Perjalanan Cinta Sembilan Hari

Oleh: Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)

Takdir Allah memang indah. Bahkan mengejutkan. Siapa yang menduga, secepat ini aku bisa melaksanakan ibadah umroh? Umroh, adalah sebuah mimpi diantara mimpi-mimpi yang kutuliskan dan kurajut dalam doa. Setidaknya Ramadhan kemarin, mimpi itu menguat, mengkristal lalu terwujud pada Desember 2022.  

Dag dig dug rasanya ketika dipanggil oleh manajemen yayasan. Dalam hal ini, Ustazah Alfie. Terbersit di kepala, mau ada amanah apa lagi ini? Oh no! Hehehe, maklum, dua pekan sebelumnya, aku sempat shock dan sedikit stress ketika Ketua JSIT Surabaya meminta untuk menggantikan amanah sebagai Kepala Bidang Pramuka SIT Surabaya. Kegaduhan itu pun akhirnya pecah menjadi rasa syukur ketika disampaikan bahwa aku mendapatkan apresiasi Hari Guru berupa Umroh. Ya Allah Gusti, beneran aku mau umroh….. Satu bulan lebih sedikit, saya mempersiapkan segala sesuatunya. Persiapan ruhiyah, doa, ilmu bahkan finansial untuk segala kebutuhan fisik yang saya perlukan.

Eng ing eng hari yang dinantikan pun tiba. Tepat hari Senin 5 Desember 2022 saya berangkat, bersama dua puluh sembilan jamaah lainnya. Tour leader-nya gak kaleng-kaleng. Langsung bersama Ustaz Mukhtasar dan Ibu Ratri Handayani. Mata yang membening, menghiasi perjalanan saya. Masih berasa tak percaya, berasa mimpi saya sedang menuju dua tanah suci. Ini bukan perjalanan biasa gaes.

Rasa haru itu semakin membuncah nyata ketika kedua mata ini melihat langsung masjid Nabawi di kota Madinah. Masjid yang indah banget. Megah dengan puluhan pintu ukiran. Salah satu yang menarik adalah di halaman masjid terdapat 250 payung listrik yang akan membuat jamaah tetap sejuk walaupun sedang terik. Harum karpetnya segar dan manis, dengan aroma kayu, sedikit rempah. Madinah yang menenangkan semakin sempurna dengan masjid Nabawi.

Adalah Raudhah, area di dalam Masjid Nabawi yang terletak di antara rumah Rasulullah SAW dan mimbar yang beliau gunakan untuk berdakwah. Raudah artinya taman surga, tempat ini juga disebut sebagai area yang mustajab untuk berdoa, ditandai dengan tiang-tiang putih dan karpet putih. Luasnya sekitar 330 meter persegi yang memanjang dari arah timur sampai barat sepanjang 22 meter dan dari arah utara sampai selatan sepanjang 15 meter. Sepuluh menit saja waktu yang diperbolehkan untuk beribadah di Raudhah. Tentu saja, gantian dengan jamaah yang lain yang masih buanyaaak antri di halaman.

Tiga hari di Madinah seakan sedikit meluapkan rasa rindu kepada Rasulullah Muhammad Saw. Baru bertemu makam-nya, baru bertemu masjid-nya, baru bertemu kota-nya, udah seneng banget. Bagaimana nanti ketika bertemu Rasulullah di surga? Ya Allah, aamiin aamiin….

Hari Kamis, saatnya meluncur ke Mekkah. Berhenti di Dzul Hulaifah (atau Bir Ali), kami mengambil miqot dengan salat dua rakaat. Aroma tanaman mint di halaman masjid segar memanjakan indra penciuman. Sepanjang perjalanan, kami mengumandangkan talbiyah. Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak. Mata kembali meleleh, kali ini lebih deras. Saya yang cuma begini, banyak dosa dan khilaf, diberi kesempatan untuk umroh. Suatu anugerah yang membuat hati ini tersungkur malu. Allah Maha Baik dengan segala takdirnya.

Sesampai di Mekkah, kami bersegera menuju Kakbah untuk menunaikan rukun umroh berikutnya. Lagi-lagi, mata meleleh deras tatkala pertama kali melihat Kakbah. Lisan tak mampu mengucap apa-apa selain zikir dan zikir. Maha suci Allah dengan segala nikmatNya. Kami bersama menunaikan thawaf dan sa’i dengan bimbingan muthawif gaul bernama Ustaz Agung Abu Zaidan. Takjub yang tak berkesudahan, melihat lautan manusia yang seakan tiada putus mengelilingi kakbah. Selalu ada yang thawaf. Seakan air yang alirannya tak akan terputus. Begitu pula di tempat sa’i. Selalu banjir manusia yang berjalan dan berlari kecil dari shafa ke marwa, dan sebaliknya.

Pertanyaan demi pertanyaan muncuk di kepala. Dari mana mereka semua itu? Mengapa mereka kemari? Bukankah umroh (dan haji) adalah ibadah dengan biaya mahal, membutuhkan fisik yang kuat serta waktu yang tak sedikit? Mengapa mereka rela kemari meninggalkan pekerjaan, keluarga dan harta di rumah demi untuk ber-umroh? Bodohnya diriku. Karena jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah karena cinta. Tanpa cinta kepada Allah dan RasulNya, mereka tak mungkin kemari. Aku tersungkur dengan pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Keimanan yang melahirkan cinta, akan menggerakkan manusia, di luar batas rasa kemanusiaan normal.

Bahagia dan bahagia, itu saja yang dirasakan ketika menunaikan perjalanan cinta sembilan hari. Bersyukur, bahkan hingga detik ini. Jika bukan rahmat dan pertolongan Allah, mustahil saya bisa upgrading iman ke Haromain. I don’t have money at all. Allah memampukan siapapun yang terpanggil, dengan cara indahNya. Last but not least, butuh banyak tangan yang Allah takdirkan untuk membuatku mampu beribadah ke Haromain. Mulai dari Asatiz dan Ustazaat yayasan, travel umroh, sampai marbot masjid. Keluarga dan teman-teman yang mendoakan serta menggantikan amanahku. Tak cukup hanya ucapan terima kasih. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada semuanya.

Teringat sebuah doa yang diajarkan oleh sang muthawif,: Ya Allah berikan makanan kepada mereka yang memberiku makan. Maka saya pun berdoa: Ya Allah berikan balasan ibadah umroh dan haji kepada mereka yang memberangkatku umroh. Aamiin…

Perjalanan ini, teramat manis untuk dilupakan begitu saja. Perlu dibuatkan prasasti sebagai pengingat diri yang faqir ilmu ini. Semoga hikmah dan coretan selama sembilan hari Allah mudahkan untuk dicatatkan menjadi sebuah buku. Aamiin… Semoga, Allah beri kesempatan lagi dan lagi untuk beribadah ke Baitullah. Dengan keluarga, dengan teman-teman seperjuangan, atau dalam rangka ibadah haji. Aamiin… Labbaik ya Allah….

Insprirasi Guru Lainya