Merangkai Puzzle Kelas 6 Angkatan XV SDIT Al Uswah Surabaya

Oleh: Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)

Hari Sabtu paling baper, mungkin itu yang bisa melukiskan perhelatan akbar sekolah pada Sabtu 18 Juni 2022 kemarin. Perhelatan yang diberi nama Pelepasan Siswa Kelas 6  SDIT Al Uswah Surabaya Angkatan XV. Genap sudah petualangan belajar mereka di jenjang Sekolah Dasar. Bulan depan, mereka sudah memasuki dunia putih biru yang lebih menantang. Rasanya belum cukup pertemuan dengan mereka di kelas 6 ini. Masih kurang. Andai saja bisa diperpanjang tahun pelajaran ini, mungkin akan lebih melegakan.

Masih teringat di benak, bagaimana polah mereka  dulu. Ketika awal masuk SD, masih sering menangis, tertatih membaca jilid 1 belajar membaca Al Qur’an metode “Ummi”, makan masih berceceran, belum bisa memakai kaus kaki, bahkan sering kabur ramai-ramai dari kelas. Saat itu penulis tidak sedang menjadi wali kelas, tapi mengikuti perkembangan mereka dari tahun ke tahun, bersama para guru hebat. Guru-guru mereka yang mulai “ndandani” semuanya dari nol sampai gagah seperti sekarang. Guru kelas maupun guru Al Quran, bahkan guru kebersihan serta guru keamanan yang senantiasa mendidik mereka dalam pergaulan sehari-hari.

Sungguh, kami tim kelas 6, tidak akan bisa menggenapi petualangan belajar mereka tanpa peran dan perjuangan mereka. Tentunya kami akan sangat repot-bahkan pasti gagal- jika tangga demi tangga mereka di kelas sebelumnya tidak tertunaikan dengan baik. Ibarat puzzle, kami tim kelas 6, mencoba melengkapi kepingan puzzle yang sudah dirangkai oleh guru-guru mereka sebelumnya. And it works!

Pelepasan siswa ini adalah agenda pelepasan siswa secara luring pertama setelah dua tahun pandemi.  Tentunya ini terasa sekali bedanya. Berbeda karena mereka, sempat mengenyam sekolah secara daring selama dua tahun. Ibarat sebuah arus listrik, dunia belajar bersama teman-teman sempat terputus. Sempat menikmati masa belajar sambil tiduran, tanpa mandi. Mereka kehilangan masa untuk berpetualang selama dua tahun di dunia nyata. Begitu mereka PTM, mereka harus mengejar ketertinggalan aspek akademis, ibadah bahkan Al Quran. Mereka juga harus beradaptasi lagi dengan dunia sekolah luring yang sangat dinamis. Tentu saja beriringan dengan momentum berpisah di ujung dunia putih merah. Hal yang tidak mudah, lebih tepatnya tantangan tersendiri untuk siswa maupun guru.

Alhamdulillah, dengan beragam tantangan yang ada, mereka berhasil melewatinya dengan baik. Mereka, angkatan power rangers, berhasil melewati proses adaptasi luring ke daring lalu balik lagi ke luring dengan gemilang. Ketertinggalan pada aspek akademis, ibadah serta Al Quran, berhasil dikejar dengan segenap kemampuan dan doa.

Beragam program digulirkan demi suksesi kelulusan pasca pandemi. Mulai dari training siswa dan orang tua, talkshow alumni, mabit dan Usbu’ Ruhiy, penugasan lifeskill, Proyek Akhir kelulusan, Ujian Sekolah sampai Outbound serta pendampingan ibadah. Semuanya bertujuan meng-akselerasi adanya learning loss selama “sekolah di rumah” dua tahun kemarin.

Tercatat pencapaian tahfidh tertinggi mencapai 13 Juz tersertifikasi. Naik 1 juz dibandingkan perolehan tahun lalu yang mencapai 12 juz tersertifikasi. Disusul kemudian perolehan 4 sampai 9 Juz tersertifikasi sebanyak 17 siswa. Selebihnya sudah mencapai minimal 2 juz. Alhamdulillah.

Tercatat pula pencapaian Al Quran dimana 52 siswa telah berhasil munaqosyah selama 6 tahun. Sembilan siswa sudah lancar membaca Al Quran dengan pencapaian jilid Ghorib dan Tajwid. Beriringan dengan hal tersebut 79 siswa berhasil khatam tilawah Al Quran minimal 2x di semester dua. Pencapaian yang luar biasa di tengah gejolak pandemi.

Di bidang akademis juga menggembirakan. Rata-rata nilai akhir 84 siswa angkatan XV mencapai 89,0 0 yang diperoleh dari gabungan nilai Ujian Sekolah dan Ujian Proyek serta nilai rapot semester 7 sampai 11.

Ala kulli hal, semua tak lepas dari banyak pihak. Seperti halnya kata pepatah, Roma tidak dibangun dalam sehari. Tentu saja. Semuanya butuh proses panjang dan SDM yang tidak sedikit. Kami tim kelas 6 hanya meng-kolaborasi serta menggenapi saja kebaikan-kebaikan yang ada di sekolah.

Last but not least, peran orang tua, juga sangat berpengaruh karena orang tua adalah guru pertama para siswa. Dalam sebuah syair dikatakan, Al Ummu madarosatul ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Dan ayah sebagai kepala sekolahnya. Kerjasama serta pola pengasuhan yang sinkron dengan pendidikan di sekolah menjadi kunci kesuksesan ananda. Dukungan dan kehadiran di setiap tahapan di tengah kesibukan domestik. Tentu saja yang tak boleh lewat adalah doa dari orang tua yang langsung menembus langit, tanpa hijab. Allah membuka kunci-kunci hati para ananda sehingga mereka manut pada Rabb-Nya sesuai arahan guru.

Semua pesan telah tersampaikan. Semua tahapan ilmu juga tertunaikan dengan baik. Maka kemudian, doa kami saja yang mengiringi kelulusan mereka. Doa supaya istiqomah dalam kebaikan. Berharap mereka akan menjadi generasi pengganti yang lebih baik di tengah dunia yang semakin edan. Berpegang teguh pada agama ibarat orang yang memegang bara api.

 Kalaupun mereka harus melewati jalan yang berkelok, mereka tahu apa yang harus dijadikan pegangan. Kalaupun mereka harus melewati jalan yang berbelok, mereka tahu dimana mereka harus berpulang. Allahu alam bish showab. (Neea Sweet)

Insprirasi Guru Lainya