Pentingnya Perasaan Tatag Bagi Orangtua

Oleh: Sulaikah Kurniawati, S.Si (Waka Kesiswaan SDIT Al Uswah Surabaya)

Diantara puluhan pesan parenting, satu hal yang sering terlewatkan penekananannya (stressing-nya) adalah tatag. Tatag diartikan membangun mentalitas seseorang yang bagus dan menjadi bekal untuk menjalani tantangan. Jadi orang tua harus tatag. Punya kekuatan hati untuk tega melihat “penderitaan” anak.  Eh eh. Kejamnya. Sebentar. Jangan protes dulu.

Tatag itu tidak mengambil alih peran anak dalam mengatasi kesulitan atau ketidaknyamanannya. Misalnya begini. Sekolah baru, Kelas baru teman baru maka besar kemungkinan anak akan berpisah dari bestie-nya. Tidak sekelas. Bahkan tidak satu sekolah. Dia tidak akan nyaman. Gelisah minimal. Maka orang tua tidak perlu mengondisikan si anak untuk sekelas lagi dengan bestie-nya. Bahkan sampai harus pindah sekolah.

Tugas orangtua, adalah memahamkan si anak untuk open mind terhadap dunia baru. Banyak hal baik di luar circle-nya. Ini real terjadi pada si Nduk. Hanya sedikit teman SD dalam satu kelas. Sempat manyun. Tapi saya sampaikan: Alhamdulillah Allah ingin kamu lebih banyak bergaul dek, dan sebagainya, dan sebagainya. Maka tidak heran, jika membaca berita, bahwa gen Z termasuk orang-orang yang mudah putus asa. Mutungan. Sithik-sithik healing..  Lha pengasuhannya begitu.

Oh ya, tatag tidak berarti tanpa empati lho ya. Tetap dong, dengarkan setiap keluhan anak. Dan tidak meremehkan perasaan mereka. ‘halah gitu aja’ …adalah komen yang paling sering dan menyakiti anak. Hayo siapa yang kek gitu?

Saya yang menulis ini, masih harus jungkir balik belajar tatag. Beberapa kali harus istighfar karena kurang tatag. Salah satu contoh ketika si sulung “menderita” saat menjadi ketua panitia besar tempo hari. Protes sana sini…nelfon sana sini…. Bikin gaduh

Baiklah parents… Kita tidak selamanya hidup bersama anak. Suatu saat kita dipanggil Sang Maha Kuasa dulu, meninggalkan si anak sendiri. Walaupun takdir tidak selalu begitu. Bisa jadi sebaliknya. Tapi setidaknya, kita sudah membekali si anak dengan baik. Membekali tidak hanya berupa uang dan warisan dunia. tapi pengalaman belajar yang menguatkan

Insprirasi Guru Lainya