Sekolah Merdeka, Memerdekakan Belajar Siswa Sesuai Dengan Fitrahnya
Oleh : Diana Agustin Tri Nugrahaeni, S.Pd (Guru SD Al Uswah 2 Surabaya)
Sekolah yang merdeka mudah untuk diamati. Tinggal melihat ke dalam kelas dan perhatikan seberapa murid bertanya kepada gurunya, seberapa sering murid mencoba, dan seberapa sering murid berkarya. Parameter untuk menentukan sekolah yang merdeka terletak pada murid. Di dalam kelas yang merdeka, setiap murid memiliki suara. Siswa yang belajar merasa merdeka untuk belajar sesuai dengan gayanya, merdeka untuk bertanya guna memenuhi rasa ingin tahunya, dan merdeka untuk mengungkapkan pendapatnya. Ruang kelas yang merdeka ini akan diaplikasikan oleh guru yang menerapkan cara belajar yang merdeka.
Merdeka belajar yaitu salah satu upaya kemerdekaan dalam berpikir dan berekspresi. Pada dasarnya program merdeka belajar ini memiliki tujuan untuk memerdekakan guru dan siswa. Ini sejalan dengan semangat Ki Hajar Dewantara yaitu memerdekakan manusia khususnya dalam hal pendidikan. Karena setiap manusia tidak ada produk gagal dari Tuhan, dan setiap manusia punya keistimewaan dan punya ‘ruang’ masing-masing yang disediakan secara fitrah. Dan tugas kita adalah membantu anak menemukan ‘ruang’ yang sudah disediakan dalam kehidupan. Sehingga tidak ada anak yang tidak punya tempat dalam kehidupan.
Sekolah yang merdeka merupakan belajar yang merdeka adalah proses seorang individu menuju keselamatan dan kebahagiannya dari terbebasnya individu tersebut dari berbagai tekanan secara internal maupun secara eksternal diri. Proses pendidikan, menurut Ki Hadjar, diibaratkan sebagai proses bertani. Pengandaian ini selaras dengan kondisi Indonesia yang mayoritas penduduknya saat itu sebagai petani. Kita dapat mengambil kesimpulan, pendidikan harus berjalan sesuai dengan kondisi masyarakatnya, sesuai dengan perkembangan zaman dan disesuaikan untuk menyipkan siswa dalam kehidupannya di masa yang akan datang.
Pendidik, kata Ki Hadjar, seperti petani karena akan merawat bibit dengan cara menyiangi huma di sekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar tanamannya subur, dan buahnya melimpah. Namun, petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Untuk mencapai pendidikan yang memerdekakan, maka pendidikan hendaknya dapat menjadikan manusia merdeka pula.
Sebagaimana Ki Hadjar menyampaikan bahwa mendidik anak akan menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka tenaganya. Guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, akan tetapi harus juga mendidik si murid mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum. Sejalan dengan hal tersebut di atas, pemerintah menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Program Merdeka Belajar
Kurikulum Merdeka Belajar yang saat ini tengah digaungkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) diharapkan menjadi jawaban atas krisis pembelajaran yang semakin bertambah seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang menyebabkan kesenjangan pendidikan semakin meningkat. Lebih dari itu, hendaknya para guru makin memahami bahwa esensi Kurikulum Merdeka itu sendiri adalah menciptakan ruang bagi setiap individu atau peserta didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai fitraj keunikannya masing-masing.
Kurikulum adalah sebuah proses, iklim, suasana, budaya belajar yang memanusiakan manusia. Sehingga, tidak hanya kemampuan (skills) atau pengetahuan siswa saja yang dikedepankan oleh guru. Hendaknya guru bergerak bersama menyentuh hati peserta didik. Oleh karena itu, dalam Kurikulum Merdeka, guru diberi kebebasan untuk memilih format, pengalaman, dan materi esensial yang cocok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan dari sisi siswa, mereka punya ruang seluas mungkin untuk mengeksplor keunikan dirinya masing-masing.
Tolok ukur keberhasilan Kurikulum Merdeka dari sekolah yang merdeka adalah dari keceriaan, kebahagiaan anak dan kemampuan mereka berkolaborasi menyelesaikan beragam persoalan. Bagaimana lembaga Pendidikan atau sekolah mampu menciptakan budaya perilaku positif dalam mencetak SDM yang berkualitas dari waktu ke waktu sebagaimana nilai yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila

*) Penulis adalah pendidik di SD Al Uswah 2 Surabaya


