Orangtua Siswa Bercerita: Membeli Ekosistem Sekolah

Oleh: Hayatika Bunda Dhiya’ (Penulis Nulis Bareng Bunda Hebat SDIT Al Uswah Surabaya)

Saya pernah jumawa, sebagai ‘full mother’ akan dapat mengupgrade pendidikan anak-anak dirumah.  Artinya, di mana pun anak bersekolah, walau dengan sarana yang kurang atau grade pendidikan yang rendah, anak tetap bisa mendapat pembelajaran terbaik di rumah. Sehingga, meski sekolah termasuk dalam taraf akreditasi menengah, kelak anak tetap memiliki kualitas dan daya saing setara dengan mayoritas siswa dari sekolah-sekolah yang telah menyandang kualitas pendidikan unggulan.

Ternyata saya salah.

Dua tahun lalu, berdasarkan pertimbangan jarak dan kemudahan akses saya memilih sekolah paling dekat dari rumah. Saya berharap suatu saat nanti, anak lebih mandiri dan dapat berangkat-pulang sekolah sendiri. Kendati ada beberapa informasi miring yang menyebutkan sekolah tersebut berkualitas pendidikan rendah. Tapi saya abaikan. Seperti yang telah saya sampaikan, pembelajaran anak akan dapat di-upgrade di rumah.

Namun apa yang terjadi?

Awal masuk sekolah, anak saya paling unggul diantara teman sekelasnya. Alhamdulillah, ananda yang sejak TK telah lancar membaca harus mengulang materi pengenalan huruf dan angka karena hampir semua siswa belum bisa. Tapi saya masih menganggap itu hal yang wajar. Bukankah kemampuan baca tulis hitung tidak termasuk kurikulum yang wajib diberikan di Taman Kanak-kanak, sehingga mungkin baru dikenalkan pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar.

Pada bulan-bulan selanjutnya di semester pertama, saya tidak melihat perkembangan apa-apa pada anak. Sepertinya pembelajaran yang dia dapat di sekolah stagnan itu-itu saja. Beberapa tugas dari buku LKS yang dikerjakan tidak mencerminkan anak paham tentang materi yang diajarkan. Selain itu, saya merasa lebih kesulitan memberi pembelajaran lebih karena anak seperti tidak lagi memiliki stimulus untuk mempelajari sesuatu.

Lagi-lagi saya masih berkonpensasi bahwa anak sedang beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya.

Menginjak semester dua, perkembangan anak masih sama. Hampir semua penilaian tugas dari sekolah baik. Tapi ketika saya tanya dengan materi pelajaran yang sama, anak malah bingung mau jawab apa. Bahkan, dengan pertanyaan yang sama persis dengan latihan soal yang telah dikerjakan sebelumnya, dia tak bisa jawab. Lah, jadi nilai seratus yang tertera di buku ini dari mana, batin saya.

Saya mulai resah. Apalagi mulai terlihat perilaku negatif yang sering terbawa ke rumah. Sedangkan nilai-nilai yang telah kami tanam dan terapkan mulai terkikis.  Singkatnya, secara kognitif, sikap, dan emosional anak mengalami penurunan.

Dan saya masih bertahan, dengan harapan ada perbaikan pada anak di tahun keduanya.

Alih-alih ada perbaikan, kian hari degradasi sikap dan akhlak semakin menjadi. Baik dalam perilaku dan penuturan. Anak yang biasa tertib, penurut, dan santun ucapannya menjadi kasar, emosinya meledak-ledak, bahkan sering membentak.

Segala pendekatan telah kami upayakan. Memperbanyak quality time bersama, mempererat bonding, dan melibatkan anak pada kegiatan-kegiatan di lingkungan yang lebih positif. Namun belum bisa menghilangkan sikap-sikap buruknya. Padahal, durasi anak di sekolah tidak lama. Jadwal KBM kelas 1 dan 2 masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 09.30. Nyatanya waktu kurang dari tiga jam itu begitu mempengaruhi pendidikan karakter anak, seolah apa yang dia serap di sekolah menjadi tolak ukur kebenaran perilaku yang selayaknya dilakukan. Sehingga apapun yang ia lihat dan rasakan di sekolah dipandang sebagai suatu yang benar dan boleh dilakukan meski secara umum hal tersebut adalah suatu keburukan.

Sejak itu saya sadar, bahwa sekolah bukan hanya tentang materi pembelajaran. Memilih sekolah bagi anak bukan sekedar melihat materi pelajaran apa yang akan diterima. Tapi jauh lebih kompleks, yaitu menempatkan anak pada sebuah ekosistem pendidikan, dimana segala unsur biotik dan abiotik di dalamnya saling terkait dan merupakan stimulus terpenting dalam pembentukan karakter anak.

Di sekolah, anak tidak hanya belajar sesuai jadwal pelajaran. Melainkan setiap detik anak akan menyerap bagaimana cara guru bersikap, bagaimana interaksi antar sesama teman, bagaimana cara memperlakukan benda-benda di sekitar, dan sebagainya. Selanjutnya, nilai-nilai dan tatanan yang mereka serap dari sekolah bakal membentuk pola pikir, sikap, perilaku, yang kemudian menjadi kebiasaan dan habit.

Kebiasaan dan perilaku yang baik insyaallah akan menjadikan anak berkarakter dan berkepribadian baik.

Maka yang pertama, dalam memilih sekolah penting memperhatikan bagaimana sekolah menanamkan pembiasaan positif pada siswanya, dan poin sikap apa saja yang ditekankan. Hal ini dapat terlihat dari bagaimana sikap guru, mayoritas siswa yang telah terdidik, SDM penunjang,  dan sebagainya ketika beraktivitas di sekolah. Mereka merupakan barometer kesantunan kehidupan sekolah. Semua unsur biotik itu memiliki daya masif dalam mempengaruhi sikap dan pemikiran anak, bahkan sebelum anak mencerna pelajaran. Konsep yang sesuai dengan kaidah ‘adab dulu baru ilmu’.

Yang kedua adalah standart pendidikan. Saya masih berpendirian bahwa materi pembelajaran dapat diperoleh di mana pun dan dari mana pun. Siswa sekolah grade rendah pun bisa lebih pintar jika dia mau belajar dan menyerap ilmu dari tempat lain. Tapi umumnya anak di usia sekolah dasar kesadaran individu untuk mempelajari suatu keilmuan belum berkembang. Mereka cenderung membutuhkan kesadaran kolektif, artinya anak akan belajar ketika teman sekelompoknya belajar; anak akan berusaha bisa jika teman yang lain bisa. Maka, standart pendidikan sekolah sangat mempengaruhi daya saing bagi anak, dan menjadi stimulus atau rangsangan mereka untuk belajar.

Memang kurang arif melabelkan siswa dari sekolah A berdaya saing rendah, dan siwa dari sekolah B berdaya saing tinggi. Namun, berdasarkan konsep kesadaran kolektif, hal ini bukan sesuatu yang muluk.

Kembali pada analogi ekosistem, bahwa siswa yang termasuk unsur biotik dan sarana sekolah yang merupakan unsur abiotik yang menjadi stimulus penting dalam perkembangan pendidikan anak. Menempatkan anak pada ekosistem sekolah tertentu berarti berharap anak setidaknya memiliki standar kemampuan yang sama dengan mayoritas siswa sekolah tersebut. Karena ada nilai kompetensi yang sengaja dibangun, ada target pembelajaran yang diupayakan. Mungkin hal ini yang menjadikan standar pengajaran satu sekolah berbeda dengan yang lain.

Poin-poin pertimbangan itu yang membuat kami memutuskan mengganti sekolah anak. Untuk memilih ekosistem terbaik bagi tumbuh kembang pendidikannya.

Dan setelah melalui proses lumayan panjang, alhamdulillah ananda dapat diterima belajar sebagai siswa kelas 3 SDIT Al Uswah Surabaya. Meski ada harga yang harus kami bayar mahal. Bukan hanya tentang biaya, melainkan juga jarak, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan jauh melebihi sekolah sebelumnya. Tapi kami yakin, apa yang diupayakan akan setara dengan hasilnya; anak yang tumbuh dalam akhlak yang baik, berkarakter islami, berilmu yang manfaat, dan berprestasi. Insyaallah.  

Biodata:

Hayatika, ibu dua anak cowok yang sedang belajar. Sering try and eror. Beberapa kali dibilang jahat oleh anak-anak, alhamdulillah mereka tetap sayang. Karena tak ada ibu yang luput dari kesalahan, tapi posisinya tak ‘kan tergantikan.  Selamat hari ibu! Salam sayang buat para ibu semua!

Insprirasi Guru Lainya