Mengoptimalkan PTM 100% Untuk Peningkatan Layanan Belajar
Oleh : Moch. Edris Effendi, S.T (Direktur Pendidikan Al Uswah/Ketua JSIT Jawa Timur)
Beberapa hari ini pemandangan jalanan di Surabaya mulai padat lagi, utamanya di pagi hari. Aktivitas warga tampak sudah mulai normal kembali. Di antara yang membedakan dengan hari-hari sebelumnya adalah banyaknya anak-anak berseragam sekolah yang memadati setiap ruas jalan. Nampaknya kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100% yang diterbitkan oleh Dispendik Surabaya disambut sangat antusias oleh para siswa dan orang tuanya. Wajar saja, karena sudah hampir 2 tahun terakhir mereka tidak bisa belajar di sekolahnya secara penuh. Keinginan untuk bisa belajar bersama di kelas-kelas terkendala oleh wabah covid-19 yang membuat semua orang pada takut untuk berinteraksi secara fisik. Semoga harapan sebagian besar siswa untuk bisa belajar tiap hari di sekolah dapat terlaksana seterusnya.
Antusiasme para siswa beserta orang tuanya perlu direspon dengan baik oleh pihak sekolah. Semangat untuk belajar itu menjadi kunci awal meraih keberhasilan dan modal berharga mengejar ketertinggalan. Adanya pandemi selama 2 tahun ini boleh jadi sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Capaian hasil belajar mereka, baik akademis maupun non akademis banyak yang belum sesuai target. Salah satu kendalanya adalah kurang siapkan guru dan siswa mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ), terutama kelas bawah yakni jenjang PAUD dan SD. Dengan kembali diberlakukannya PTM 100% ini bisa menghadirkan harapan baru bagi para guru untuk dapat mengejar ketertinggalan capaian hasil belajar siswanya. Bagaimana cara sekolah agar dapat mengoptimalkan kebijakan PTM ini untuk meningkatkan capaian belajar siswa, berikut kami sampaikan beberapa tipsnya.
- Mewujudkan Suasana Belajar Yang Nyaman
Tugas pertama sekolah dalam menyelenggarakan layanan pendidikan adalah mewujudkan suasana belajar yang tepat bagi semua peserta didiknya. Sebagaimana pengertian tujuan pendidikan yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 yang menyebutkan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Menciptakan suasana belajar yang nyaman sangat penting untuk mendukung proses pembelajaran. Kalau suasana belajarnya sangat kondusif, maka pasti akan berdampak positif proses pembelajaran. Kurang berhasilnya proses pembelajaran biasanya diawali dari suasana belajar yang tidak nyaman bagi siswanya.
Ketika sekolah mulai memberlakukan PTM 100%, yang perlu dilakukan di awal adalah menghadirkan kesan positif kepada semua muridnya. First impression ini sangat penting untuk keberlanjutan proses pembelajaran berikutnya. Siapkan berbagai kegiatan yang memberikan kesan positif ketika semua siswa mulai masuk sekolah. Misalnya tiap pagi hari tim guru sudah siap menyambut kedatangan para siswa dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan. Ketika memasuki lingkungan sekolah, ada lagu-lagu penyemangat yang diputar melalui pengeras suara. Kemudian mereka diajak mengikuti kegiatan yang menyenangkan, misalnya senam pagi atau aktivitas fisik lainnya. Jadi di awal PTM 100% ini, diusahakan memberikan kesan yang menyenangkan bagi semua siswa. Mohon guru tidak keburu langsung ‘tancap gas’ begitu melihat muridnya bisa hadir semua di ruang kelasnya. Mereka tidak langsung diminta fokus mengikuti pembelajaran akademis, walaupun sebenarnya masih banyak target yang belum terpenuhi. Menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan berkesan bagi siswa akan sangat mendukung kesuksesan capaiannya.
- Memperbanyak Kegiatan Creative Learning
Kegiatan yang biasanya sangat dinanti-nantikan oleh para siswa selama di bangku sekolah adalah kegiatan belajar di luar kelas. Aktivitas belajar semacam outdoor learning, outbond, kemah bersama, guru tamu, hingga praktikum sangat sulit diselenggarakan selama masa pandemi 2 tahun terakhir ini. Padahal kegiatan semacam ini sangat ditunggu-tunggu oleh kebanyakan siswa. Kami biasanya menggunakan istilah creative learning untuk aktivitas pembelajaran yang berbeda dari kebiasaan belajar sehari-hari di kelas. Aktivitas belajar yang tidak biasanya ini dapat memberikan kesan yang cukup panjang (long term memory) bagi para siswa. Boleh jadi dari berbagai kegiatan di sekolah yang akan terus diingat, bahkan hingga siswa sudah lulus adalah kegiatan creative learning tersebut. Kalau kita dapat memanfaatkan momen pembelajaran itu untuk pembentukan karakter siswa, baik karakter moral dan karakter kinerja, hasilnya tentu akan lebih optimal. Ketuntasan pembelajaran akademis juga akan lebih baik apabila proses belajarnya dilaksanakan dengan menarik. Saat guru mengajarkan materi membaca, anak-anak diajak membaca di kebun sekolah, mereka akan lebih semangat mengikutinya.
Berdasarkan menurunnya level PPKM yang membuat Pemerintah mengizinkan semua siswa belajar di sekolah, maka memungkinkan pula diselenggarakan aktivitas belajar creative learning. Sebaiknya sekolah segera merencanakan lagi kegiatan-kegiatan yang mampu menghadirkan suasana belajar yang menarik bagi siswa. Dengan waktu belajar di tapel ini yang tersedia tinggal 2-3 bulan ke depan, sekolah perlu segera merencanakan kegiatan creative learning yang masih bisa diikuti oleh siswanya. Jika kesulitan menyelenggarakannya di bulan puasa, maka bisa direncanakan pelaksanaanya pasca libur lebaran. Sisi lain yang tetap perlu diperhatikan oleh pihak sekolah adalah kondisi siswa dan kesiapan orang tua mengikuti aktivitas di luar kelas tersebut. Jika kondisi kesehatan semuanya baik, mendapat dapat dukungan penuh dari orang tua siswa, maka sekolah bisa lebih tenang melaksanakannya. Bagi sebagian siswa yang masih keberatan mengikuti kegiatan di lapangan dengan alasan tertentu, sekolah diharapkan tetap memberikan layanan belajar dalam bentuk lain. Misalnya siswa yang izin itu tetap diminta mengikuti kegiatan secara hybrid, sehingga tidak semakin ketinggalan dengan kawan-kawannya. Dengan terlaksananya kembali kegiatan creative learning ini akan membangkitkan motivasi belajar anak-anak, mengembalikan kepercayaan orang tua akan layanan pendidikan yang diberikan oleh pihak sekolah.
- Prioritas Pada Program Unggulan Sekolah
Setiap sekolah pasti memiliki program unggulan yang sering kali digunakan sebagai bahan promosi kepada masyarakat. Program unggulan itu biasanya merupakan turunan dari visi, misi, dan tujuan sekolah. Program unggulan juga sering kali ditampilkan dalam bentuk jaminan kualitas yang ditetapkan sekolah. Cara lain untuk mengetahui keunggulan sekolahnya bisa dengan melakukan survei yang melibatkan stake holder yang ada. Pada kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), biasanya ada proses observasi atau wawancara untuk orang tua dan calon siswa. Salah satu muatan observasi itu adalah mengkonfirmasi apa tujuan orang tua mendaftarkan anaknya di sekolah. Dari data itu bisa diketahui apa saja yang menjadi keunggulan sekolah selama ini. Pengetahuan atas keunggulan utama sekolah akan sangat membantu para stake holder dalam merumuskan program apa yang harusnya diprioritaskan oleh lembaga pendidikan tersebut. Biasanya yang dijadikan parameter keberhasilan sekolah adalah tingkat capaian atas program unggulan yang sudah ditetapkannya.
Bagi sekolah-sekolah Islam biasanya yang menjadi keunggulan sekolah adalah pada ketuntasan Al-Quran, pendidikan akhlak, dan pembiasaan ibadah. Pola pembelajaran jarak jauh selama pandemi 2 tahun terakhir bisa jadi memberikan dampak terhadap penurunan hasil belajar program penting itu. Penurunan itu disebabkan sulitnya memberikan layanan belajar dan mengawal penerapannya karena antara guru dan siswa tidak bisa bertemu secara langsung. Misalnya ketika dievaluasi capaian hasil belajar Al-Quran siswa, banyak target yang tidak tercapai karena sulitnya mengajari siswa membaca dan hafalan secara virtual. Demikian pula untuk target ketuntasan ibadah dan akhlak siswa, sulit untuk menuntaskan keduanya. Terlebih lagi jika kondisi lingkungan rumahnya kurang kondusif digunakan untuk aktivitas belajar anak. Maka begitu PTM sudah dibuat 100%, sekolah bisa memprioritaskan untuk menuntaskan program unggulannya. Sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan, menjadi momentum yang sangat tepat untuk mengfokuskan pendidikannya pada muatan-muatan keislaman. Sekolah dapat mengoptimalkan bulan Ramadhan nanti untuk meningkatkan ketuntasan Al-Quran, akhlak, dan ibadah siswa melalui pembelajaran tatap muka.
- Terus Meningkatkan Kompetensi Para Guru
Keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas gurunya. Istilah itu yang sering kita dapatkan dari para pakar dan praktisi pendidikan. Hal ini menggambarkan bahwa guru mengambil peranan kunci untuk mengantarkan keberhasilan peserta didiknya mencapai prestasi yang diharapkan. Anak-anak akan merasa nyaman belajar dengan guru yang mampu menyampaikan materi pelajaran dengan tepat dan mudah difahami. Kompetensi guru juga sangat terlihat pengaruhnya ketika proses pembelajaran banyak mengalami perubahan akibat pandemi covid-19. Banyak siswa yang tidak mendapatkan layanan pembelajaran dengan baik karena gurunya tidak mampu mengajar secara daring, sehingga lebih banyak memberikan penugasan daripada pengajaran. Perubahan cara belajar siswa dari luring ke daring, perubahan kebijakan kurikulum sebenarnya tidak sampai menurunkan kualitas layanan pendidikan jika gurunya mampu beradaptasi dengan cepat. Sebaliknya, jika para guru tidak mau mengupgrade kemampuannya, hanya mengandalkan pola pengajaran lama, maka suasana belajar akan cenderung menjenuhkan. Bahkan akan mengalami banyak kesulitan ketika proses pembelajaran harus berubah karena kondisi tertentu seperti yang baru saja kita alami.
Kebijakan PTM 100% tidak hanya disambut dengan senang gembira oleh para siswa dan orang tuanya, guru-gurunya juga sangat senang mendapatkan kabar itu. Dengan diberlakukannya pembelajaran tatap muka untuk semua siswa memberikan harapan bagi para guru untuk bisa memberikan layanan pendidikan yang lebih baik lagi. Ada hal yang perlu diantisipasi oleh para guru, yaitu bahwa PTM kali ini berbeda dengan kondisi sebelum pandemi. Kebiasaan anak belajar dari rumahnya selama 2 tahun pasti mempengaruhi gaya belajarnya. Kemungkinan ada sebagian siswa yang memilih tetap belajar dari rumahnya karena merasakan lebih nyaman dengan cara itu. Maka guru harus tetap bersiap tetap memberikan layanan pembelajaran secara hybrid dalam jangka panjang. Penggunaan berbagai sarana dan aplikasi sepertinya tetap berlanjut walau mereka sudah PTM di sekolah, termasuk berkurangnya penggunaan kertas (paperless) dalam aktivitas pembelajaran. Jadi guru-guru harus terus meningkatkan kemampuan dirinya agar dapat memberikan layanan pembelajaran yang terbaik bagi siswanya.
*) Direktur Pendidikan Al Uswah Surabaya
*) Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur



