Orangtua Siswa Bercerita: Cinta Sepanjang Doa
Oleh: Anik Susiati (Penulis Terbaik 1 Nulis Bareng Bunda Hebat SDIT Al Uswah Surabaya)
Ketika berusia 5 tahun, anak saya mulai aktif bertanya tentang obyek-obyek yang dia lihat di sekitarnya, dengan bahasa yang lebih saintis dan eksploratif. Pendidikan nonformal yang ia tempuh saat PAUD dan TK ditambah di dalam keluarga kecil saya dan suami turut membentuk kerangka berpikir tauhidiy pada diri anak lanang saya, membuatnya menjadi demikian.
Suatu saat, anak lanang bertanya tentang pohon yang ia lihat saat dibonceng abinya di atas sepeda motor untuk mengantarnya ke TK tempat ia bersekolah. “Bi, berarti Allah itu berkumis ya?”
“Hah? Kok bisa, kak?” tanya abinya agak tersenyum.
“Kan abi bilang kalau udah gede orang akan berkumis, sedangkan Allah lebih besar dari pohon tadi, berarti Allah berkumis dong?” Si adik diam menyimak dialog abinya dan si kakak.
Inilah serunya father time meski hanya sekedar mengantar anak. Orang tua bisa menangkap rasa penasaran dia akan sains dibalut sedikit imajinasi anak-anak kita saat mengeksplorasi alam sekitarnya. Tidak butuh penjelasan rumit untuk menerangkan konsep tauhid bersamaan dengan sains. Semua ayat-ayat dan petunjuk Allah tersedia di sekitar kita.
Dari pertanyaan soal pohon dan “kumis” Allah, anak saya memburu abinya dengan pertanyaan kerja mesin sepeda motor, termasuk komponen-komponennya semisal knalpot, roda, dan stang, di keesokan harinya. Ini serius, hehehe.
Kami bersyukur anak kami dikaruniai kecerdasan verbal-lingual dan spasial-natural. Banyaknya kosakata dan menghubungkan kosakata itu dengan alam sekitar merupakan isyarat akan kemampuan dirinya telah memahami konsep-konsep yang terindera, di usianya. Kami berpikir bahwa “modal” ini harus dipertemukan dengan guru yang tepat. Sekolah yang tidak hanya berorientasi pada pendidikan intelektual, tetapi juga emosional dan tauhid.
Anak kedua saya juga memiliki keunikan yang berbeda dengan sang kakak. Si adik lebih memiliki kepekaan emosi terutama di bab interaksi sosial. Meski kemampuan verbal dan sains tidak sebaik kakaknya, anak wedok lebih ekspresif mengungkapkan perasaannya dan mengeksplorasi pengalaman-pengalaman emosional dirinya. Ini bagi saya juga modal yang dianugerahkan Allah kepada kami.
Disitulah kami membulatkan tekad untuk menitipkan putra-putri kami berpetualang di masa kecil mereka pada SDIT Al Uswah Surabaya. Bukan karena “sekedar” agar anak-anak kami memiliki hafalan Al-Quran yang baik (karena para penghafal Al-Quran tentu bukanlah manusia ala kadarnya), tetapi supaya fitrah keimanannya terjaga dan berkembang seiring bertambahnya usia.
Fitrah keimanan ini kami anggap jauh lebih penting ketimbang banyak hafalan Al-Quran, banyak tahu ilmu fiqih, atau bahkan paham hadits-hadits Nabi SAW. Sebab ketika fitrah keimanan sudah mengakar kuat di hati dan pikiran anak, maka interaksinya kepada Al-Quran, sunnah-sunnah Nabi Muhammad, dan ilmu agama tinggal menunggu waktu. Sebuah keniscayaan, kira-kira begitu.
Saya pernah dengar kasus anak tumbuh menjadi penghafal Al-Quran, akan tetapi saat akil baligh dia tidak solat. Di pondok rajin ibadah, saat liburan di rumah dia absen beribadah. Ini yang tidak kami inginkan. Karena itu, komitmen kami terhadap pendidikan adalah menjadikan sekolah sebagai partner kami untuk mencetak generasi Islam yang kokoh, dan outputnya adalah dia menjadi penerus risalah agama dan dakwah. Guru utamanya tetaplah orang tua di rumah.
Mencari sekolah yang mampu menjadi mitra bagi orang tua sekaligus menghadirkan ekosistem pendidikan karakter bagi anak adalah kewajiban, dalam pandangan kami. Karena itu, pendidikan akan menjadi topik sentral keluarga, sampai kapanpun. Seluruh pikiran, resources, dan kebijakan penting keluarga (seperti memilih rumah tinggal, jadwal liburan di kampung, agenda pekerjaan, hingga pengaturan ekonomi) titik utamanya ada di pendidikan dan sekolah. Prioritas yang tidak akan boleh digeser, dan harus siap pasang badan untuk memperjuangkannya.
Yang paling saya sukai dalam sistem dan kurikulum SDIT Al-Uswah Surabaya adalah peniadaan sistem rangking. Bagi saya, sistem rangking membawa dampak traumatik pada orang tua, terlebih ke anak. Kondisi sosial masyarakat kita yang saat ini masih “menggilai” gelar dan pengakuan sebagai simbol kedudukan dan kehormatan, bagi kami harus diperbaiki.
Jangan pernah membandingkan ikan dan burung dalam hal berenang. Jangan pernah memperlombakan atlit lompat galah dan basket secara bersamaan. Bahwa setiap anak sukses di track-nya masing-masing. Setiap siswa tak perlu mempelajari kurikulum olimpiade matematika bila memang mereka jago menyanyi.
Yang mau diarahkan sebagai akademisi, orang tua bisa ikutkan pendidikan ekstensi untuk mengikutkan anak mereka pada pembekalan olimpiade sains. Anak-anak yang lain tak perlu belajar mata pelajaran yang kurikulumnya setara olimpiade.
Tak ada guru dan kurikulum yang menjadi hakim bagi anak-anak kami. Maksudnya, menjatuhkan vonis “kamu pintar” pada siswa satu dan “kamu bodoh” pada siswa lain. Yang ada hanyalah “Anak bapak cerdas di sini ini”, “Anak ibu menonjol di kemampuan itu”. Ada yang juara karena berbakat matematika, ada yang dihargai karena suka memberi, dan ada pula yang diakui karena aktif bertanya. Semua meraih apresiasinya secara adil.
Pendidikan di SDIT Al-Uswah yang memfokuskan pada karakterisasi dan potensi dalam bingkai ketauhidan akan membuat anak didik tidak stress karena mengikuti kemauan orang dewasa. Karena itulah, anak-anak kami tidak ada yang ikut les pelajaran tambahan di luar sekolah, selama memang itu bukan dari keinginan mereka sendiri.
***
Suatu hari, anak lanang rebahan berdua dengan abinya di kamar. Dia berbicara dalam nada yang mendalam. “Abi, maaf tidak bisa menjadi anak yang hafalannya setara si fulan,” ujarnya membandingkan dirinya dengan teman sekelasnya yang sudah punya hafalan 7 juz, sedangkan dia -waktu itu- sedang sertifikasi juz 28. Kami mendengarkan kalimat singkatnya itu dan berpikir sejenak. Ini bagi kami prestasi luar biasa. Dia berani jujur mengutarakan isi hatinya.
Abinya membelai rambutnya yang setengah gondrong itu dan berkata, “Abi ngga pernah memaksa kakak hafal Al-Quran banyak-banyak, bagi abi yang penting Quran ada dalam hati; kakak mencintai Allah dan Rasulullah, kakak cinta dengan Al-Quran, kakak hidup dengan Al-Quran, abi sudah senang, nak”
Entah bagaimana caranya, anak lanang terdiam menatap langit-langit kamar sambil memeluk guling, kemudian air matanya menetes jatuh. Kami memandangi anak lanang kami dengan sedikit heran, ada apa dengan dia?
Lama sekali dia menutup mulut, ketika kami tanya “Kakak kenapa menangis?”
Dia mengusap mata, “Tidak apa, ummi, abi”
Kami langsung paham, inilah yang disebut oleh guru-guru kami sebagai “fitrah keimanan”. Perasaannya bertemu dengan akal, hatinya tersentuh dengan nasihat, dan kemudian jiwanya merasakan iman. Pada momen inilah kami memeluk anak lanang.
Sebentar lagi engkau akan akil baligh, nak.
***
Di hari lain, anak wedhok saya menunjukkan “prestasi” belajarnya berupa pengumuman dari wali kelas bahwa ia termasuk 10 besar di kelas dalam hal kemampuan numerik. Anak saya ini dulunya saya kira seorang yang below confident, nggak pernah percaya diri. Ternyata karena sering menerima pujian dan kalimat positif orang tuanya, anak wedok tumbuh menjadi siswa yang achiever. Dia gigih dalam meraih sesuatu, termasuk mengejar ketertinggalannya menghafal Al-Quran dari sang kakak, dan mata pelajaran yang dianggapnya kurang atau di bawah teman-temannya.
Sementara kakaknya, yang dulu saya anggap sebagai sosok anak kolerik-kuat (karena sering memimpin dalam permainan pada peer group yang ia punyai), tumbuh menjadi pribadi mediocre, atau ordinary people. Manusia rata-rata yang tidak ingin menonjol.
Perubahan karakter ini agak mengagetkan kami, khususnya saya. Kesadaran bahwa setiap anak mampu mengalami perubahan atau shifting, langsung menundukkan ego saya. Anak-anak saya tak ideal, begitu pula orang tuanya. Inilah kaidah berpikirnya.
Saya berasumsi si kakak akan menjadi leader yang berprestasi akademik di segala hal, tetapi dia kemudian lebih nyaman memilih hidup sebagai seorang mediocre yang menikmati kesantuyan, berteman secara egaliter, dan nampak tak ingin menonjol di tengah kerumunan manusia. Saat mabar ML, anak lanang menikmati posisi sebagai pengatur strategi menyerang dan decision maker di belakang, kemudian menikmati momen dimana dia menjadi MVP melampaui teman-temannya, meski tanpa perlu dipuji.
Si adik, yang saya kira ordinary girl ternyata berubah jadi sosok achiever yang teguh memegang prinsip kompetisi diam-diam. Sekali waktu, anak wedok memposisikan diri sebagai penasihat bagi teman-temannya bila nampak berbuat salah, ia akan menegurnya.
Wali kelas anak saya menyebutnya sebagai “potensi kebaikan yang unik dan patut diapresiasi”. Perkataan ustadz anak-anak saya ini begitu berkesan dalam hati saya.
Ini yang menarik dalam hidup. Ia tak selamanya berjalan dalam ekspektasi kita. Sebagai orang tua, harus siap mental dan mindset bahwa hal terpenting dalam pendidikan anak-anak adalah bertumbuhnya potensi fitrah pada diri mereka, menjadi diri mereka sesuai keridhaan Allah, bukan keinginan orang tua. Karir dan profesi bisa berubah. Mereka berhak punya cita-cita dengan peran sebagai apapun. Selama Allah ridha. Selama mereka menjadikan tauhid sebagai inti dari cita-cita mereka.
Alhamdulilah, kami tidak salah pilih. SDIT Al Uswah telah memenuhi harapan dan doa kami untuk mendidik fitrah keimanan anak-anak, kemudian menyediakan ekosistem yang tepat agar potensi-potensi kebaikan yang lain bermunculan. Terima kasih para ustadz, terima kasih SDIT Al Uswah telah meridhai anak-anak kami yang tak sempurna. Mencintai mereka sepanjang doa.
Anik Susiati
Adalah ibu rumah tangga yang suka belajar kepada anak-anaknya.


