Pabrik Pencetak Generasi Peradaban
Oleh : Diana Agustin Tri Nugrahaeni, S.KM., S.Pd
Guru : SD Al Uswah 2 Surabaya
Tanggal : 27 September 2021
Keluarga adalah awal yang menentukan kualitas pribadi seseorang. Menjadi tempat awal mula sebuah pendidikan didapat. Jika ada pertanyaan, siapakah yang bertanggung jawab pertama kali terhadap kesuksesan pola pikir anak tentu mereka adalah keluarga, bukan lagi sekolah atau gurunya. Walau tidak menutup kemungkinan lingkungan sekitar juga ikut andil dalam mempengaruhi karakter seseorang. Ketika sudah mengazzamkan diri bahwa keluarga yang dirintis adalah sebuah potret keluarga pilihan, yang dimaksud terpilih disini adalah terpilih Allah untuk menegakkan risalah hingga meraih janahNya. Maka sebagai penggerak keluarga haruslah mempunyai strategi agar keluarga tersebut mampu bersaing, bertahan atau bahkan mewarnai kehidupan sekitar dengan warna kebenaran islam.

“Jika bisa, jadilah engkau imam bagi keluarga, di lingkungan, imam di berbagai tempat di lainnya. Sebab, tidak ada sesuatu yang bisa diambil dari dirimu dalam kebaikan, kecuali engkau pasti akan mendapatkan bagian pahala dari sesuatu itu.” –Imam Hasan al-Bashri.
Jika kita mampu meneladani doa tersebut, maka tak boleh lagi seorang muslim berpangku tangan, hanya mengupgrade kapasitas dirinya saja, namun ketika dia sudah paham banyak amanah yang perlu dijalankan, maka seorang muslim yang sudah berkomitment dalam pernikahan islami, dan membentuk sebuah keluarga terpilih, wajib baginya untuk menyediakan generasi Rabbani penerus peradaban yang gemilang yang telah dinanti umat selanjutnya sebagai upaya keberlangsungan kebenaran islam.
“ Aku menjumpai orang awam yang tidak berpendidikan tinggi, akan tetapi mereka mendidik anak-anaknya dengan penuh keseriusan. Ternyata orang itu mencatat kesuksesan yang luar biasa dalam mendidik anak-anaknya.” –Doug Payne, dalam buku Bukan Aktivitas Rutin (Innaha ‘AmaliyahLaisat Mu’aqqadah)
Jika kita melihat keluarga yang berada dalam kategori berpendidikan tinggi, gaji yang besar dan mencukupi, namun tidak berhasil mendidik anak-anaknya? Dimanakah kata kuncinya? Dimanakah sebenarnya posisi keluarga? Barangkali kita perlu sadar untuk belajar dan menemukan jawabannya dengan baik dan benar, insyaAllah. Yakni, kita mengenali posisi keluarga dalam mengantar dalam meraih Syurga, disamping itu agar manfaat keluarga bisa dirasakan oleh lingkungan sekitar, meneguhkan lagi komitment keluarga dalam mencetak generasi Rabbani, dengan tujuan utama perbaikan peradaban selanjutnya.
Maka sebagai orangtua visioner yang mengazzamkan diri membentuk generasi peradaban, tegakkan aturan dalam diri untuk membina keluarga supaya mampu menggapai yang dicitakan.
1. Mengembalikan keteladanan
2. Membersamai anak dalam kebaikan
3. Menjadi figur bagi anak
4. Anak adalah pengamat yang sangat teliti
5. Bicara dengan kekuatan integritas
*) Penulis adalah pendidik anak-anak syurga di SD Al Uswah 2 Surabaya


