kita yang langsung diamanahkan oleh Allah, yaitu menjadi madrasatul ula bagi anak-anak kita.
Wallahualam..
Yang pasti bagi kami, Idul Adha sempurna mengajarkan tentang :
Ketaqwaan keluarga nabi Ibrahim.
Kesholehan seorang kepala rumah tangga.
Ketaatan seorang istri dan urgensitas peran seorang Ibu.
Serta kepatuhan dan kematangan akidah seorang anak.
Mohon doa,
Semoga Allah memantaskan kami menjadi orangtua untuk anak-anak salih salihah penyejuk hati…


