Orangtua Siswa Bercerita: Mencari Partner Membersamai Anak Sholih

Oleh: Berliana Bunda Hadziq (Penulis Terbaik 3 Nulis Bareng Bunda Hebat SDIT Al Uswah Surabaya)

“Apabila seseorang telah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya” (HR. Muslim No. 1631)

Hadist di atas selalu mengingatkan kami bahwa anak sholih yang mendoakan adalah salah satu kucuran amalan saat kami tiada nanti. Tidak cukup punya anak saja tapi harus anak sholih dan yang mau mendoakan. Kamipun sepakat bahwa anak sholih adalah sebuah ‘investasi’ baik saat di dunia maupun di akhirat. Perlu usaha untuk meningkatkan nilai ‘investasi’ ini menjadi sholih dan mau mendoakan orang tuanya. Berat? Tentunya. Hal ini tidak cukup hanya dengan andil langsung kami sebagai orang tua saja namun lingkungan tumbuh dan berkembang yang kami pilihkan akan ikut berperan, termasuk lingkungan pendidikan formal.

Pertumbuhan dan perkembangan anak baik fisik maupun mental dipengaruhi oleh nature dan nurture. Nature tentunya diwariskan dari kami secara genetik sedangkan nurture adalah lingkungan di sekitarnya. Sebagai orang tua yang bekerja di luar rumah, menyekolahkan anak formal di lembaga pendidikan merupakan suatu pilihan. Kami paham jika memilih sekolah ini bukan urusan yang bisa diselesaikan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan saja karena sekolah adalah salah satu lingkungan penting yang membantu anak berproses menjadi lebih baik. Sekitar 40-60% waktu mereka terjaga tiap harinya adalah di sekolah. Lingkungan sekolah yang kondusif kami harapkan mampu mengantarkan mereka menjadi anak yang lebih sholih lagi.

Petualangan memilih sekolah untuk anak sulung kami dimulai saat usianya menginjak dua tahun. Jenjang sekolah pertama yang kami fokuskan untuk diseleksi adalah jenjang sekolah dasar. Mengapa sekolah dasar dulu? Bukankah sebelum sekolah dasar anak akan masuk kelompok bermain dan taman kanan-kanan? Banyak alasan yang membuat kami sepakat untuk mencari sekolah dasar yang sesuai terlebih dahulu. Pertama, sekolah dasar adalah jenjang pendidikan terlama yang akan ditempuh anak di Indonesia. Sekolah dasar juga merupakan pendidikan formal pertama karena kelompok bermain dan taman kanan-kanan adalah jenjang prasekolah. Kami juga mengingat tiga tahap pendidikan ala Ali bin Abi Thalib ra. yaitu tahap pendidikan anak usia 7-14 tahun adalah sebagai ‘tawanan’ di mana mereka akan dihadapkan pada hak dan kewajiban. Alasan terakhir adalah karena hadist Rasulullah SAW untuk mengajarkan anak sholat pada usia 7 tahun dan mulai memberi hukuman pada usia 10 tahun. Usia ini adalah usia saat anak menempuh jenjang sekolah dasar.

Beberapa kriteria kami urutkan sesuai prioritas untuk memilih sekolah calon partner kami membersamai perjalanan pendidikan anak. Kriteria pertama adalah kesesuaian visi, misi, dan kurikulum sekolah dasar dengan visi dan misi serta kurikulum pendidikan anak dalam keluarga. Kami tentunya menginginkan sinergisitas antara pendidikan di rumah dan di sekolah sehingga kriteria kesesuaian ini adalah kriteria mutlak yang harus dipenuhi calon sekolah yang akan kami pilih. Kami tidak menginginkan adanya standar ganda antara aturan di rumah dan di sekolah. Luaran pendidikan anak yang kami sepakati berdasar visi dan misi dalam keluarga adalah menjadi anak sholih, mandiri, serta menemukan dan menjalankan bidang keahlian sesuai minat bakat. Harapan kami, sekolah yang kami pilih nantinya harus mampu mendukung luaran ini.

Kedua, kami mendamba sekolah sebagai lingkungan utuh yang kesemuanya mendukung luaran kami. Lingkungan yang utuh ini tidak hanya sebatas kurikulum namun juga manusia di dalamnya. Gambaran latar belakang dan karakter secara umum dari kepala sekolah, guru, karyawan sekolah, serta wali siswa yang menyekolahkan anaknya di sana merupakan perhatian dari kami. Kami sangat mengapresiasi sekolah yang mengadakan agenda rutin maupun insidentil bagi guru, karyawan, dan wali siswa untuk menyamakan persepsi, terutama persepsi tentang pendidikan pada anak.

Beberapa kriteria berikutnya adalah syarat usia masuk sekolah dan kemampuan baca, tulis, dan berhitung (Calistung) sebelum sekolah dasar; lokasi; serta biaya. Kriteria syarat usia masuk ini lebih kepada menyiapkan kapan anak kami bisa mendaftar sedangkan syarat kemampuan Calistung menjadi perhatian kami karena Calistung adalah hal yang bukan menjadi fokus dan prioritas kami saat prasekolah. Kemudahan akses menuju gedung sekolah dasar dari rumah atau tempat kerja tentunya menjadi pertimbangan karena akan berdampak pada alokasi waktu dan biaya transportasi. Terakhir adalah biaya sekolah, kami tidak menutup mata jika ‘harga membawa rupa’ termasuk urusan sekolah. Beruntung kami melakukan riset sejak lima tahun sebelum si sulung masuk sekolah dasar yang memudahkan kami untuk merencanakan dan menyiapakan dana dengan baik.

Mengapa tidak ada kriteria prestasi atau kemampuan akademis? Kembali lagi, fokus kami adalah menjadikan anak sholih yang tertib ibadahnya dimulai sejak usia sekolah dasar ini. Bukan berarti mengesampingkan prestasi sekolah namun jika pribadi anak sudah terbentuk baik, prestasi akan mengikuti, sesuai dengan minat dan bakat tentunya.

Kami kemudian mencari profil beberapa sekolah dasar dan mengeliminasi satu per satu sesuai dengan prioritas kriteria yang telah kami susun. Pencarian profil ini dengan mengunjungi laman resmi atau media sosial sekolah terkait, membaca ulasan secara umum, mempelajari brosur, dan bertanya kepada narahubung. Hal lain yang tak kalah penting adalah mencari testimoni dari orang-orang yang kami kenal yang menyekolahkan anaknya di sekolah dasar tersebut. Kami pikir sebuah testimoni dari orang yang kami ketahui karakternya lebih bisa kami ukur dibanding ulasan dari orang yang belum kami kenal.

Manusia tentunya hanya dapat berikhtiar. Memilih sekolah dasar yang terbaik adalah harapan kami untuk kian meningkatkan ‘investasi’ kami yaitu anak sholih. Namun, tak ada sesuatu yang sempurna, yang ada hanyalah sesuatu yang mau berproses menuju kesempurnaan. Kelak, sebagai partner, baik kami, orang tua, maupun pihak sekolah adalah pihak yang harus selalu berbenah dengan membuka akses komunikasi sebesar mungkin untuk tujuan yang sama, membersamai anak sholih bertumbuh dan berkembang. Menjadikan mereka ‘investasi’ berharga yang Insyaa Allah akan megalirkan pahala meski diri ini telah tiada. Bismillaah, semoga Allah SWT meridhoi.

Bionarasi penulis: Bunda dengan tiga anak. Saat ini selain membersamai tumbuh kembang buah hati juga bekerja di luar rumah.

Insprirasi Guru Lainya