Safari Masjid: Perpaduan Pendidikan Iman dan Social Lifeskill
Oleh : Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)
Tahun ini, adalah tahun perdana siswa full offline setelah drama pandemi Covid-19 berlangsung. Beragam program siswa dikemas cantik dan menarik dengan goal yang mengacu kepada Standar Kompetensi Lulusan atau SKL. Tak terkecuali dengan kegiatan Ramadhan siswa. Bulan yang istimewa dengan segudang keutamaannya, sayang bila tidak ada program penguatan keimanan untuk siswa. Oleh karena itu, disusunlah kegiatan Ramadhan Fest yang diikuti siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 SDIT Al Uswah Surabaya.
Adalah Safari Masjid namanya. Program lama yang baru terwujud sekarang. Beberapa bulan tepat sebelum virus nge-hits bernama Covid-19 bercokol di Indonesia, saya pernah punya keinginan program iktikaf ramadhan khusus siswa kelas 6. Lalu badai pandemi datang dan buyar-lah keinginan itu sampai tiga tahun kemudian kembali digaungkan.
Mengapa kelas 6?
Karena secara usia, siswa kelas 6 menginjak usia peralihan dari anak-anak ke usia pemuda. Saya tidak menggunakan istilah remaja, karena konotasi negatif melekat pada kata “remaja”, seperti labil, pemberontak, kaum rebahan dan sebagainya. Kata “pemuda” lebih tepat dan tentu saja lebih heroik. Sosok kaum yang kuat fisik, kreatif dengan karya dan aktif.
Siswa kelas 6, dianggap perlu untuk “keluar” dari zona nyaman sekolah. Mereka perlu berinteraksi dengan masyarakat di luar sana melalui kegiatan sekolah. Safari Masjid menjadi salah satu jawabannya.
Seratus dua siswa kelas 6 berkegiatan di enam masjid pada tanggal 12 dan 13 April 2022. Siswa hadir di masjid sesuai penempatan pada hari Rabu sore dan kembali ke rumah pada hari Kamis pagi. Keenam masjid yang menjadi sasaran kegiatan adalah Masjid Ittihad Semampir, masjid Manarul Ilmi ITS, masjid Al Iman Sutorejo, masjid Al Maghfirah Rungkut, masjid Al Mu’thi Semolowaru serta masjid Al Qudus Semolowaru.
Belajar iktikaf adalah target utama kegiatan siswa. Bagaimana menghidupkan malam-malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan memperbanyak tilawah, salat malam sertia zikrullah. Dengan bimbingan para guru dan pendamping kelompok dari kakak SMAIT Al Uswah Surabaya, siswa mendapatkan taujih penguatan iman.
Selain itu, siswa kelas 6, mendapat tantangan melayani masyarakat di masjid yang menjadi tempat iktikaf. Dengan arahan takmir masjid setempat, siswa membantu menyiapkan buka dan sahur. Mereka menuangkan air teh ke gelas, menata sandal, membagikan nasi bungkus serta mengatur antrian pembagian makanan berbuka dan sahur. Qodarullah, sore itu hujan sehingga halaman masjid basah terkena air hujan. Dengan sigap siswa juga membantu membersihkan halaman masjid.
Gabungan antara pendidikan iman dan social life skill, adalah poros utama kegiatan ini. Konsep hablum minallah dan hablum minannas seimbang. Tujuan besarnya, siswa menjadi hamba Allah yang bertaqwa dan berakhlak mulia. Hal ini sejalan dengan visi sekolah, “terwujudnya generasi muslim yang berakhlak mulia, berprestasi dan kreatif”.
Ada beberapa hal istimewa nan menggelitik terjadi selama agenda berlangsung. Pertama, cluster siswa yang bertempat di masjid Al Qudus bertemu dengan ketua yayasan Ukhuwah Islamiyah. Saat itu, Ustadz Indra Adji Sulisjono sedang mendampingi mahasiswa yang akan berlaga mewakili kampus. Sejenak, siswa kelas enam dan tim Ustadz Indra membaca zikir Al Matsurat bersama dalam satu lingkaran. Siswa kelas enam juga mendapat taujih sekaligus semangat dari Ustaz Indra Adji.
Kedua, cluster siswa yang bertempat di masjid Al Maghfirah bertemu dengan ibu-ibu pengajian majelis taklim. Para ibu majelis taklim meng-apresiasi kehadiran siswa kelas enam di masjid kebanggaan mereka. Mereka juga sempat mengabadikan momen melalui kamera ponsel.
Ketiga, cluster siswa yang berada di masjid Ittihad disambut amat baik oleh ketua takmir yang notabene adalah walimurid kelas 5D, Bapak Suparman. Guru pendamping, Ustadz Muhailil, mendadak didaulat untuk mengisi taujih menjelang berbuka puasa. Alhamdulillah beliau siap siaga.
Keempat, cluster siswa bertempat di masjid Al Mu’thi Semolowaru mendapat apresiasi dari ketua takmir, Bapak Dr. Uncoro. Beliau senang dan terkesan sekali dengan kehadiran siswa SDIT Al Uswah Surabaya. Aktivitas buka bersama yang biasanya jamaah mengambil makanan sendiri, dengan hadirnya siswa kelas 6 menjadi lebih tertib. Bapak Uncoro juga mempersilahkan bilamana sekolah akan mengadakan iktikaf dan mabit lagi pada hari-hari berikutnya.
Setidaknya, empat hal di atas yang tercatat. Masih banyak hal baik yang mungkin belum terekam dalam data. Berharap sekali aktivitas ini bisa menjadi penguat keimanan bagi siswa dan meninggalkan jejak kebaikan untuk pihak masjid.
Safari Masjid, semoga terus bisa dikembangkan ke depan. Tentunya dengan agenda yang lebih variatif dan melibatkan banyak kepentingan sosial. Siswa kita tidak hanya shalih tapi juga mushlih. Aamiin. (Neea Sweet)


