Jatuh Cinta dengan Buku
oleh : Sulaikah Kurniawati, S.Si.
tanggal : 17 September 2021
Jatuh cinta dengan laki-laki tamvan
mungkin mudah, tapi tidak mudah untuk bisa jatuh cinta dengan buku. Padahal
kita tahu dengan jelas segudang manfaat dari membaca dan menelaah isi buku.
Malas! Mungkin itu salah satu penghalang utamanya. Disamping ada juga alasan
tidak sempat atau tidak punya cukup waktu untuk membaca. Lebih baik cari duit
yang banyak daripada membaca buku.
Hm, baiklah.
Kita lebih memilih aktivitas yang lebih ringan untuk mengisi waktu-waktu
produktif seperti scrolling beranda
media sosial atau sekedar joged Tik Tok yang jelas unfaedah. Tak heran jika
indeks kegemaran membaca di Indonesia pada tahun 2020 berada di angka 55,74
poin atau kategori sedang. Survei ini dilakukan oleh Perpusnas melibatkan
10.200 responden di 34 provinsi di Indonesia yang bertujuan mengukur frekuensi
membaca, durasi membaca, dan jumlah buku yang dibaca. Yah, lumayan lah kategori
sedang.
Eits jangan senang dulu. Itu survey internal. Bagaimana dengan survey
internasional?
UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia,
artinya minat baca penduduk Indonesia sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat
baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari
1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!
Glek! Ampun deh.
Tapi ya begitulah kenyataannya.
Saya sampaikan juga survey ala-ala pengalaman saya ya.
Saya memiliki banyak WAG (WhatsApp Group) yang beranggotakan beragam guru
se Indonesia Raya. Dan dari grup-grup tersebut hampir dipastikan banyak broadcast message bersliweran tanpa tahu
kebenarannya. Setengah hoax setengah
benar.
Ketika penulis menyampaikan untuk menyertakan sumber aslinya, malah
marah-marah. Terus, gue harus bilang wow
gitu. Kesimpulannya, banyak dari kita, para guru, yang belum terbangun
budaya literasinya.
Seharusnya bagaimana lho cikgu? Jika itu informasi berupa berita, ya cek dulu
lah kebenaran nya. Kalau sudah yakin benar, baru dishare.
Mengingat kembali ayat Al-Qur’an pertama yang diturunkan itu diawali
dengan kata : Iqro’. Surat Al Alaq ayat 1-5. “Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Pencipta”
Allah memberikan sinyal kepada kita melalui surat cintanya untuk membaca.
Membaca ayat-ayat Kauniyah maupun Kauliyah. Membaca Al-Qur’an maupun membaca
buku ilmu pengetahuan.
Baiklah, banyak hal yang harus diperbaiki sepertinya supaya kita, dan
anak-anak kita baik anak biologis maupun anak ideologis, menjadikan membaca
sebagai aktivitas yang menyenangkan. Namun, mari kita cermati quote berikut ini
:”Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu. Mari
jatuh cinta (mata Najwa).
Hanya butuh satu buku untuk kita bisa jatuh cinta dengan aktivitas
membaca. Buku apa itu? Nah, itu tergantung selera masing-masing sih.
Awali saja dengan buku dengan tema yang sesuai minat kita.
Yang suka cerita fiksi, silakan memulai membaca buku novel. Banyak
pilihan novel bagus karya Tere Liye, Habiburrahman El shirazy atau Asma Nadia.
Boleh juga memilih buku yang lebih ringan seperti kumpulan cerpen.
Yang suka menggambar atau seni visual, boleh deh membaca komik atau
cergam dulu. Banyak juga pilihan komik Islami yang bisa jadi rujukan. Yang suka
sejarah, hm, Api Sejarah nya Ahmad Mansyur Suryanegara bisa tuh jadi rujukan
pertama. Tebel banget? Iya lah. Buku sejarah. Kita bisa menikmati hidangan pada
buku seperti menikmati pizza, sepotong demi sepotong. Atau yang suka humor,
boleh lah membaca buku-buku nya Raditya Dika.
Apa saja boleh dibaca, asal tidak membuat Allah marah. Silakan memilih
buku pertamanya untuk bisa jatuh cinta dengan buku. Menikmati hidangan buku
seperti menikmati pizza peperoni dengan mozarella nya. Sepotong demi sepotong.
Jika sudah jatuh cinta, maka, mata kita akan terbelalak hijau melihat
buku-buku di lemari orang. Ingin pinjam. He-he-he.
Selamat jatuh cinta kawan!


