Memilih Sekolah Lanjutan Untuk Ananda, Perhatikan Lima Daftar Cek Berikut
Oleh: Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)
Memilih sekolah untuk ananda, memang bukan perkara mudah. Setiap orang tua ingin putra-putrinya mendapatkan pendidikan terbaik. Namun memilih sekolah yang terbaik itu seringkali menimbulkan dilema bagi orang tua. Betul begitu parents? Di sisi lain, banyak label sekolah yang ditawarkan menarik minat orang tua untuk menyekolahkan putra-putrinya. Mulai dari sekolah bilingual, sekolah tahfidh, sekolah kreatif, sekolah juara, sekolah kerjasama Internasional dan sebagainya. Untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, juga bermunculan pilihan pondok pesantren dan boarding school.
Manakah yang terbaik? Hm, pilihlah sekolah yang ideal bagi anak Anda. Ideal tidak mesti yang mewah atau banyak prestasi. Masih bingung? Baiklah, mari kita simak daftar cek berikut yang bisa dijadikan acuan untuk memilih sekolah untuk si buyung.
Pertama, cek pendapat ananda. Libatkan ananda untuk memilih sekolah, setidaknya beri kesempatan untuk menyampaikan keinginannya. Apa yang ia cita-citakan? Mengapa ingin bersekolah di sekolah X? Ananda akan lebih merasa dihargai jika ditanya pendapatnya.
Baiklah parents, orang tua memang memegang otoritas penuh pendidikan ananda, tapi jangan kemudian mengabaikan suara hati ananda. Betapa banyak kasus anak-anak yang mogok dan lari dari sekolah pilihan orang tuanya? Ingat, ananda yang akan merasakan proses belajar di sekolah. Bukan orang tua.
Untuk level yang lebih tinggi, 87 persen mahasiswa Indonesia merasa salah jurusan. Salah satu alasannya adalah terjebak dengan keinginan orang tua. Salah satu dampak yang muncul adalah depresi.
Lalu bagaimana jika keinginan ananda dan orang tua berbeda? Maka di sinilah perlu diskusi dan kompromi orang tua dan ananda. Diskusi ya parents, bukan memaksakan kehendak. Orang tua bisa menyampaikan alasan-alasan logis. Si anak pun juga diberi kesempatan menyampaikan pendapatnya. Titik temu diskusi tetap harus menguntungkan anak dan orang tua.
Kedua, cek bagaimana pembinaan guru di sekolah tersebut. Guru memang digaji dari alokasi SPP yang dibayarkan orang tua. Namun ada anggaran penting yang tidak boleh dilewatkan oleh lembaga pendidikan manapun, yakni pembinaan guru. Pembinaan guru memang perkara penting namun tidak mendesak, sehingga sering dilewatkan. Alasan klasiknya adalah minim anggaran. Padahal ketika guru diberikan pembinaan berkesinambungan maka berdampak kepada siswa.
Pembinaan guru tidak hanya berupa teknik mengajar atau kedalaman materi pelajaran tetapi juga berupa pembinaan karakter dan ruhiyah rutin. Bagaimanapun guru adalah role model ananda selama delapan jam di sekolah. Setiap hari yang dilihat dan dicontoh ketika ananda beraktivitas adalah gurunya. Tak lupa, bagaimana guru juga diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi dan kapasitasnya, juga menjadi bentuk apresiasi.
Sebuah quote menarik disampaikan oleh salah satu pengasuh pondok pesantren. Metode itu lebih penting dari kurikulum. Tapi guru itu lebih penting dari metode. Tetapi spirit guru, karakter guru jauh lebih penting dari guru itu sendiri. Quote ini amat relevan dengan kondisi saat ini di mana perubahan kurikulum kerap sekali terjadi. Shock culture banyak dialami oleh para guru. Bingung dengan perubahan. Namun di tangan guru yang berkarakter kuat, kurikulum model apapun bukan perkara besar.
Jadi, cek ya: sudah sejauh mana pembinaan guru di sekolah tersebut!
Ketiga, cek visi misi dan program sekolah. Setiap sekolah pasti memiliki visi misi yang tertempel di dinding-dinding sekolah. Tidak semua sekolah kuat mengawal visi misi mereka. Sebagian hanya tempelan formalitas dinas saja. Supaya akreditasi dapat nilai A. Hehehe..
Mungkin hal sepele, cuma visi misi saja. Namun bagi sebuah lembaga, visi misi itu ibarat panduan jangka panjang sebuah tujuan dan program sekolah. Visi misi itu ruh sekolah. Setiap program sekolah, harus mengacu kepada visi misi.
Duh pusing! Tenang parents. Anda bisa diskusi dengan kepala sekolah atau guru yang dianggap senior. Pastikan program unggulan sekolah sesuai dengan visi misi keluarga Anda. Jangan sampai Anda berharap lebih ananda mendapat prestasi olimpiade kepada sekolah yang concern terhadap akhlak dan tahfidh.
Keempat, cek bagaimana sekolah itu niat banget mengawal masalah siswa. Ketersediaan layanan konseling siswa dan orang tua menjadi salah satu titik tekan. Di sini peran wali kelas sebagai orang tua siswa di sekolah sangat central. Komunikasi intens wali kelas dengan orang tua. Lalu dibantu dengan tenaga guru BK dan Psikolog.
Beragam siswa dalam satu sekolah dengan beragam latar belakang keluarga. Hal ini memungkinkan muncul banyak konflik baik berupa bulliying, virus merah jambu, low motivation, sampai kenakalan remaja seperti merokok, misuh, dan sebagainya. Cek, sejauh mana sekolah berperan aktif membina kerjasama dengan orang tua. Atau jangan-jangan sekolah membiarkan dan menyerahkan kembali masalah kepada orang tua.
Terkait pembiasaan harian siswa juga menjadi perhatian penting. Apakah sekolah mengawal betul ibadah ananda? Baik secara kuantitas dan kualitas. Adakah evaluasinya?
Lalu bagaimana dengan pembiasaan akhlak. Bagaimana sekolah membudayakan akhlak yang baik di sekolah? Apakah semua guru dan karyawan terbiasa berperilaku santun di sekolah? Orang tua bisa melihat ini secara langsung ketika berkunjung ke sekolah. Apakah ada gesture atau kalimat lisan yang diucapkan warga sekolah yang membuat orang tua mengerutkan dahi? Orang tua juga bisa bertanya kepada tetangga, teman atau saudara yang sudah menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah tersebut.
Layanan-layanan inilah yang sebenarnya membuat sekolah itu menjadi “mahal” dan favorit. Layanan yang bukan sekadar fasilitas fisik macam besarnya bangunan gedung.
Kelima, last but not least. Mari kita cek diri sendiri. Jauh di lubuk hati, apakah orang tua menyekolahkan ananda dengan tujuan supaya tidak repot-repot mendidik? Sehingga semua bentuk pendidikan diserahkan full kepada sekolah atau pondok pesantren. Kata orang Jawa, Pasrah bongko’an.
Enak mondok ae, gak repot antar jemput. Gak repot ngingetin gadget dan belajar.
Enak full day school ae, sekalian nitip. Gurunya bisa jagain sampai pulang.
Hm, hayo..adakah yang seperti di atas? Atau mirip seperti di atas? Mari kita istighfar bersama…
Ingat ya parents, tanggung jawab mendidik anak tetap berada di tangan orang tua. Bukan beralih ke sekolah. Di akhirat nanti, tetap orang tua yang ditanyai tentang anaknya. Bukan gurunya. Pak guru dan bu guru ditanya tentang amanah yang sudah diberikan ketika menjadi guru. Bukan tentang satu persatu proses mendidik muridnya.
Jadi, mari cek lagi dan luruskan niat kita. Memilih sekolah lanjutan sebagai partner mendidik ananda. Bukan menggantikan peran mendidik ananda.
Demikian lima daftar cek memilih sekolah lanjutan. Tidak ada sekolah sempurna. Pasti ada kekurangan di satu dua sisi. Seperti halnya Sekolah Al Uswah. Sekolah yang berjenjang mulai dari level SD (SDIT, SD 2) sampai SMPIT dan SMAIT. Dengan program unggulan tahfidh dan pendidikan karakter. Harapannya, ketika ananda bersekolah di Al Uswah, pendidikan ananda dapat berlanjut berkesinambungan.
Semoga bermanfaat ya parents… (Neea Sweet)


