Sekolah Sebagai Partner Pendidikan Keluarga, Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Oleh : Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)

Berusaha menilai anak secara obyektif itu susah. Tentu saja, ada rasa kasih sayang seorang emak yang bermain, bahkan dominan. Tak jarang, kita sebagai orang tua yang (merasa) cakap ilmu, bisa mendidik anak orang lain namun mati kutu ketika harus berhadapan dengan anak sendiri.

Tidak tega, cinta tak bersyarat bahkan tidak mau anaknya sesusah emak bapaknya dulu, adalah sederet alasan atau bahkan pembenaran untuk menuruti semua keinginan anak. Menjadikan anak raja dan ratu kecil yang full service di rumah. Apalagi jika si anak termasuk anak mahal, paling bungsu, atau paling dinanti secara gender. Manusiawi. Namun, mau dibawa ke mana pola pendidikan si anak? Maka disitulah ada sekolah dan guru. Tempat orang tua menitipkan ketegaan dan ketegasan untuk mendidik si buyung menjadi pribadi yang lebih mandiri.

Guru akan lebih “tega” menegakkan kedisiplinan dan aturan. Catat ya, tega bukan kejam. “Kurikulum penderitaan”, mungkin terkesan jahat didengar, tak ramah anak. Namun sebenarnya itu adalah serangkaian pendidikan karakter yang menitikberatkan kepada problem solving, memberikan anak “masalah” atau tantangan untuk dipecahkan. “Masalah” atau tantangan itulah yang akan membuat si anak lebih matang, lebih dewasa dan pada akhirnya dia akan adaptif. Mampu bertahan pada situasi yang tidak nyaman. Masalah apa saja yang dibutuhkan siswa? Banyaaak…

Mari kita berpikir tentang lingkungan kelas. Dalam satu kelas, ada beragam siswa dengan karakter dan latar belakang yang juga beragam. Potensi konflik antar siswa cukup besar. Baru satu kelas. Belum termasuk kelas sebelah, atau jenjang kelas yang lebih muda, bahkan kakak kelas. Di sekolah, selain belajar sosialisasi, siswa juga belajar manajemen konflik. Apa saja yang harus dilakukan bila berbeda pendapat dengan teman, bertengkar bahkan bila ada teman yang memukul. Siswa belajar langsung alias praktik tanpa perlu banyak teori. Maka seringkali di kelas rendah, dijumpai konflik horizontal yang berakibat menangis. Pernah pula terjadi, gelut di lantai untuk siswa putra.

Apa yang dilakukan guru? Tentu saja guru yang baik tidak akan mendiamkan. Ada mekanisme islah atau mendamaikan sengketa. Ada mekanisme konseling juga. Bahkan sampai berkunjung ke rumah orang tua. Harapannya, guru mampu bersikap adil dalam menyelesaikan. Tidak memihak kepada salah satu siswa yang bertikai, even itu anak guru ataupun anak dari orang tua yang kerap berbagi makanan ke sekolah misalnya. Guru wajib menyampaikan secara lugas apa saja kesalahan siswa dan bagaimana memperbaikinya. Guru juga memastikan siswa kembali berteman dengan baik tanpa perlu memberi label negatif kepada siswa yang bertikai.

Apa yang dilakukan orang tua? Tentu saja bersabar adalah yang pertama. Tidak perlu terbawa emosi bahkan sampai harus melabrak orang tua dari rival anaknya. Mendengarkan versi anak sendiri memang perlu, namun jangan ditelan mentah-mentah. Karena itu dari sudut pandang si anak yang memang belum terlalu luas wawasannya.

Orang tua tidak perlu juga berapi-api menyampaikan ke media sosial bahwa anaknya di-bully dan sebagainya. Memahamkan diri sendiri bahwa kasus konflik antar siswa itu lumrah, wajar dan sudah ditangani oleh guru. Tugas orang tua, menguatkan dan memberikan makna pemahaman kepada anak di rumah. Peluk anak di rumah, lalu ajak dialog.

Teori kali ya? Benar. Praktiknya memang sulit. Saya sendiri pernah terbawa emosi ketika si sulung gelut dengan temannya ketika kelas 1. Ikut-ikutan benci lihat rival anak saya. Seiring dengan waktu, saya belajar dan sekarang lebih rileks. Tidak lagi overthinking. Bisa memilah mana yang perlu diperbaiki dari anak saya dan bagaimana berdialog dengan kepala dingin.

Wow! Itu baru bicara satu “masalah” berupa manajemen konflik. Belum bicara tentang pendidikan akil baligh, ibadah dan sebagainya. Begitu kompleksnya pendidikan kecakapan hidup yang diperoleh siswa di sekolah.

Suka dan tidak suka, pendidikan pertama seorang anak memang berawal dari keluarga. Guru pertama seorang anak manusia adalah orang tuanya. Sedangkan sekolah adalah partner orang tua dalam memaksimalkan performa pendidikan anak. Tempat “menempa” anak menjadi manusia yang tangguh. Maka, salah satu faktor keberhasilan anak secara akademik maupun emosi adalah adanya kerja sama yang baik antara sekolah dan orangtua.

Sekolah memberikan layanan terbaik untuk mendidik siswa secara sistemik. Terbaik di sini bukan berarti serba mewah dan memanjakan anak namun yang benar-benar dibutuhkan sesuai tahap perkembangan dan intelektualnya. Sekolah harus berani memainkan perannya sebagai kawah candradimuka tanpa harus didikte orang tua.

Orangtua tidak seharusnya acuh terhadap perkembangan anak di sekolah karena merasa anak sudah dalam pengawasan guru atau merasa “sudah membayar mahal sekolah”. Orangtua memantau sudah sejauh apakah perkembangan yang ditampilkan anak sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Ini yang paling penting, orang tua dan keluarga, memastikan apa yang sudah dipelajari di sekolah, juga diterapkan di rumah. Jangan sampai kita berteriak, anak-anak baiknya di sekolah saja tidak di rumah, sedangkan kita sendiri abai. Tidak ada kurikulum pendidikan di keluarga. Padahal, kurikulum keluarga itu paling penting.

Kerjasama yang baik antara sekolah, orang tua dan guru ini sangat diharapkan agar terciptanya generasi Rabbani yang dicita-citakan bersama. Generasi yang insyaAllah kelak memimpin Indonesia dengan keimanan. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2023. (Neea Sweet) 

Artikel Lainya