Menumbuhkan Minat Literasi Siswa Melalui Permainan Kocok Kata
Oleh : Diana Agustin Tri Nugrahaeni, SKM, S.Pd, (Guru SD Al Uswah 2 Surabaya)
Latar Belakang
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Gerakan Literasi Sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik (Kemendikbud, 2016).
Keterampilan menulis merupakan tahapan akhir yang dikuasai siswa, karena siswa dapat menulis dengan baik apabila keterampilan berbahasa lainnya seperti (menyimak, berbicara dan membaca), telah dimiliki siswa. Pada dasarnya penguasaan keterampilan menulis, itu lebih sulit dibandingkan dengan keterampilan berbahasa lainnya. Dilihat dari sudut kemudahanya, penguasaan keterampilan membaca, menyimak dan berbicara, akan lebih mudah dibanding penguasaan terhadap keterampilan menulis.
Penguasaan keterampilan menulis memang bukan hal yang mudah, menulis dipengaruhi banyak faktor. Sedikitnya dibagi atas dua faktor, internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi dari kesulitan ejaan, penggunaan tanda baca, pemilihan kosakata, penyusunan kalimat, paragraf hingga kesulitan mengembangkan ide cerita kedalam bahasa tulis sedangkan faktor eksternal meliputi sarana dan prasarana dalam menulis. Dalam prosesnya, tidak jarang seorang penulis mendapati kesulitan dalam menulis. Terlebih lagi bagi seseorang yang baru menulis atau ditingkat pemula seperti anak seusia sekolah dasar.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar.
Contoh kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah ketika proses pembelajaran guru menggunakan beragam cara agar murid dapat mengeksplorasi isi kurikulum, guru juga memberikan beragam kegiatan yang masuk akal sehingga murid dapat mengerti dan memiliki informasi atau ide, serta guru memberikan beragam pilihan di mana murid dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari. Contoh kelas yang belum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru lebih memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat, dan keinginan murid. Kebutuhan belajar murid tidak semuanya terenuhi karena ketika proses pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak memberikan beragam kegiatan dan beragam pilihan.
Berdasarkan pengalaman mengajar calistung di SD, keterampilan menulis merupakan hal yang sulit bagi siswa. Akhirnya muncul ide penulis untuk mengangkat sebuah model pembelajaran dengan permainan yakni permainan “KOCOK KATA”. Ini merupakan jawaban bagi para guru yang kesulitan mengajar siswa untuk menulis dengan merangkai kata menjadi kalimat. Dari model ini siswa akan lebih aktif dalam berpikir dalam memecahkan masalah yang diberikan kepadanya. Kemandirian siswa akan Nampak jelas ketika mereka diberikan kesempatan untuk membuat kalimat.
Bertolak dari apa yang dikemukakan di atas, penulis mengembangkan best practice dengan judul “Pemanfaatan Permainan Model Kocok Kata dalam Meningkatkan Gerakan Literasi SD Al Uswah 2 Surabaya melalui Pembelajaran berdiferensiasi”. Penekanan dalam best practice ini adalah hasil dari membuat kalimat oleh siswa SD Al Uswah 2 Surabaya melalui pembelajaran berdiferensiasi dengan menggunakan “PERMAINAN KOCOK KATA”.
Tujuan
Tujuan penulisan best practice ini adalah (1) Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat, (2) Untuk melihat keterampilan siswa dalam membuat kalimat dari kata yang dipilih melalui permainan, (3) Untuk menguji kemampuan siswa dalam menguraikan kata per kata menjadi sebuah kalimat yang sesuai, (4) Sebagai eksperimen dalam menemukan sebuah strategi untuk menguji adrenalin siswa dalam bermain dengan kata-kata, dan (5) Sebagai proses siswa untuk mengenal arah dan maksud budaya literasi menulis dan membaca untuk bahan kepustakaan di kelas masing-masing.
Tantangan Mencapai Tujuan Pembelajaran
Tantangan untuk mencapai tujuan tersebut yakni siswa SD Al Uswah 2 Surabaya utamanya di kelas bawah masih belum mampu merangkai kata sesuai dengan kaidah KBBI yang baku. Selain itu, kosakata untuk usia siswa SD kelas bawah masih membutuhkan tambahan kosakata.
Dengan model pengembangan permainan kocok kata, siswa dapat memulai dan mencoba merangkai kalimat dari kata yang didapatkan saat kocokan. Kalimat yang dibuat hendaknya sesuai dengan kaidah KBBI dan struktur SPOK dalam mengembangkan bahan bacaan di perpustakaan sekolah untuk menyukseskan Gerakan Literasi Sekolah. Dengan berlatih membuat kalimat melalui model permainan kocok kata, terbukti efektif dapat meningkatkan minat bakat siswa dalam menulis dan membaca.
Aksi
Bahan yang digunakan dalam pembelajaran merangkai kalimat melalui permainan kocok kata sebagai berikut:
- Toples bekas
- kertas hvs
- KBBI (Kamus besar Bahasa Indonesia)
- Gunting
Langkah-langkah dalam pembelajaran menulis merangkai kalimat melalui model permainan KOCOK KATA sebagai berikut:
- Guru memetakan kebutuhan belajar murid.
- Guru mengidentifikasi gaya belajar murid.
- Guru membentuk kelompok dengan berdasarkan gaya belajar murid.
- Guru menyiapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kertas, toples plastik, dan gunting.
- Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan bahan-bahan yang akan digunakan.
- Guru menjelaskan cara penggunaan dari masing-masing bahan yang dimaksud.
- Siswa menemukan dan menentukan kata yang dipilih dan menuliskan kalimat yang dibuat dari kata yang dipilih.
- Strategi Yang Digunakan Serta Pelaksanaan
Dalam mengembangkan model permainan kocok kata ini, penulis mengacu pada strategi memilih model pembelajaran yang terdiri atas:
- Pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai.
- Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran
- Pertimbangan dari sudut siswa
Pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai, ini mengacu pada pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: (1) Apakah tujuan pembelajaran yang akan dicapai berkenaan dengan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. (2) Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang akan dicapai, apakah tingkat tinggi atau rendah. Dan (3) Apakah untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut memerlukan keterampilan akademik.
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijelaskan bahwa, pengetahuan siswa tentang menulis kalimat sesuai kaidah KBBI dan struktur SPOK yang sudah dijelaskan sebelumnya. Ketika siswa mulai mengambil kata dan merangkai menjadi kalimat, dengan sendirinya keterampilan siswa akan tampak jelas dari sikap kemandirian dan tanggung jawab. Kompleksitas dari model permainan kocok kata ini dapat dikatakan tinggi ketika siswa baru memulai mengumpulkan kata-kata, tetapi ketika siswa mulai merangkai kata-kata, maka segala sesuatunya akan menjadi mudah.
Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran, ini mengacu pada pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: (1) Apakah materi pelajaran itu berupa konsep, fakta, prosedur, atau prinsip. (2) Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran tersebut memerlukan prasyarat tertentu atau tidak. (dan (3) Apakah tersedia buku-buku sumber untuk mempelajari materi itu.
Pertimbangan dari sudut siswa mengacu pada pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: (1) Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan tingkat kematangan siswa. (2) Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi siswa. Dan (3) Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar siswa (visual, auditif, dan kinestetik.)
Dengan mengetahui gaya belajar masing-masing siswa guru bisa menggunakan metode yang tepat untuk memeperoleh hasil belajar yang jauh lebih baik, efektif dan efisien. Hal tersebut dapat berbanding terbalik jika seorang guru tidak memahami dan tidak mengerti gaya belajar siswanya. Jika terjadi demikian, akan membuat siswanya tidak memahami materi pelajaran yang disampaikan guru. Dengan permainan kocok kata siswa dengan mudah berkolaborasi antara dirinya dan lingkungan sekitarnya, antara materi dan tugas yang diberikan akan bernilai positif terhadap karya yang dihasilkan.
Refleksi
Semoga dengan hadirnya model permainan kocok kata ini, akan menghasilkan karya-karya terbaik anak bangsa dalam menumbuhkembangkan Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.pembelajaran berbasis literasi mengakomodasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik yang didorong untuk mencari informasi melalui berbagai referensi, baik berupa materi cetak visual maupun digital.
Referensi:
Widyani, Nur, dkk. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan MenengahKementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gerakan Literasi Sekolah : Pengertian, Tujuan, Komponen, Prinsip, Tahap dan Contoh
https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/pembelajaran-berdiferensiasi-dan-penerapannya-di-kelas/

*) Penulis adalah pendidik di SD Al Uswah 2 Surabaya


